Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Rusia Ungkap Indonesia Ternyata Belum Ajukan Permintaan Resmi soal PLTN

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 29 Juni 2026 | 22:55 WIB
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi yang dikembangkan Rusia melalui Akademik Lomonosov tersebut menjadi salah satu opsi pembangkit modular yang dikaji sejumlah negara untuk mendukung pasokan listrik rendah emisi dan ketahanan energi jangka panjang. ILUSTRASI/AI
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi yang dikembangkan Rusia melalui Akademik Lomonosov tersebut menjadi salah satu opsi pembangkit modular yang dikaji sejumlah negara untuk mendukung pasokan listrik rendah emisi dan ketahanan energi jangka panjang. ILUSTRASI/AI

PONTIANAK POST – Pemerintah Rusia menyatakan masih menunggu permintaan resmi dan rincian teknis dari Pemerintah Indonesia terkait impor minyak mentah maupun kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Kepastian tersebut disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergey Tolchenov di Jakarta, Rabu.

Menurut Tolchenov, Rusia pada prinsipnya siap memenuhi kebutuhan Indonesia. Namun, pembahasan kontrak baru dapat dilakukan setelah pemerintah maupun perusahaan Indonesia menyampaikan kebutuhan secara spesifik, mulai dari jenis minyak, volume, pelabuhan tujuan hingga mekanisme pembayaran.

"Kami memerlukan informasi yang lebih spesifik dari Pemerintah Indonesia maupun perusahaan-perusahaan Indonesia," ujar Tolchenov pada Rabu (24/6/2026), dilansir dari ANTARA.

Kontrak Bergantung pada Kebutuhan Indonesia

Tolchenov menjelaskan seluruh kerja sama perdagangan, termasuk minyak, gas, pangan, maupun komoditas lainnya, memerlukan pembahasan teknis yang rinci sebelum kontrak dapat disepakati.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergey Tolchenov memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/6/2026), terkait kesiapan Rusia menjalin kerja sama impor minyak mentah dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan Indonesia. (ANTARA/Cindy Frishanti)
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergey Tolchenov memberikan keterangan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (24/6/2026), terkait kesiapan Rusia menjalin kerja sama impor minyak mentah dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan Indonesia. (ANTARA/Cindy Frishanti)

Menurutnya, aspek teknis tersebut menjadi dasar penting agar kerja sama dapat berjalan sesuai kebutuhan kedua negara.

Indonesia Tetap Lanjutkan Impor Minyak Rusia

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan Indonesia tetap melanjutkan rencana impor minyak mentah dari Rusia meskipun jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali dibuka setelah meredanya ketegangan di Timur Tengah.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pengadaan minyak mentah dari Rusia menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat cadangan energi nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah menugaskan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (BBPMGB) Lemigas untuk menjalankan proses impor tersebut.

Pemerintah menargetkan realisasi impor sebanyak 150 juta barel minyak mentah dari Rusia secara bertahap hingga akhir 2026. Kebijakan itu merupakan tindak lanjut dari komitmen yang dibangun setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.

Berdasarkan Kementerian ESDM, penguatan ketahanan energi nasional masih menghadapi tantangan pada keterbatasan cadangan dan fasilitas penyimpanan BBM. Saat ini, kapasitas stok BBM Indonesia baru mampu memenuhi kebutuhan sekitar 21 hari, jauh di bawah standar internasasional yang berada pada kisaran 90 hari.

Karena itu, pemerintah mendorong diversifikasi sumber pasokan, pembangunan fasilitas penyimpanan (storage), serta pengadaan minyak mentah dari berbagai negara, termasuk Rusia, sebagai bagian dari strategi menjaga kesinambungan pasokan energi nasional.

Rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat, tetapi juga memasok sektor industri, pertambangan, serta bahan baku petrokimia. Pelaksanaan impor secara bertahap juga mempertimbangkan kapasitas fasilitas penyimpanan minyak yang masih terus diperkuat pemerintah.

Rusia Siap Dukung Pengembangan PLTN Indonesia

Selain sektor minyak, Rusia juga menyatakan kesiapan mendukung pembangunan PLTN di Indonesia. Namun hingga kini belum ada permintaan resmi yang menjelaskan lokasi, kapasitas maupun jenis pembangkit yang akan dibangun.

"Kami siap. Beri tahu apa yang ingin dibangun, di mana lokasinya, dan jenis pembangkitnya. Kami akan mengajukan proposal serta kontrak yang sesuai," kata Tolchenov.

Ia mengungkapkan CEO Rosatom, Alexey Likhachev, telah mengunjungi Indonesia untuk membahas peluang kerja sama teknis di bidang energi nuklir.

Menurut Tolchenov, pembangunan PLTN membutuhkan regulasi yang jauh lebih kompleks dibanding reaktor penelitian yang saat ini telah dimiliki Indonesia. Selain itu, proyek tersebut juga harus melalui koordinasi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta penetapan lembaga nasional yang akan menjadi operator proyek.

PLTN Terapung Masuk dalam Pembahasan

Tolchenov menyebut hasil diskusi antara Presiden Prabowo Subianto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Rosatom mengarah pada kemungkinan pengembangan PLTN terapung sebagai salah satu opsi untuk Indonesia.

Model tersebut dinilai dapat menjadi alternatif dalam mendukung pemerataan pasokan listrik di wilayah kepulauan, meski hingga kini belum ada keputusan final mengenai pelaksanaannya.

Ilustrasi PLTN terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi seperti Akademik Lomonosov milik Rusia menjadi salah satu model pembangkit modular yang mendukung transisi energi rendah karbon. ILUSTRASI/AI
Ilustrasi PLTN terapung berbasis kapal tongkang. Teknologi seperti Akademik Lomonosov milik Rusia menjadi salah satu model pembangkit modular yang mendukung transisi energi rendah karbon. ILUSTRASI/AI
 

Pemerintah Dorong Teknologi Nuklir untuk Ketahanan Energi

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono sebelumnya menyatakan Indonesia membuka peluang memperluas kerja sama teknologi nuklir damai dengan Rusia guna mendukung target swasembada energi dalam tiga tahun mendatang.

Dalam pertemuan tingkat tinggi ASEAN-Rusia di Kazan, Sugiono menegaskan pemerintah berkomitmen mempercepat pengembangan energi berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi yang aman.

Menurutnya, pengalaman panjang Rusia dalam pengembangan energi nuklir menjadi salah satu modal penting bagi kedua negara untuk menjajaki kerja sama di masa depan. (ars)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#impor minyak Rusia #PLTN terapung #kerja sama PLTN Indonesia-Rusia #nuklir #ketahanan energi nasional