PONTIANAK POST – Logam tanah jarang (LTJ) mulai mendapat perhatian dalam peta hilirisasi nasional. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi pada kelompok mineral strategis, yang mencakup logam tanah jarang, timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, dan aspal Buton, mencapai Rp4,7 triliun pada kuartal II 2026.
Meski nilainya masih jauh di bawah investasi hilirisasi bauksit yang mencapai Rp40,1 triliun maupun nikel sebesar Rp29,4 triliun, masuknya logam tanah jarang dalam daftar komoditas investasi dinilai menjadi sinyal awal berkembangnya industri mineral bernilai tambah tinggi di Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan realisasi investasi hilirisasi nasional pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun atau naik 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp511,8 triliun.
Rosan menjelaskan, investasi hilirisasi bauksit menjadi yang terbesar pada periode tersebut dengan nilai Rp40,1 triliun atau melonjak 193 persen dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar Rp13,7 triliun.
"Kalau kita lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah ini, ada shifting, bauksit menjadi nomor satu, karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit ini untuk pertama kali mengambil tempat nomor satu sesudah nikel," ujar Rosan dalam keterangan resmi, Selasa (21/7).
Selain bauksit dan nikel, investasi juga mengalir ke sektor tembaga sebesar Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta kelompok mineral strategis yang meliputi logam tanah jarang, timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, dan aspal Buton senilai Rp4,7 triliun.
Urutan Realisasi Investasi Hilirisasi Mineral Kuartal II 2026
| Peringkat | Komoditas | Nilai Investasi |
|---|---|---|
| 1 | Bauksit | Rp40,1 triliun |
| 2 | Nikel | Rp29,4 triliun |
| 3 | Tembaga | Rp16,7 triliun |
| 4 | Besi Baja | Rp13,2 triliun |
| 5 | Kelompok Mineral Strategis* | Rp4,7 triliun |
| 6 | Pasir Silika | Rp4,0 triliun |
Komoditas Kunci Industri Masa Depan
Meski porsinya belum sebesar komoditas mineral utama lainnya, logam tanah jarang dipandang memiliki nilai strategis karena menjadi bahan baku berbagai industri berteknologi tinggi.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang memiliki karakteristik khusus dan digunakan dalam berbagai produk berteknologi tinggi. Mineral ini menjadi bahan baku magnet permanen untuk kendaraan listrik, turbin angin, telepon pintar, semikonduktor, peralatan medis, hingga sistem pertahanan.
Di Indonesia, potensi logam tanah jarang ditemukan sebagai mineral ikutan pada endapan timah, bauksit, nikel laterit, serta batuan granit di sejumlah wilayah. Pemerintah mendorong pengembangan hilirisasi agar pemanfaatannya tidak berhenti pada tahap penambangan, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut logam tanah jarang merupakan mineral strategis yang menjadi komponen penting bagi pengembangan teknologi energi bersih, kendaraan listrik, elektronik, hingga industri pertahanan. Pemerintah menargetkan hilirisasi logam tanah jarang sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku teknologi tinggi.
Peluang Hilirisasi Semakin Terbuka
Meningkatnya investasi pada berbagai komoditas mineral menunjukkan hilirisasi mulai bergerak ke sektor yang lebih beragam. Selama ini, investasi pengolahan mineral nasional didominasi nikel, namun kini mulai bergeser ke bauksit dan diikuti berkembangnya investasi pada komoditas strategis lainnya, termasuk logam tanah jarang.
Pengembangan industri logam tanah jarang dinilai berpotensi membuka peluang investasi baru, terutama pada sektor pengolahan mineral berteknologi tinggi yang mendukung transisi energi dan penguatan industri manufaktur nasional.
Dengan meningkatnya kebutuhan global terhadap kendaraan listrik, energi terbarukan, dan perangkat elektronik, permintaan logam tanah jarang diperkirakan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas hilirisasi mineral strategis sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro