Pabrik Gula di Kalbar Berpotensi Buka Lapangan Kerja Baru, Pelabuhan Kijing Bisa Jadi Penentu Investasi

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 14:45 WIB
Ekspor perdana terminal kijing ke pasar internasional.
Ekspor perdana terminal kijing ke pasar internasional.

PONTIANAK POST - Rencana investasi pabrik gula di Kalimantan Barat tidak hanya diproyeksikan menambah kapasitas industri pengolahan, tetapi juga berpotensi membuka lapangan kerja baru di kawasan perbatasan.

Peluang itu disampaikan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Barat dalam rapat koordinasi daring bersama Kementerian Perdagangan, Selasa (22/7).

Dalam forum, Kadin Kalbar memaparkan rencana pengembangan industri gula sebagai bagian dari upaya mendorong investasi di daerah. Kehadiran industri baru dinilai dapat memberikan nilai tambah terhadap aktivitas ekonomi di Kalimantan Barat, terutama melalui penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga: Kejar Swasembada Gula 2 Tahun, Mentan Amran Siapkan Peremajaan 298 Ribu Hektare Tebu

Industri Gula Dinilai Berpotensi Serap Tenaga Kerja

Kadin Kalbar menyampaikan bahwa pembangunan pabrik gula tidak hanya berkaitan dengan pengolahan bahan baku, tetapi juga berpotensi menciptakan peluang kerja pada berbagai sektor yang terlibat dalam rantai industri.

Disamping mendukung kegiatan produksi, keberadaan industri gula juga diharapkan mendorong aktivitas ekonomi di kawasan perbatasan serta memperkuat sektor pengolahan hasil pertanian di Kalimantan Barat.

Dalam pembahasannya, Kadin menjelaskan pasokan bahan baku dapat diperoleh melalui pengembangan budidaya tebu di Kalimantan Barat yang dipadukan dengan impor raw sugar atau gula setengah jadi dari Malaysia.

Pelabuhan Kijing Jadi Faktor Penting

Menurut Kadin Kalbar, realisasi investasi tersebut berkaitan dengan efisiensi distribusi bahan baku. Karena itu, Pelabuhan Internasional Kijing dinilai memiliki peran penting apabila ditetapkan sebagai pelabuhan pintu masuk impor.

Baca Juga: Investor Siap Bangun Pabrik Gula di Perbatasan Kalbar-Malaysia, Kadin Minta Buka Akses Pelabuhan Kijing untuk Pintu Bahan Baku

Saat ini, bahan baku impor masih harus masuk melalui pelabuhan lain seperti Tanjung Priok, Tanjung Perak, atau Belawan sebelum dikirim ke Kalimantan Barat. Rantai distribusi menambah biaya logistik sekaligus memperpanjang waktu pengiriman.

Kadin menilai, apabila bahan baku dapat langsung masuk melalui Pelabuhan Internasional Kijing, proses distribusi menuju kawasan industri di Kalimantan Barat akan menjadi lebih efisien.

Investor Mulai Menjajaki Peluang

Dalam kesempatan yang sama, Kadin Kalbar juga menyampaikan bahwa sudah terdapat investor yang menunjukkan minat membangun industri gula di Kalimantan Barat.

Pembahasan mengenai investasi tersebut menjadi bagian dari usulan penguatan iklim investasi yang disampaikan kepada Kementerian Perdagangan.

Kadin berharap agenda misi bisnis Pemerintah Provinsi Jawa Timur ke Kalimantan Barat pada 12 Agustus 2026 dapat mempertemukan calon investor dengan pelaku usaha daerah. Pemilik salah satu pabrik gula terbesar di Jawa Timur dijadwalkan hadir untuk menjajaki peluang kerja sama investasi.

Baca Juga: Kemendag Lepas Ekspor Gula Kelapa ke Amerika Serikat Senilai Rp822 Juta

Bagi Kadin Kalbar, keberadaan Pelabuhan Internasional Kijing sebagai pintu masuk impor tidak hanya berkaitan dengan kelancaran distribusi bahan baku.

Optimalisasi pelabuhan juga dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung realisasi investasi industri baru, termasuk peluang terbukanya lapangan kerja di Kalimantan Barat.

Editor : Miftahul Khair
investasi Kalbar ekspor Kadin Kalbar pelabuhan kijing pabrik gula