Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Kalbar Bisa Jadi Pusat Rare Earth Nasional Setelah Perminas Gandeng Midwest Limited India

Efprizan • Sabtu, 11 Juli 2026 | 08:59 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyambut kedatangan PM India Narendra Modi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6/7/2026). Salah satu poin pertemuan tersebut membahas kerja sama Indonesia dan India dalam pengembangan rare earth. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Presiden Prabowo Subianto menyambut kedatangan PM India Narendra Modi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6/7/2026). Salah satu poin pertemuan tersebut membahas kerja sama Indonesia dan India dalam pengembangan rare earth. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

PONTIANAK POST - Kalimantan Barat berpeluang menjadi salah satu daerah strategis dalam pengembangan industri logam tanah jarang (rare earth elements/LTJ) nasional setelah Indonesia menjalin kerja sama dengan India untuk membangun teknologi pemurnian dan hilirisasi mineral kritis yang dibutuhkan industri masa depan.

Peluang tersebut menguat karena Badan Industri Mineral (BIM) sebelumnya telah menetapkan Blok Melawi dan Blok Boyan Hulu di Kalimantan Barat sebagai kawasan yang memiliki potensi mineral kritis, termasuk logam tanah jarang dan antimon, yang dapat menopang pengembangan industri hilir di dalam negeri.

Kerja Sama RI-India Fokus pada Hilirisasi Rare Earth

Kerja sama pengelolaan logam tanah jarang dilakukan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), BUMN bentukan BPI Danantara, bersama perusahaan tambang asal India, Midwest Limited.

Kesepakatan strategis itu ditandatangani dalam pertemuan bilateral Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Baca Juga: Kerja Sama Mineral Kritis RI-India Buka Peluang Kalbar Kembangkan Logam Tanah Jarang

Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto mengatakan Indonesia dan India saat ini menjajaki kerja sama teknologi pemisahan serta pemurnian logam tanah jarang.

"Tim Perminas dan Badan Industri Mineral sudah beberapa kali ke India untuk melakukan pembicaraan terkait teknologi hilirisasi rare earth," kata Brian kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dilansir dari Bloomberg Technoz.

Menurut Brian, India memiliki kemampuan teknologi yang telah berkembang dalam pemurnian logam tanah jarang sekaligus pembangunan industri magnet yang menjadi komponen penting kendaraan listrik, energi bersih, hingga industri elektronik.

"Kami berharap Indonesia dapat membangun industri magnet dan fasilitas pemurnian rare earth melalui kerja sama dengan India," ujarnya.

Baca Juga: Blok Melawi dan Boyan Hulu Jadi Prioritas Eksplorasi Logam Tanah Jarang, Sebagian Lokasi Masuk Hutan Lindung

Brian menegaskan arah kerja sama tersebut bukan sekadar transfer teknologi, tetapi juga pembangunan fasilitas industri di Indonesia.

"Kami tentu akan membangun pabrik industri di Indonesia. Detail bentuk kerja samanya masih dimatangkan," katanya.

Kalbar Miliki Dua Blok Mineral Strategis

Bagi Kalimantan Barat, kerja sama tersebut membuka peluang besar apabila pemerintah mempercepat pengembangan potensi mineral kritis di daerah.

Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR pada Februari 2026, Brian Yuliarto menyebut Blok Melawi dan Blok Boyan Hulu masuk dalam daftar kawasan prioritas mineral kritis nasional.

Baca Juga: G7 Kurangi Ketergantungan pada China, Peluang Mineral Kritis dan Logam Tanah Jarang Indonesia Kian Besar

"Kemudian yang berikutnya adalah Blok Melawi, Blok Boyan Hulu, Blok Mamuju, dan Blok Bombana," ujar Brian sebagaimana dikutip Bloomberg.

Blok Melawi menjadi perhatian karena memiliki kandungan logam tanah jarang sekitar 81.720 ppm, tertinggi dibanding sejumlah blok LTJ lain yang dipetakan BIM.

Kawasan seluas sekitar 54.000 hektare tersebut dinilai berpotensi menjadi salah satu sumber utama bahan baku industri kendaraan listrik, energi terbarukan, teknologi digital, hingga industri pertahanan.

Sementara itu, Blok Boyan Hulu seluas 8.492 hektare dipetakan memiliki kandungan antimon berkadar 70 hingga 95 persen, mineral strategis yang digunakan dalam industri semikonduktor, baterai, elektronik, dan material tahan api.

Baca Juga: Percepat Hilirisasi Logam Tanah Jarang Nasional, BRIN Gandeng Universiti Teknologi Petronas

Meski demikian, sebagian wilayah Melawi maupun Boyan Hulu berada di kawasan hutan lindung sehingga setiap pengembangan eksplorasi harus melalui kajian lingkungan yang ketat.

Indonesia Masih Mengejar Teknologi Rare Earth

Guru Besar Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung sekaligus Chairman Indonesia Mining Institute, Prof. Irwandy Arif, mengatakan pengembangan logam tanah jarang di Indonesia masih berada pada tahap eksplorasi awal.

"Indonesia belum memiliki pengalaman yang memadai karena pengembangan LTJ masih berada pada tahap eksplorasi pendahuluan," ujar Irwandy dalam agenda Badan Industri Mineral.

Ia mengungkapkan Indonesia sebenarnya telah beberapa kali bekerja sama dengan perusahaan luar negeri untuk mengembangkan rare earth, tetapi seluruhnya belum mencapai skala ekonomi.

"Sampai sekarang Indonesia belum memiliki teknologi LTJ yang mencapai skala keekonomian," katanya.

Baca Juga: Mamuju Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang, Gubernur Sulbar: Masih Tahap Penelitian

Berdasarkan data 2023, Indonesia diperkirakan memiliki sumber daya logam tanah jarang sebesar 136,206 juta ton bijih atau setara sekitar 118.650 ton logam.

Saat ini pemerintah tengah membangun dua proyek percontohan pengolahan rare earth, yakni di Tanjung Ular, Bangka Belitung, dan Mamuju, Sulawesi Barat.

Apabila kerja sama Indonesia dan India berjalan sesuai rencana, Kalimantan Barat berpeluang menjadi salah satu daerah yang memperoleh manfaat dari percepatan hilirisasi mineral kritis nasional, mengingat potensi LTJ dan antimon yang dimilikinya telah masuk dalam peta strategis pemerintah. (*)

Editor : Efprizan
#rare earth Indonesia #Perminas #Blok Melawi #tanah jarang #Midwest Limited India