Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Menhub Berikan Gambaran, Kereta Api Kalimantan akan Replikasi Model di Sumatera Selatan

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 28 Juni 2026 | 23:26 WIB

 

Kereta api mengangkut batu bara menuju terminal dan pelabuhan di Sumatera Selatan. Moda berbasis rel ini dinilai berhasil menekan biaya distribusi, meningkatkan daya saing industri pertambangan, serta mendorong investasi infrastruktur, sehingga dijadikan contoh pengembangan kereta logistik di Kalimantan.
Kereta api mengangkut batu bara menuju terminal dan pelabuhan di Sumatera Selatan. Moda berbasis rel ini dinilai berhasil menekan biaya distribusi, meningkatkan daya saing industri pertambangan, serta mendorong investasi infrastruktur, sehingga dijadikan contoh pengembangan kereta logistik di Kalimantan.

PONTIANAK POST – Pemerintah berupaya mereplikasi keberhasilan angkutan batu bara berbasis rel di Sumatera Selatan melalui pembangunan jaringan kereta logistik di Kalimantan. Proyek sepanjang 2.772 kilometer itu akan ditawarkan kepada investor swasta tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah membuka peluang bagi investor swasta, termasuk PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI, untuk berinvestasi apabila menilai proyek tersebut memiliki prospek bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan.

"Kita tawarkan kepada swasta untuk membangun itu (jaringan kereta api logistik di Kalimantan)," kata Dudy di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Dudy, model bisnis angkutan logistik kereta api di Sumatera Selatan telah membuktikan bahwa transportasi berbasis rel dapat berjalan secara komersial tanpa subsidi maupun skema kewajiban pelayanan publik (PSO).

Bisnis angkutan logistik di Sumatera Selatan bahkan menjadi salah satu penopang utama kinerja PT KAI dan memperkuat kemampuan perusahaan dalam mempertahankan pelayanan kereta api di berbagai wilayah lain, terutama di Pulau Jawa.

Data PT KAI menunjukkan angkutan batu bara menjadi tulang punggung bisnis logistik perusahaan. Sepanjang Januari-Oktober 2025, volume angkutan batu bara mencapai 47,78 juta ton atau sekitar 83 persen dari total angkutan barang KAI yang mencapai 57,56 juta ton. Sebagian besar batu bara tersebut diangkut dari Sumatera Selatan untuk memasok kebutuhan energi di Jawa dan Bali.

Dudy menjelaskan, model bisnis tersebut mencerminkan prinsip subsidi silang antarlini usaha sehingga operasional layanan dapat berjalan secara berkelanjutan dan efisien.

Dudy mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto mendorong agar pembangunan jaringan kereta logistik di Kalimantan segera direalisasikan sesuai kebutuhan nasional.

"Oh beliau (Presiden Prabowo) mendorong kereta logistik (di Kalimantan)," ujarnya.

Meski demikian, percepatan pembangunan tetap bergantung pada kesiapan investor. Menurut Dudy, pembangunan jaringan kereta api memerlukan investasi yang sangat besar serta perencanaan bisnis yang matang.

"Bangun kereta kan enggak murah itu," katanya.

Pemerintah merencanakan pembangunan sekitar 2.772 kilometer jalur kereta api di Kalimantan untuk memperkuat konektivitas dan mendukung distribusi logistik di pulau tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan rencana pembangunan tersebut masih dihitung dan dirancang secara matang.

"Rencana pembangunan jalur kereta api di Kalimantan masih kami hitung dan rencanakan secara matang," kata AHY beberapa hari lalu.

Pemerintah juga akan membentuk komite yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga guna menyempurnakan Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (Ripnas) agar selaras dengan kebutuhan pembangunan di Kalimantan.

Menurut AHY, hingga kini Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api, padahal pulau tersebut memiliki potensi sumber daya alam yang besar, terutama di sektor pertambangan dan perkebunan yang membutuhkan dukungan infrastruktur transportasi yang memadai.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai moda kereta api sangat efisien untuk mengangkut komoditas dalam volume besar dan jarak jauh. Integrasi antara jalur rel, pelabuhan, sungai, dan jalan raya dinilai mampu menciptakan sistem logistik multimoda yang lebih efisien.

Menurut dia, pembangunan kereta logistik berpotensi meningkatkan daya saing industri, memperkuat rantai pasok komoditas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan secara lebih merata.

Bagi Kalimantan, kehadiran kereta logistik bukan sekadar menghadirkan moda transportasi baru. Infrastruktur tersebut diproyeksikan membuka akses baru bagi sentra produksi batu bara, bauksit, alumina, dan perkebunan sawit di pedalaman menuju kawasan industri dan pelabuhan ekspor.

Kementerian Perhubungan menyebut biaya logistik Indonesia masih tergolong tinggi, yakni sekitar 14,29 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Di wilayah Kalimantan, distribusi barang masih sangat bergantung pada angkutan jalan dan transportasi sungai, sehingga biaya pengangkutan komoditas dalam jumlah besar relatif lebih mahal dan kurang efisien.

Pemerintah menilai pengembangan transportasi berbasis rel berpotensi menekan biaya logistik karena kereta api mampu mengangkut muatan dalam volume besar, beroperasi secara terjadwal, dan memiliki biaya operasional per ton-kilometer yang lebih rendah dibandingkan angkutan jalan untuk perjalanan jarak jauh.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat sebelumnya juga menyatakan bahwa pembangunan jaringan kereta api dapat menjadi solusi jangka panjang bagi distribusi komoditas unggulan seperti sawit, bauksit, dan alumina. Selain meningkatkan konektivitas menuju pelabuhan dan kawasan industri, moda berbasis rel diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada truk bertonase besar yang selama ini membebani jaringan jalan dan meningkatkan biaya pemeliharaan infrastruktur.

Keberhasilan angkutan kereta batu bara di Sumatera Selatan menjadi contoh bagaimana transportasi berbasis rel mampu berkembang secara komersial dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sejak mulai beroperasi pada 2011, layanan ini berkembang dari kerja sama dengan dua perusahaan tambang menjadi melayani sedikitnya 15 perusahaan batu bara pada 2023.

Pertumbuhan volume angkutan tersebut mendorong pembangunan jalur ganda, peningkatan kapasitas sejumlah stasiun, pembangunan stasiun baru, hingga modernisasi sistem persinyalan. Pengalaman Sumatera Selatan menunjukkan bahwa kereta logistik tidak hanya menjadi sarana angkut komoditas, tetapi juga menjadi katalis pengembangan infrastruktur, peningkatan efisiensi distribusi, dan penguatan daya saing industri berbasis sumber daya alam.

Pengalaman Sumatera Selatan menunjukkan bahwa kereta logistik dapat menjadi lebih dari sekadar moda transportasi. Kehadiran kereta batu bara di provinsi tersebut telah memicu investasi infrastruktur perkeretaapian, memperlancar distribusi komoditas, dan menopang aktivitas industri tambang secara berkelanjutan.

Model inilah yang ingin direplikasi pemerintah di Kalimantan, sebuah pulau yang juga kaya akan batu bara, bauksit, dan komoditas perkebunan, dengan harapan mampu menghadirkan sistem logistik yang lebih efisien sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. (ars)

 

(ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#jalur kereta api Kalimantan #biaya logistik Kalimantan #investasi swasta #kereta batu bara Sumatera Selatan #pt kai