Mentan Amran: Siap Rugi Berarti Siap Jadi Konglomerat, Tantang Generasi Muda Terjun ke Bisnis Pertanian

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:44 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan arahan kepada peserta Rakernas I Pengusaha Tani Indonesia (PTI) di Jakarta, Selasa (21/7/2026). Amran menegaskan keberanian menghadapi kerugian menjadi modal utama membangun pengusaha besar di sektor pertanian.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan arahan kepada peserta Rakernas I Pengusaha Tani Indonesia (PTI) di Jakarta, Selasa (21/7/2026). Amran menegaskan keberanian menghadapi kerugian menjadi modal utama membangun pengusaha besar di sektor pertanian.

 

PONTIANAK POST – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menantang generasi muda untuk tidak takut merugi jika ingin menjadi pengusaha sukses. Menurutnya, keberanian menghadapi risiko dan kegagalan merupakan modal utama membangun bisnis besar, termasuk di sektor pertanian.

Pesan itu disampaikan Amran saat menghadiri Pelantikan dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Pengusaha Tani Indonesia (PTI) di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

"Kalau mau menjadi pengusaha, yang Anda tunggu adalah rugi dulu. Minimal lima sampai sepuluh tahun. Begitu untung, hasilnya bisa berlipat. Siap rugi berarti siap jadi konglomerat," tegas Amran.

Kegagalan Jadi Guru Terbaik

Di hadapan pengusaha muda dan mahasiswa, Amran menilai kerugian bukan akhir dari perjalanan bisnis, melainkan proses yang membentuk karakter seorang entrepreneur.

Menurutnya, pengalaman menghadapi kegagalan memberikan pelajaran yang tidak diperoleh di bangku kuliah. Sebaliknya, mereka yang takut rugi akan sulit berkembang karena enggan mengambil peluang.

"Rugi itu adalah guru terbaik menuju sukses. Orang yang takut rugi tidak akan pernah menjadi pengusaha besar," ujarnya.

Pertanian Dinilai Lahirkan Banyak Konglomerat

Amran juga meluruskan anggapan bahwa sektor pertanian kurang menjanjikan bagi generasi muda. Ia menyebut sebagian besar konglomerat Indonesia justru membangun usahanya dari sektor berbasis pertanian, mulai dari pangan, perkebunan hingga industri pengolahan hasil pertanian.

"Hampir 80 persen konglomerat Indonesia bergerak di sektor berbasis pertanian. Artinya, pertanian adalah sektor yang menjanjikan jika dikelola dengan kerja keras, inovasi, dan keberanian mengambil risiko," katanya.

Karena itu, ia mendorong Pengusaha Tani Indonesia menjadi wadah lahirnya pengusaha muda yang mampu mengembangkan pertanian modern di berbagai daerah.

Kementan Siap Dampingi Wirausaha Muda

Amran menegaskan Kementerian Pertanian siap berkolaborasi dengan PTI untuk mempercepat lahirnya wirausaha muda melalui pendampingan, pemanfaatan teknologi modern, serta pengembangan kawasan percontohan.

Ia juga mengajak generasi muda mengoptimalkan lahan produktif dan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi desa.

"Bangunkan lahan tidur, hidupkan pemuda, hidupkan desa. Jadilah teladan. Kalau pertanian dikelola secara modern dan profesional, saya yakin akan lahir semakin banyak pengusaha besar dari sektor pertanian Indonesia," ujarnya.

Karakter Jadi Modal Utama Pengusaha

Menutup arahannya, Amran menekankan bahwa karakter menjadi aset terpenting dalam membangun usaha. Menurutnya, keberanian menghadapi kegagalan, disiplin, kerja keras, dan semangat pantang menyerah menjadi pembeda antara pengusaha yang sukses dan yang berhenti di tengah jalan.

"Kalau kehilangan uang, Anda tidak kehilangan apa-apa. Kalau kehilangan semangat, Anda kehilangan sesuatu. Tetapi kalau kehilangan karakter, Anda kehilangan segalanya," pungkasnya.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
petani amran sulaiman pertanian konglomerat mentan