PONTIANAK POST – Tiongkok mencatat rekor impor 1,868 juta ton durian segar sepanjang 2025, menjadikannya pasar terbesar dunia dengan nilai mencapai 8 miliar dolar AS atau sekitar Rp131 triliun. Di tengah tingginya permintaan tersebut, Indonesia mulai memperkuat langkah untuk merebut pangsa pasar melalui pengembangan 240 desa durian dan peningkatan ekspor ke Negeri Tirai Bambu.
Peluang tersebut muncul ketika konsumsi durian di China terus meningkat. Para pelaku industri memperkirakan jumlah konsumen kini telah melampaui 100 juta orang, sementara permintaan diprediksi masih terus bertumbuh.
Indonesia Mulai Perluas Jejak di Pasar China
Indonesia mulai menunjukkan keseriusannya memasuki pasar durian Tiongkok. Pada Januari 2026, kontainer pertama durian beku Indonesia tiba di Pelabuhan Qinzhou, Guangxi, menandai langkah awal memperluas ekspor ke pasar bernilai ratusan triliun rupiah tersebut.
Pemerintah juga mengembangkan 240 desa durian di berbagai daerah serta mulai menerapkan teknologi pintar untuk memantau kondisi kebun secara real-time. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas buah agar memenuhi standar pasar internasional.
Indonesia memiliki modal produksi yang besar untuk memasuki pasar durian China. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi durian nasional pada 2024 mencapai sekitar 1,96 juta ton, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sentra produksi tersebar di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian, dan Badan Karantina Indonesia kini memperkuat standar keamanan pangan, ketertelusuran (traceability), serta sertifikasi kebun dan rumah kemas guna memenuhi persyaratan ekspor ke Tiongkok.
Sebagai tindak lanjut pembukaan akses pasar, Badan Karantina Indonesia juga mempercepat pembentukan ekosistem ekspor durian. Setelah penandatanganan protokol ekspor durian beku dengan otoritas bea cukai China pada 2025, pemerintah mulai meningkatkan kapasitas rumah kemas, pemeriksaan karantina, hingga efisiensi logistik.
Thailand dan Vietnam Masih Memimpin Persaingan
Meski peluang pasar terbuka lebar, persaingan di China semakin ketat.
Vietnam menguasai sekitar 51 persen pangsa pasar berdasarkan volume impor. Sementara Thailand masih menjadi pemimpin dari sisi nilai perdagangan berkat reputasi durian Monthong yang dikenal sebagai "bantal emas".
Mengutip ANTARA, Penasihat Perdagangan Konsulat Jenderal Thailand di Nanning, Niti Pratoomvongsa, mengatakan keunggulan negaranya dibangun melalui pengalaman ekspor yang panjang, standar kualitas internasional, serta sistem logistik yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan pasar China.
Selain itu, pemerintah Thailand menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) mulai dari tingkat kebun hingga pelabuhan ekspor. Sistem tersebut didukung ketertelusuran produk serta pengawasan residu pestisida yang dilakukan bersama otoritas China.
Kualitas dan Ketertelusuran Jadi Kunci
Konsumen China kini tidak hanya mencari durian dengan rasa terbaik, tetapi juga memperhatikan asal-usul produk dan konsistensi kualitas.
Menurut Huang Meixia dari Charoen Pokphand (CP) Group, eksportir Thailand kini mengelompokkan durian ke dalam tiga kelas, yakni A, B, dan C.
Durian kategori A yang memiliki empat hingga lima juring terisi penuh menjadi produk dengan permintaan tertinggi. Standarisasi tersebut mendorong petani untuk terus meningkatkan kualitas budidaya agar mampu bersaing di pasar premium.
Tantangan terbesar bagi Indonesia bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan pasar China. Badan Karantina Indonesia menegaskan setiap kebun dan rumah kemas harus menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP), serta sistem traceability agar asal-usul produk dapat ditelusuri mulai dari kebun hingga proses ekspor. Sementara itu, Badan Pangan Nasional memastikan rumah kemas yang akan mengekspor durian wajib memenuhi standar keamanan pangan, sanitasi, higiene, serta pengujian residu pestisida sesuai ketentuan otoritas bea cukai China (GACC).
Logistik Menjadi Penentu Daya Saing
Kecepatan distribusi menjadi salah satu faktor utama dalam perdagangan durian.
Melalui Jalur Kereta China-Laos, durian Thailand kini dapat tiba di Kunming hanya dalam 26 jam. Pada musim panen, frekuensi perjalanan meningkat dari dua menjadi enam kali per hari sehingga buah dapat didistribusikan ke lebih dari 30 kota di China dalam waktu kurang dari 48 jam.
Efisiensi logistik tersebut membuat pasokan durian di China semakin stabil sepanjang tahun.
"Pasokan durian sebagian besar sudah stabil. Kini durian tersedia hampir sepanjang tahun," ujar Chairman TWT Supply Chain Wang Zhengbo.
Menurut Wang, pasar durian China masih jauh dari titik jenuh karena jumlah konsumennya terus meningkat.
Teknologi AI Mulai Mengubah Perdagangan Durian
Pelaku industri menilai penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai membawa perubahan besar dalam rantai pasok durian.
Mulai dari pemantauan kebun, pengendalian kualitas, sistem logistik, hingga distribusi, teknologi dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas buah yang diterima konsumen.
Transformasi digital tersebut diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam persaingan produsen durian Asia Tenggara di pasar global.
Dampaknya bagi Petani Indonesia
Besarnya permintaan China membuka peluang baru bagi petani durian Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen.
Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila produksi nasional mampu memenuhi standar ekspor, mulai dari kualitas buah, keamanan pangan, ketertelusuran produk, hingga efisiensi rantai pasok.
Dengan pengembangan desa durian, penerapan teknologi pertanian modern, dan peningkatan infrastruktur logistik, Indonesia berpeluang memperbesar kontribusinya di pasar durian China yang terus berkembang.
China merupakan importir durian terbesar di dunia dengan nilai pasar sekitar Rp131 triliun per tahun. Dominasi Thailand dan Vietnam menunjukkan bahwa kualitas produk, standar budidaya, serta logistik menjadi faktor utama memenangkan pasar.
Indonesia mulai membangun fondasi melalui pengembangan desa durian, penerapan teknologi pintar, dan ekspor durian beku sebagai langkah awal memperluas pangsa pasar di Negeri Tirai Bambu. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro