Tetangga Kalbar Gencarkan Angkutan Massal Modern: Kuching Perbanyak Bus Otonom Hidrogen

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 23:04 WIB
Anwar Ibrahim
Anwar Ibrahim

 

PONTIANAK POST – Sarawak, Malaysia, melangkah ke era baru. Negara bagian yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat itu menargetkan tahap pertama pembangunan pusat hidrogen untuk mendukung operasional Autonomous Rapid Transit (ART) atau bus otonom berbasis hidrogen rampung pada akhir 2026.

Perkembangan tersebut menjadi kontras bagi masyarakat Kalimantan Barat yang selama ini kerap bepergian ke Kuching melalui jalur darat. Di satu sisi, Sarawak mulai menyiapkan sistem transportasi publik berteknologi tinggi dan rendah emisi.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan transformasi sektor energi dan transportasi menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional menuju ekonomi rendah karbon.

Dalam Rapat Majelis Energi Nasional Malaysia 2026, Anwar mengungkapkan kapasitas terpasang energi terbarukan Malaysia telah mencapai 31 persen hingga akhir 2025. Pemerintah memanfaatkan momentum tersebut untuk mempercepat penggunaan energi bersih, termasuk pada sektor transportasi.

"Di Sarawak, tahap pertama pembangunan pusat hidrogen untuk sistem Autonomous Rapid Transit dijadwalkan rampung pada akhir tahun ini," ujar Anwar dalam pernyataannya, Rabu (15/7), dikutip dari ANTARA.

Selain menyiapkan infrastruktur hidrogen, Malaysia juga melaporkan telah mengoperasikan sekitar 250 unit bus listrik dan terus memperluas jaringan perkeretaapian sepanjang lebih dari 800 kilometer sebagai bagian dari modernisasi transportasi publik nasional.

Kuching Bangun Transportasi Masa Depan

Proyek Kuching Urban Transportation System (KUTS) yang dikelola Sarawak Metro akan menjadikan Autonomous Rapid Transit (ART) berbasis hidrogen sebagai tulang punggung transportasi publik di Kuching dan kawasan metropolitan sekitarnya.

Pada tahap pertama, jaringan ART dibangun sepanjang sekitar 50,6 kilometer yang mencakup tiga koridor dengan 24 stasiun dan halte. Jalur tersebut menghubungkan Kuching, Kota Samarahan, hingga Serian.

Dalam pengembangan jangka panjang, jaringan itu akan diperluas menjadi sekitar 69,9 kilometer dengan 35 stasiun yang melayani empat koridor utama. Sarawak Metro menargetkan layanan komersial tahap awal mulai beroperasi pada akhir 2026 melalui sebagian lintasan Blue Line, sebelum seluruh jaringan dikembangkan bertahap hingga 2028.

Setiap rangkaian ART memiliki panjang sekitar 30 meter dengan tiga gerbong yang saling terhubung. Kendaraan mampu mengangkut hingga 300 penumpang dalam satu perjalanan dan melaju dengan kecepatan operasional sekitar 40–60 kilometer per jam, serta kecepatan maksimum 70 kilometer per jam.

Berbeda dengan kereta ringan (LRT), ART menggunakan ban karet dan tidak memerlukan rel baja. Kendaraan bergerak mengikuti marka virtual di permukaan jalan melalui kombinasi sensor optik, kamera, radar, sistem navigasi presisi, serta komunikasi kendaraan-ke-infrastruktur (vehicle-to-infrastructure/V2I).

Teknologi trackless tram tersebut dipilih karena dinilai mampu memangkas biaya pembangunan dan mempercepat waktu konstruksi dibandingkan sistem rel konvensional.

Hanya Menghasilkan Uap Air

Keunggulan lain ART terletak pada sumber energinya. Seluruh armada menggunakan hydrogen fuel cell sehingga tidak menghasilkan emisi karbon saat beroperasi.

Gas buang kendaraan hanya berupa uap air, menjadikannya salah satu moda transportasi publik paling ramah lingkungan yang tengah dikembangkan di kawasan Asia Tenggara. Pemerintah Sarawak menempatkan proyek ART sebagai ikon pembangunan smart city di Kuching sekaligus bagian dari target menurunkan emisi karbon melalui pemanfaatan energi bersih. (ars/ant)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Autonomous Rapid Transit (ART) transportasi massal modern kalbar Sarawak kuching