PONTIANAK POST – Pemerintah membidik peluang ekspor beras ke Malaysia dan Singapura setelah produksi nasional mengalami surplus dan cadangan beras pemerintah mencapai level tertinggi. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menilai kenaikan harga beras dunia menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor tanpa mengganggu ketahanan pangan dalam negeri.
"Indonesia akan mengambil celah saat harga beras dunia naik. Indonesia pasti akan mengambil celah ke sana karena ada beberapa negara minta impor. Sementara masih dalam tahap negosiasi," kata Amran, Kamis (16/7).
Menurut Amran, peluang ekspor tersebut didukung kondisi produksi nasional yang terus meningkat sehingga Indonesia memiliki surplus beras. Saat ini, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai sekitar 5,3 juta ton, memungkinkan pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri sekaligus membuka peluang memasuki pasar ekspor.
Ia mengungkapkan, sejumlah negara telah menyampaikan permintaan impor beras dari Indonesia. Di antaranya Malaysia dan Singapura yang kini masih menjalani proses penjajakan dan negosiasi dengan pemerintah Indonesia.
Amran menegaskan, arahan Presiden Prabowo Subianto tetap mengutamakan penguatan swasembada pangan. Ekspor hanya dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri dipastikan aman, sembari mendorong hilirisasi sektor pertanian untuk meningkatkan nilai tambah produk nasional.
Bulog Percepat Negosiasi
Menindaklanjuti arahan tersebut, Perum Bulog bergerak mempercepat pembahasan teknis dengan Malaysia dan Singapura, termasuk mengejar kepastian harga dan mekanisme perdagangan. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya telah mendapat instruksi untuk segera melakukan negosiasi lanjutan dengan kedua negara.
"Kita segera tindak lanjuti atas perintah Bapak Mentan untuk langsung mengejar bola ke Malaysia maupun ke Singapura, untuk tindak lanjuti kepastian harga dan lain sebagainya," ujar Rizal, belum lama ini.
Namun hingga kini, Bulog belum dapat melakukan kunjungan ke Malaysia karena masih menunggu kesiapan pemerintah setempat menerima delegasi Indonesia.
"Kami belum ke sana karena di sana belum siap. Tapi kami kejar terus supaya mereka siap menerima kami sehingga ada kepastian harga dan kesepakatannya," katanya.
Menurut Rizal, komunikasi dengan Pemerintah Malaysia terus dilakukan agar pembahasan dapat segera menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan kedua negara. Ia juga menegaskan arahan Presiden Prabowo agar harga ekspor tidak merugikan petani dan tetap memberikan manfaat bagi negara.
Sarawak Jadi Pasar Strategis
Malaysia, khususnya Sarawak, dipandang sebagai pasar yang strategis bagi beras Indonesia. Selain memiliki kebutuhan impor, wilayah tersebut berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat sehingga distribusi logistik dinilai lebih efisien melalui jalur darat maupun laut.
Bulog bersama Kementerian Pertanian juga berencana melakukan kunjungan ke Sarawak untuk membahas rencana ekspor sekitar 200 ribu ton beras ke negara bagian tersebut. Hingga kini, pembahasan masih difokuskan pada negosiasi harga sebelum kontrak perdagangan disepakati.
Selain Malaysia, pemerintah juga menyiapkan ekspor 10 ribu ton beras ke Singapura. Rencana tersebut telah dibahas dalam pertemuan bilateral Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu pada akhir Juni lalu.
Pemerintah optimistis peluang ekspor semakin terbuka karena didukung tren produksi yang terus meningkat. Mengacu pada proyeksi FAO Food Outlook Juni 2026, produksi beras Indonesia musim 2026/2027 diperkirakan mencapai 38,6 juta ton, meningkat dibandingkan musim 2024/2025 yang sebesar 34 juta ton.
Di saat sejumlah negara produsen mengalami penurunan produksi akibat tekanan iklim, Indonesia justru mencatat peningkatan produksi sehingga memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia.
Bagi Kalimantan Barat, rencana ekspor ke Sarawak bukan hanya membuka pasar baru bagi beras Indonesia, tetapi juga berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan. (ars/ant)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro