Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Kalbar Tertinggal Jauh Soal Transportasi Massal Berteknologi TInggi, Sarawak Sudah Siapkan Bus Otonom Berbasis Hidrogen

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 15 Juli 2026 | 23:44 WIB
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memimpin Rapat Majelis Energi Nasional 2026 di Kuala Lumpur, Rabu (15/7/2026). Dalam rapat tersebut, pemerintah mengumumkan percepatan transisi energi, termasuk pengembangan Autonomous Rapid Transit (ART) berbasis hidrogen di Sarawak. ANTARA/HO-Kantor Perdana Menteri Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim memimpin Rapat Majelis Energi Nasional 2026 di Kuala Lumpur, Rabu (15/7/2026). Dalam rapat tersebut, pemerintah mengumumkan percepatan transisi energi, termasuk pengembangan Autonomous Rapid Transit (ART) berbasis hidrogen di Sarawak. ANTARA/HO-Kantor Perdana Menteri Malaysia.

 

PONTIANAK POST – Ketika transportasi umum di Kalimantan Barat masih didominasi angkutan konvensional, negara bagian Sarawak, Malaysia, melangkah lebih jauh dengan menyiapkan Autonomous Rapid Transit (ART) atau sistem bus otonom berbasis hidrogen. Tahap pertama pembangunan pusat hidrogen untuk mendukung operasional ART ditargetkan rampung pada akhir 2026 sebagai bagian dari percepatan transisi energi dan modernisasi transportasi publik di Negeri Jiran.

Bagi masyarakat Kalimantan Barat yang kerap bepergian ke Kuching melalui jalur darat, perkembangan tersebut menjadi gambaran bagaimana investasi pada transportasi modern mulai mengubah wajah mobilitas di wilayah perbatasan. Di sisi lain, Kalbar masih menghadapi tantangan menghadirkan angkutan massal yang lebih terintegrasi, efisien, dan ramah lingkungan.

Sarawak Percepat Transportasi Masa Depan

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan pemerintah terus mempercepat transformasi sektor energi dan transportasi sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional.

Dalam Rapat Majelis Energi Nasional Malaysia 2026, Anwar menyebut kapasitas terpasang energi terbarukan Malaysia telah meningkat menjadi 31 persen hingga akhir 2025. Langkah itu ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara sekaligus mendukung penggunaan energi yang lebih bersih.

"Di Sarawak, tahap pertama pembangunan pusat hidrogen untuk sistem Autonomous Rapid Transit dijadwalkan rampung pada akhir tahun ini," kata Anwar dalam pernyataannya, Rabu (15/7/2026) dikutip dari ANTARA.

Selain proyek ART, Malaysia juga melaporkan telah mengoperasikan 250 bus listrik serta mengembangkan jaringan rel sepanjang 800 kilometer sebagai bagian dari transformasi transportasi publik nasional.

Proyek Kuching Urban Transportation System (KUTS) yang dikelola Sarawak Metro akan menggunakan sistem Autonomous Rapid Transit (ART) berbasis hidrogen sebagai tulang punggung transportasi publik di Kuching dan kawasan sekitarnya. Pada Tahap I, jaringan ART dirancang memiliki lintasan sepanjang sekitar 50,6 kilometer yang mencakup tiga koridor dengan 24 stasiun dan halte. Koridor tersebut menghubungkan Kuching, Kota Samarahan, hingga Serian sebagai kawasan metropolitan utama di Sarawak.

Dalam pengembangan jangka panjang, jaringan KUTS direncanakan diperluas menjadi sekitar 69,9 kilometer dengan 35 stasiun yang melayani empat koridor. Sarawak Metro menargetkan operasi komersial tahap awal dimulai pada akhir 2026, diawali pengoperasian sebagian Blue Line, sementara pengembangan koridor lainnya dilakukan secara bertahap hingga 2028.

Setiap rangkaian ART memiliki panjang sekitar 30 meter, mampu mengangkut hingga 300 penumpang, dan beroperasi dengan kecepatan maksimum sekitar 70 kilometer per jam. Kendaraan ini menggunakan ban karet dengan sistem pemandu digital (trackless tram) sehingga menawarkan fleksibilitas bus namun dengan kapasitas dan kenyamanan yang mendekati kereta ringan.

Bus Otonom Jadi Simbol Modernisasi

Autonomous Rapid Transit merupakan sistem angkutan massal tanpa rel yang memanfaatkan teknologi kendaraan otonom berpemandu digital. Kendaraan berjalan pada jalur khusus dengan emisi rendah karena menggunakan energi hidrogen.

Pemerintah Sarawak menempatkan proyek ini sebagai salah satu ikon pembangunan kota pintar (smart city) di Kuching sekaligus bagian dari komitmen mencapai target emisi karbon yang lebih rendah.

Autonomous Rapid Transit (ART) merupakan sistem angkutan massal tanpa rel fisik (trackless tram) yang menggunakan kendaraan listrik berbahan bakar hidrogen. Kendaraan ini bergerak di jalur khusus dengan bantuan sensor optik, kamera, radar, sistem navigasi presisi, dan komunikasi kendaraan-ke-infrastruktur (V2I) untuk mengikuti marka virtual di permukaan jalan.

Teknologi tersebut memungkinkan ART beroperasi dengan tingkat presisi tinggi tanpa memerlukan rel baja seperti pada sistem kereta ringan. Sarawak Metro menyebut pendekatan ini dipilih karena mampu memangkas waktu pembangunan dan biaya infrastruktur dibanding sistem rel konvensional. (Sumber: Sarawak Metro, Kuching Urban Transportation System/KUTS).

Setiap rangkaian ART memiliki panjang sekitar 30 meter, terdiri atas tiga gerbong yang saling terhubung dan mampu mengangkut hingga 300 penumpang dalam satu perjalanan. Kendaraan dirancang melaju dengan kecepatan operasional sekitar 40–60 kilometer per jam, dengan kecepatan maksimum mencapai 70 km/jam pada jalur tertentu. Seluruh armada menggunakan sel bahan bakar hidrogen (hydrogen fuel cell) sehingga emisi gas buang yang dihasilkan hanya berupa uap air.

Kalbar Masih Mengandalkan Angkutan Konvensional

Berbeda dengan Sarawak, transportasi umum di Kalimantan Barat hingga kini masih bertumpu pada angkutan kota, bus antarkota, dan kendaraan pribadi. Pontianak sebagai ibu kota provinsi juga belum memiliki sistem angkutan massal modern seperti Bus Rapid Transit (BRT), kereta perkotaan, maupun kendaraan otonom.

Kondisi tersebut membuat mobilitas masyarakat masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi, terutama untuk perjalanan di kawasan perkotaan.

Meski demikian, pemerintah terus mendorong peningkatan konektivitas melalui pembangunan jalan nasional, pengembangan Pelabuhan Kijing, serta rencana Jalan Tol Pontianak–Singkawang untuk memperlancar distribusi barang dan mobilitas masyarakat.

Kemajuan transportasi publik di Sarawak dinilai dapat menjadi referensi bagi Kalimantan Barat dalam merancang sistem mobilitas masa depan.

Kedekatan geografis kedua wilayah membuka peluang kerja sama yang lebih luas, tidak hanya di sektor perdagangan dan pariwisata, tetapi juga pertukaran pengetahuan mengenai pengembangan transportasi rendah emisi, pemanfaatan energi bersih, dan penerapan teknologi transportasi cerdas.

Apalagi hubungan Kalbar dan Sarawak semakin erat melalui berbagai proyek konektivitas lintas batas, mulai dari pengembangan PLBN Entikong dan PLBN Nanga Badau, rencana pembukaan rute bus Putussibau–Kuching, hingga kerja sama perdagangan dan energi.

Bagi masyarakat, kehadiran transportasi publik modern tidak hanya mempercepat waktu tempuh. Sistem yang terintegrasi juga dapat mengurangi kemacetan, menekan biaya perjalanan, memperbaiki kualitas udara, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap pusat pendidikan, layanan kesehatan, dan kawasan ekonomi.

Perkembangan di Sarawak menjadi pengingat bahwa investasi pada transportasi tidak hanya membangun jalan dan kendaraan, tetapi juga membentuk kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Autonomous Rapid Transit Sarawak bus otonom Sarawak transportasi Sarawak hidrogen Sarawak transisi energi Malaysia