Investasi Hilirisasi Bauksit Lampaui Nikel, Momentum Besar Ekonomi Kalbar

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 21:43 WIB
SMELTER: Kawasan industri aluminium di Kabupaten Mempawah. (ANTARA)
SMELTER: Kawasan industri Smelter Grade Alumina Refinery di Kabupaten Mempawah. (ANTARA)

PONTIANAK POST – Bauksit untuk pertama kalinya menggeser nikel sebagai komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia. Pada kuartal II 2026, investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun, melampaui nikel yang sebesar Rp29,4 triliun. Pergeseran tersebut menjadi momentum penting bagi Kalimantan Barat untuk mempercepat transformasi dari daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat industri aluminium nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan lonjakan investasi terjadi karena pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan bauksit oleh investor dalam dan luar negeri.

"Bauksit ini nomor satu, biasanya kita tahu selalu nikel. Ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan pabrik pengolahan bauksit," ujar Rosan usai melaporkan realisasi investasi Semester I 2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.

Hilirisasi Sumbang Hampir 30 Persen Investasi Nasional

Realisasi investasi nasional pada kuartal II 2026 mencapai Rp511,8 triliun. Dari jumlah tersebut, investasi hilirisasi menyumbang Rp152,7 triliun atau sekitar 29,8 persen, dengan pertumbuhan tahunan (year on year) sebesar 5,7 persen.

Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap pengembangan industri pengolahan sumber daya alam di dalam negeri.

Meski demikian, Rosan menegaskan hilirisasi bauksit masih berada pada tahap awal. Pemerintah menargetkan terbentuknya rantai industri yang terintegrasi sebagaimana telah berhasil dibangun pada komoditas nikel.

Kalbar Berpeluang Menjadi Basis Industri Aluminium

Dominasi investasi bauksit membawa arti strategis bagi Kalimantan Barat yang selama ini dikenal sebagai provinsi dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat Doni Septadijaya mengatakan hilirisasi perlu terus didorong hingga menghasilkan aluminium agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri.

"Salah satu yang bisa menjadi pendorong adalah hilirisasi, terutama terkait alumina. Dari bauksit menjadi alumina, kemudian alumina menjadi aluminium tentunya akan meningkatkan nilai tambah komoditas," katanya.

Menurut Doni, setiap tahapan pengolahan akan menciptakan aktivitas ekonomi baru, memperluas rantai pasok industri, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan produktivitas dan pendapatan daerah.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kalbar di kisaran 5–6 persen dapat dipertahankan dalam jangka panjang apabila hilirisasi berjalan optimal dan didukung pembangunan kawasan industri, kepastian investasi, serta infrastruktur logistik.

Momentum investasi tersebut juga didukung keberadaan proyek hilirisasi yang telah beroperasi di Kalimantan Barat. Di Kabupaten Mempawah, PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) telah mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) pertama milik Indonesia dengan kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun. Fasilitas ini mengolah sekitar 3 juta–3,3 juta ton bauksit per tahun sebagai bahan baku industri aluminium nasional.

Pemerintah dan MIND ID juga sedang mengembangkan SGAR Fase II di lokasi yang sama. Selain meningkatkan kapasitas produksi alumina, pengembangan tersebut akan diikuti pembangunan smelter aluminium di Mempawah sehingga rantai hilirisasi dapat terintegrasi, mulai dari bauksit, alumina, hingga aluminium.

Fasilitas terintegrasi tersebut ditargetkan mampu menghasilkan 1 juta ton alumina yang selanjutnya diolah menjadi sekitar 600 ribu ton aluminium per tahun, sehingga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium.

Selain SGAR PT BAI di Mempawah, Kalimantan Barat juga tengah mengembangkan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kabupaten Kayong Utara. Kawasan yang dikelola PT Dharma Inti Bersama (DIB) tersebut diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi bauksit terintegrasi yang mengolah bijih bauksit menjadi alumina hingga aluminium menggunakan teknologi Bayer dan Hall-Héroult. Proyek ini telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan diharapkan memperkuat rantai industri aluminium nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium.

Pengembangan Kawasan Industri Pulau Penebang juga diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di pesisir Kalimantan Barat. Selain menciptakan industri pengolahan mineral, proyek tersebut diharapkan membuka ribuan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kayong Utara dan wilayah sekitarnya.

Peluang Besar Disertai Tantangan

Di balik meningkatnya investasi, Kalbar masih menghadapi tantangan dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Sekretaris Daerah Kalbar Harisson sebelumnya mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Kalbar sebesar 6,14 persen pada triwulan I 2026 terutama ditopang sektor pertambangan yang tumbuh 34,14 persen. Tanpa sektor tersebut, pertumbuhan ekonomi daerah hanya sekitar 4,42 persen.

Ekonom Universitas Tanjungpura Prof. Dr. Eddy Suratman menilai keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi ataupun pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, investasi baru akan memberi manfaat nyata apabila mampu menciptakan lapangan kerja, menekan angka pengangguran, dan mengurangi kemiskinan.

Sementara itu, Ketua Kadin Kalbar Arya Rizqi Darsono menilai hilirisasi merupakan langkah penting agar manfaat pertambangan berkembang menjadi industri turunan yang mampu menggerakkan UMKM. Di sisi lain, Direktur WALHI Kalbar Sri Hartini mengingatkan percepatan hilirisasi tetap harus memperhatikan aspek lingkungan agar manfaat ekonomi tidak dibayar dengan kerusakan sumber daya alam. **

Fakta Investasi Hilirisasi Kuartal II 2026

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Bauksit Kalimantan Barat investasi hilirisasi bauksit investasi BKPM hilirisasi mineral Indonesia Industri Aluminium