PONTIANAK POST - Kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Xiamen University, Tiongkok, dalam mengembangkan teknologi pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi biofuel dan material penyimpan energi membuka peluang besar bagi Kalimantan Barat (Kalbar) untuk mempercepat hilirisasi komoditas kelapa yang selama ini masih didominasi penjualan bahan mentah.
Kolaborasi riset tersebut dilakukan melalui proyek Synergistic Valorization of Waste Coconut Shell via Catalytic Pyrolysis: Co-Production of Biofuels and High-Performance Activated Carbon for Energy Storage (COCOPYRO) yang dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (22/7), dengan melibatkan peneliti dari Indonesia, Tiongkok, Malaysia, dan India.
Teknologi yang dikembangkan memanfaatkan proses pirolisis katalitik untuk mengubah limbah tempurung kelapa menjadi biofuel sekaligus karbon aktif berkinerja tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai material penyimpanan energi.
Kalbar Berpeluang Jadi Sentra Hilirisasi Kelapa
Bagi Kalimantan Barat, riset tersebut dinilai sangat relevan karena provinsi ini merupakan salah satu sentra produksi kelapa dalam terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Temuan Baru Mengejutkan, BRIN Ungkap Kalimantan Jadi Koridor Migrasi Manusia Prasejarah Nusantara
Kabupaten Kubu Raya menjadi daerah penghasil kelapa terbesar dengan kawasan perkebunan yang tersebar di Kecamatan Sungai Kakap, Batu Ampar, dan Teluk Pakedai.
Kabupaten Sambas juga memiliki kawasan perkebunan kelapa pesisir yang luas dan berpotensi menjadi pemasok bahan baku industri bioenergi maupun karbon aktif.
Selain itu, Kabupaten Mempawah dan Bengkayang turut menjadi wilayah potensial dalam penyediaan buah kelapa segar untuk mendukung pengembangan industri hilir.
Selama ini, sebagian besar tempurung kelapa di Kalbar masih dimanfaatkan secara terbatas sebagai bahan bakar tradisional atau dijual dengan nilai ekonomi rendah.
Baca Juga: BRIN Uji Potensi Kratom Kalimantan sebagai Kandidat Obat Diabetes
Apabila teknologi hasil riset BRIN dapat diterapkan di daerah, limbah tersebut berpotensi diolah menjadi produk bernilai tinggi yang mendukung industri energi bersih sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha lokal.
Kolaborasi Indonesia-Tiongkok Percepat Inovasi
Kepala Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Akbar Hanif Dawam, mengatakan Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang melimpah, termasuk kelapa, sehingga memiliki peluang besar menghasilkan produk bernilai tambah.
"Kolaborasi dengan Tiongkok menjadi peluang untuk memperkuat pengembangan riset dengan menggabungkan potensi sumber daya biomassa Indonesia dan keahlian dalam pengembangan material serta teknologi penyimpanan energi," kata Akbar, dikutip dari laman resmi BRIN.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan sektor industri agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diproduksi secara komersial dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Baca Juga: Bauksit Kalbar Tak Berakhir sebagai Limbah, BRIN Cari Nilai Baru Red Mud
Presiden Direktur PT Cipta Inovasi Berkelanjutan, Fano Alfian, menambahkan hasil riset harus diterjemahkan menjadi solusi yang dapat diterapkan dalam skala industri, layak secara bisnis, dan mampu mendukung pengurangan emisi karbon.
Tempurung Kelapa Jadi Produk Energi Masa Depan
Koordinator proyek COCOPYRO sekaligus Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Prof. Widya Fatriasari, menjelaskan berbagai masukan dari peserta FGD akan menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan riset berikutnya.
Pengembangan teknologi dilakukan melalui empat tahapan utama, yaitu pembuatan katalis, proses pirolisis katalitik, modifikasi karbon berpori, hingga pengembangan perangkat penyimpanan energi berbasis biomassa.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke laboratorium baterai, fisika, dan bahan bakar di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie yang akan mendukung pengembangan proyek COCOPYRO.
Keberhasilan teknologi tersebut diharapkan mampu mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular sekaligus membuka peluang investasi industri hilirisasi kelapa di daerah penghasil seperti Kalimantan Barat, sehingga nilai tambah komoditas perkebunan rakyat tidak lagi berhenti pada penjualan bahan baku. (*)
Editor : Efprizan