Kalbar dan Kaltara Masuk Peta Hilirisasi Nasional, Bauksit dan Kawasan Industri Hijau Jadi Andalan

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 14:11 WIB
Ilustrasi kawasan industri hijau di Kaltara. (MONGABAY)
Ilustrasi kawasan industri hijau di Kaltara. (MONGABAY)

PONTIANAK POST - Program hilirisasi yang dijalankan pemerintah terus mendorong pengembangan industri pengolahan sumber daya alam di sejumlah daerah, termasuk Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Utara (Kaltara).

Kedua provinsi tersebut memiliki proyek yang masuk dalam pengembangan hilirisasi nasional, meski dengan fokus yang berbeda.

Kalimantan Barat menjadi salah satu daerah penghasil bauksit yang telah memiliki fasilitas pengolahan alumina.

Baca Juga: Kalbar Kian Strategis dalam Hilirisasi Bauksit, SGAR Mempawah Jadi Penopang Pergeseran Investasi Nasional

Sementara Kalimantan Utara mengembangkan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) atau Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning - Mangkupadi di Kabupaten Bulungan.

Investasi Bauksit Meningkat

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 mencapai Rp40,1 triliun. Nilai tersebut meningkat 193 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp13,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan capaian tersebut menjadikan bauksit sebagai komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar pada kuartal II 2026, melampaui nikel yang selama ini mendominasi sektor pengolahan mineral.

Menurut Rosan, peningkatan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam negeri maupun luar negeri.

Baca Juga: Hilirisasi Diklaim Serap 742.263 Pekerja, Investasi Bauksit di Kalbar Melonjak 193 Persen pada Kwartal II 2026

Kalbar Kembangkan Industri Pengolahan Bauksit

Salah satu proyek yang disebut mendukung hilirisasi bauksit berada di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yakni Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I yang dikembangkan oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Berdasarkan data BKPM, fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun dengan kebutuhan bahan baku sekitar 3,3 juta ton bauksit setiap tahun.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kabupaten Kayong Utara sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang direncanakan menjadi kawasan pengembangan industri berbasis bauksit hingga aluminium.

Kaltara Kembangkan Kawasan Industri Hijau

Di Kalimantan Utara, pemerintah mengembangkan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) atau KIPI Tanah Kuning - Mangkupadi di Kabupaten Bulungan. Kawasan tersebut merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang diproyeksikan menjadi kawasan industri terpadu berbasis energi dan industri pengolahan.

Berdasarkan laman Warta Kaltara (9/7), Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara juga terus mendorong pengembangan kawasan tersebut, termasuk menyiapkan keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok kawasan industri.

Pengembangan proyek hilirisasi di Kalbar dan kawasan industri di Kaltara merupakan bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui pengolahan di dalam negeri.

Baca Juga: Investasi Hilirisasi Bauksit Melonjak 193 Persen, Kalimantan Barat Jadi Salah Satu Penggerak Industri Pengolahan Mineral Nasional

Perkembangan proyek-proyek tersebut akan bergantung pada realisasi investasi, pembangunan infrastruktur pendukung, serta pelaksanaan tahapan proyek di masing-masing daerah.

Editor : Miftahul Khair
Investasi bauksit Industri Hijau Proyek Strategis Nasional Hilirisasi Bauksit