PONTIANAK POST – Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Ridwan Bae, mendorong pembangunan jaringan perkeretaapian di Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari penguatan konektivitas nasional. Menurutnya, kehadiran kereta api akan memperlancar mobilitas masyarakat, memperkuat distribusi logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia tengah.
Ridwan mengungkapkan usulan pembangunan jalur kereta api di Sulawesi Tenggara sebenarnya telah lama disampaikan. Bahkan, trase atau rute awalnya sudah direncanakan dalam pengembangan jaringan transportasi nasional.
"Sulawesi Tenggara saya sudah pernah usul. Bahkan trase-nya sudah direncanakan," kata Ridwan di Jakarta, Jumat (3/7) dilansir dari ANTARA.
Investasi Jangka Panjang untuk Pemerataan Pembangunan
Meski demikian, Ridwan mengakui kajian visibilitas dan tingkat kelayakan proyek masih menjadi tantangan. Namun, ia menilai pembangunan infrastruktur transportasi di kawasan tengah Indonesia tetap menjadi kebutuhan yang mendesak.
Menurutnya, pembangunan jalur kereta api tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang yang dapat membuka peluang pertumbuhan ekonomi dan mempercepat pemerataan pembangunan daerah.
Data pemerintah menunjukkan jaringan kereta api di Pulau Sulawesi saat ini baru mencapai sekitar 109 kilometer. Sementara itu, kebutuhan tambahan jaringan perkeretaapian di pulau tersebut diperkirakan mencapai sekitar 3.284 kilometer. Pemerintah juga menargetkan pembangunan dan reaktivasi sekitar 14.000 kilometer jalur kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi sebagai upaya memperkuat konektivitas nasional, menekan biaya logistik, dan mengurangi ketimpangan antarwilayah.
Bagi Sulawesi Tenggara, kebutuhan penguatan konektivitas ini menjadi semakin penting mengingat besarnya potensi sektor industri, pertambangan, dan perdagangan yang memerlukan sistem transportasi massal untuk mengangkut penumpang maupun barang secara lebih efisien.
Tekan Biaya Logistik dan Perkuat Daya Saing
Ridwan mengatakan jaringan perkeretaapian diharapkan menjadi moda transportasi yang lebih efisien, aman, dan terintegrasi seiring berkembangnya aktivitas ekonomi di Sulawesi Tenggara.
Selain melayani angkutan penumpang, kereta api juga diproyeksikan memperkuat distribusi barang sehingga biaya logistik dapat ditekan dan konektivitas antarkawasan menjadi lebih efisien serta berdaya saing tinggi.
Sulawesi Tenggara dinilai memiliki potensi logistik yang besar, terutama dari sektor industri dan pertambangan. Karena itu, daerah tersebut membutuhkan sistem transportasi massal yang mampu mengangkut barang secara efektif dan berkelanjutan.
Kereta Api Diharapkan Buka Akses dan Peluang Baru
Bagi masyarakat, kehadiran kereta api tidak hanya menghadirkan pilihan transportasi baru, tetapi juga membuka akses ekonomi yang lebih luas. Distribusi hasil industri, pertambangan, dan komoditas unggulan daerah diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien.
Sejumlah kajian menunjukkan pembangunan jaringan kereta api di Sulawesi berpotensi menciptakan peluang ekonomi baru. Penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai proyek Kereta Api Trans Sulawesi menemukan bahwa kehadiran kereta api dipersepsikan dapat meningkatkan aksesibilitas, membuka peluang usaha, mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, serta meningkatkan nilai ekonomi kawasan di sekitar jalur perlintasan. Namun, penelitian tersebut juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dan mitigasi dampak sosial sejak tahap perencanaan.
Bagi pelaku usaha di Sulawesi Tenggara, jaringan perkeretaapian dinilai berpotensi menurunkan biaya distribusi dan mempercepat pengiriman komoditas unggulan daerah, terutama hasil pertambangan, pertanian, dan perikanan. Sementara bagi masyarakat, kehadiran kereta api diharapkan membuka akses yang lebih mudah terhadap pusat-pusat ekonomi, pendidikan, dan layanan publik di berbagai wilayah Sulawesi Tenggara.
Pemerintah Targetkan Pengembangan Jalur KA di Luar Jawa
Sebelumnya, Agus Harimurti Yudhoyono menyatakan pemerintah akan melakukan reaktivasi sekaligus pembangunan sekitar 14.000 kilometer jalur kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Menurut AHY, saat ini jalur kereta api di Pulau Sumatra mencapai 1.871 kilometer dan masih membutuhkan tambahan sekitar 7.837 kilometer. Sementara di Kalimantan belum terdapat jalur kereta api, meski kebutuhan minimal diperkirakan mencapai 2.772 kilometer.
Adapun di Sulawesi, panjang jalur kereta api yang tersedia saat ini baru sekitar 109 kilometer. Pemerintah memperkirakan kebutuhan tambahan jalur kereta api di pulau tersebut mencapai sekitar 3.284 kilometer.
Pemerintah pun mendorong percepatan pengembangan jaringan perkeretaapian di luar Pulau Jawa sebagai langkah strategis untuk menekan biaya logistik, mengurangi ketimpangan wilayah, dan memperkuat konektivitas nasional. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro