PONTIANAK POST – Vietnam dan Rusia sepakat mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di negara Asia Tenggara itu. Langkah tersebut membuat Vietnam semakin dekat memasuki era energi nuklir, sementara Indonesia masih berada pada tahap pembahasan dan kajian.
Duta Besar Vietnam untuk Rusia Dang Minh Khoi mengatakan kedua negara berharap pembangunan PLTN dapat segera dimulai. Menurutnya, pembahasan berbagai persoalan teknis juga diharapkan segera dituntaskan.
"Kedua belah pihak berharap dapat memulai pembangunan. Kedua belah pihak sepakat bahwa proses ini perlu dipercepat," ujar Dang Minh Khoi kepada RIA Novosti.
Dua Reaktor Nuklir Berkapasitas 2.400 MW
Rusia dan Vietnam pada Maret 2026 menandatangani perjanjian antarpemerintah mengenai pembangunan PLTN Ninh Thuan-1.
Perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom, menyebut proyek tersebut mencakup pembangunan dua reaktor VVER-1200 generasi 3+ rancangan Rusia. Masing-masing reaktor memiliki kapasitas 1.200 megawatt.
Dengan total kapasitas mencapai 2.400 megawatt, proyek tersebut menjadi salah satu langkah strategis Vietnam dalam menyiapkan pasokan energi jangka panjang.
Langkah Vietnam membangun PLTN didorong oleh kebutuhan energi yang terus meningkat. Pemerintah Vietnam memproyeksikan permintaan listrik nasional tumbuh sekitar 8–10 persen per tahun seiring ekspansi industri dan ekonomi digital. Dalam kondisi tersebut, energi nuklir dipandang sebagai salah satu sumber listrik andal untuk menopang kebutuhan energi jangka panjang.
Indonesia Masih Belum Memulai Pembangunan
Percepatan proyek PLTN Vietnam menjadi sorotan karena Indonesia selama bertahun-tahun telah membahas pemanfaatan energi nuklir, namun hingga kini belum memasuki tahap pembangunan fisik pembangkit.
Situasi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan Indonesia menghadapi persaingan energi dan industri di kawasan, terutama ketika sejumlah negara mulai menyiapkan sumber energi baseload berkapasitas besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Indonesia telah membahas pengembangan PLTN selama puluhan tahun dan memasukkannya dalam berbagai dokumen perencanaan energi nasional. Pemerintah kini menargetkan PLTN pertama beroperasi pada awal dekade 2030-an. Namun, hingga saat ini Indonesia masih berada pada tahap penyiapan regulasi, studi kelayakan, evaluasi tapak, serta penyusunan aspek lingkungan dan pembiayaan, sehingga belum memasuki fase pembangunan fisik.
Sejumlah ekonom energi menilai ketersediaan pasokan listrik jangka panjang merupakan faktor penting dalam menentukan daya saing investasi suatu negara. Kepastian energi dibutuhkan untuk mendukung ekspansi sektor manufaktur, pusat data, dan industri berteknologi tinggi yang membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil. Dalam konteks persaingan di Asia Tenggara, negara yang lebih cepat menyiapkan infrastruktur energi berpotensi memiliki keunggulan dalam menarik investasi baru.
Hubungan Strategis Vietnam-Rusia Kian Erat
Selain proyek nuklir, Vietnam juga berharap Presiden Rusia Vladimir Putin menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Vietnam pada 2027.
"Kami telah mulai melakukan persiapan untuk KTT APEC. Kami berharap Presiden Putin akan berkunjung dan berpartisipasi," kata Dang.
Sebelumnya, pejabat Vietnam Le Minh Hung bertemu Putin di sela KTT Rusia-ASEAN di Kazan pada 18 Juni dan menyampaikan undangan dari Presiden Vietnam To Lam untuk berkunjung ke negaranya serta menghadiri KTT APEC 2027.
Bagi Vietnam, percepatan pembangunan PLTN dan penguatan hubungan dengan Rusia menunjukkan upaya serius menyiapkan fondasi energi dan ekonomi jangka panjang. Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk menerjemahkan wacana energi nuklir menjadi proyek yang dapat diwujudkan. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro