Kalbar Kian Strategis dalam Hilirisasi Bauksit, SGAR Mempawah Jadi Penopang Pergeseran Investasi Nasional

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 14:49 WIB
Ilustrasi penambangan bauksit di kalbar. (ANTARA)
Ilustrasi penambangan bauksit di kalbar. (ANTARA)

PONTIANAK POST - Kalimantan Barat semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pusat hilirisasi bauksit nasional. Lonjakan investasi pengolahan bauksit pada kuartal II 2026 turut mempertegas peran provinsi ini dalam pengembangan industri mineral.

Pemerintah mencatat bauksit untuk pertama kalinya menggeser nikel sebagai komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyebut investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026.

Baca Juga: Hilirisasi Diklaim Serap 742.263 Pekerja, Investasi Bauksit di Kalbar Melonjak 193 Persen pada Kwartal II 2026

Nilai tersebut meningkat sekitar 193 persen dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar Rp13,7 triliun.

“Kalau kita lihat, biasanya nikel selalu di nomor satu. Nah sekarang ada shifting. Bauksit menjadi nomor satu karena memang ada beberapa pembangunan smelter bauksit, baik yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri,” kata Rosan, Selasa (21/7).

SGAR Mempawah Jadi Proyek Strategis

Salah satu proyek yang memperkuat posisi Kalimantan Barat adalah pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Kabupaten Mempawah.

Fasilitas yang dikembangkan Grup MIND ID melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) itu memiliki kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun dengan kebutuhan bahan baku sekitar 3,3 juta ton bauksit setiap tahun.

Baca Juga: Investasi Hilirisasi Bauksit Melonjak 193 Persen, Kalimantan Barat Jadi Salah Satu Penggerak Industri Pengolahan Mineral Nasional

Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit di dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor alumina sebagai bahan baku industri aluminium.

Tak Hanya Smelter, Industri Turunan Jadi Tantangan

Meski investasi terus meningkat, DPR RI mengingatkan agar pengembangan hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter.

Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno mengatakan investasi pengolahan bauksit perlu diikuti dengan pengembangan industri hilir agar nilai tambah mineral dapat dimaksimalkan di dalam negeri.

“Kami berharap investasi smelter bauksit juga diikuti pengembangan industri hilir dari bauksit agar negara dapat memaksimalkan nilai tambah dari produk turunannya,” ujarnya.

Menurut Eddy, keberlanjutan hilirisasi hingga industri aluminium akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar, termasuk menciptakan lapangan kerja berkualitas dan meningkatkan daya saing industri nasional.

Daerah Penghasil Diminta Ikut Merasakan Dampak

Selain pengembangan industri hilir, perhatian juga diarahkan pada manfaat yang diterima daerah penghasil mineral.

Baca Juga: PSN Pulau Penebang Disiapkan Olah Bauksit hingga Aluminium, Ini Perannya bagi Hilirisasi Kalbar

Anggota Komisi XII DPR RI Syarif Fasha meminta pemerintah memastikan daerah penghasil memperoleh haknya melalui kebijakan fiskal yang adil, termasuk dana bagi hasil sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Yang perlu diperhatikan pemerintah adalah menjaga dengan baik daerah penghasil sumber daya dan para pengelolanya. Misalnya dana bagi hasil untuk daerah jangan dipotong atau terus diutangi, serta berikan hak daerah sesuai undang-undang yang berlaku,” katanya.

Peran Kalbar Diperkirakan Terus Menguat

Dengan beroperasinya SGAR Mempawah dan meningkatnya investasi pengolahan bauksit, Kalimantan Barat diproyeksikan tetap menjadi salah satu wilayah strategis dalam rantai pasok industri aluminium nasional.

Namun, perhatian terhadap hilirisasi tidak hanya tertuju pada besarnya investasi maupun pembangunan smelter.

Baca Juga: Investasi Hilirisasi Bauksit Lampaui Nikel, Momentum Besar Ekonomi Kalbar

Pengembangan industri turunan, penciptaan lapangan kerja yang berkelanjutan, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat di daerah penghasil menjadi aspek yang akan menentukan keberhasilan program hilirisasi dalam jangka panjang.

Editor : Miftahul Khair
bauksit kalbar Industri aluminium Kalbar investasi Hilirisasi Bauksit SGAR Mempawah