Menteri Amran Gandeng Australia, Dadahup Kalteng Disiapkan Jadi Lumbung Pangan Baru dengan Teknologi Rawa Modern

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 00:43 WIB
Pertemuan bilateral secara terbatas antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier (kanan) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (28/7/2026). ANTARA/Harianto
Pertemuan bilateral secara terbatas antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kiri) dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier (kanan) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (28/7/2026). ANTARA/Harianto

 

PONTIANAK POST - Kawasan cetak sawah Dadahup di Kalimantan Tengah mulai diarahkan menjadi model pertanian rawa modern Indonesia-Australia melalui pengembangan sistem irigasi berbasis teknologi. Pemerintah menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pengembangan Dadahup menjadi bagian dari strategi pemerintah mengoptimalkan lahan rawa agar mampu menghasilkan produksi pangan yang lebih tinggi melalui tata kelola air yang modern.

“Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penerapan teknologi dan tata kelola air yang lebih modern,” kata Amran di Jakarta, Selasa.

Saluran irigasi di kawasan cetak sawah Dadahup di Kalimantan Tengah dikembangkan sebagai model pertanian rawa modern untuk mendukung ketahanan pangan nasional. (Kementerian PU)
Saluran irigasi di kawasan cetak sawah Dadahup di Kalimantan Tengah dikembangkan sebagai model pertanian rawa modern untuk mendukung ketahanan pangan nasional. (Kementerian PU)

Dadahup Jadi Proyek Percontohan Pertanian Rawa Indonesia-Australia

Penguatan kerja sama tersebut ditegaskan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier di Kantor Pusat Kementerian Pertanian.

Dalam pertemuan itu, pemerintah Indonesia mengapresiasi dukungan Australia melalui Australian Water Partnership (AWP) yang telah memfasilitasi misi ahli (Expert Mission) untuk mengkaji pengembangan kawasan Dadahup.

Menurut Amran, hasil kajian para ahli Australia menunjukkan Dadahup memiliki peluang besar menjadi contoh pengelolaan pertanian rawa modern di Indonesia.

“Hasil kajian para ahli Australia menunjukkan Dadahup memiliki potensi besar menjadi model pertanian rawa modern. Rekomendasi yang diberikan sangat sejalan dengan prioritas Indonesia dalam mempercepat peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 300 dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Amran.

Pengembangan Dadahup menjadi penting karena lahan rawa memiliki karakteristik berbeda dibandingkan sawah konvensional. Pengaturan tinggi muka air menjadi faktor utama agar lahan dapat ditanami secara optimal.

Lima Strategi Bangun Sistem Irigasi Modern Dadahup

Untuk mempercepat implementasi rekomendasi tersebut, pemerintah mendorong lima langkah strategis dalam pengembangan kawasan Dadahup.

Pertama, pembentukan Joint Technical Working Group antara Indonesia dan Australia untuk memperkuat koordinasi teknis.

Kedua, penyusunan Integrated Water Management Masterplan and Roadmap Dadahup sebagai panduan pengelolaan tata air kawasan.

Ketiga, penguatan tata kelola air berbasis petani agar masyarakat menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan pertanian.

Keempat, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pemanfaatan teknologi digital seperti telemetry, remote sensing, dan decision support system.

Kelima, menjadikan Dadahup sebagai Indonesia–Australia Demonstration Project sekaligus laboratorium hidup pertanian rawa modern.

 

Tantangan Mengubah Lahan Rawa Menjadi Produktif

Pengembangan pertanian rawa di Kalimantan menghadapi tantangan besar, terutama terkait pengelolaan air, kondisi tanah, dan adaptasi teknologi oleh petani.

Lahan rawa memiliki potensi luas untuk produksi pangan, tetapi membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan lahan pertanian biasa.

Melalui sistem tata air modern, pemerintah berharap persoalan klasik lahan rawa seperti kelebihan air saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau dapat dikendalikan.

Dari Dadahup untuk Ketahanan Pangan Nasional

Kawasan Dadahup menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian pemerintah dalam program pengembangan lahan rawa produktif.

Kerja sama Indonesia-Australia ini merupakan kelanjutan dari kunjungan tenaga ahli Australia ke kawasan cetak sawah Dadahup pada April 2026.

Pemerintah berharap pengembangan tersebut tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga menciptakan model pertanian berkelanjutan yang dapat diterapkan di wilayah rawa lainnya.

Kawasan cetak sawah Dadahup di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, memiliki potensi lahan sawah sekitar 5.000 hektare yang tersebar di sejumlah blok pengembangan. Namun, sebagian area tersebut masih membutuhkan penguatan tata kelola air, sumber daya manusia, dan percepatan pengelolaan agar dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pada pengembangan tahap awal, pemerintah mendorong percepatan tanam melalui pengelolaan lahan sekitar 50–100 hektare sebagai tahap awal, dengan rencana perluasan hingga 1.000–5.000 hektare sesuai kesiapan lahan dan kebutuhan pendukung produksi.

Secara lebih luas, Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah strategis dalam program perluasan areal sawah nasional. Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan cetak sawah di Kalimantan Tengah hingga 500 ribu hektare, dengan proyeksi produktivitas sekitar 5 ton gabah kering per hektare setiap musim tanam. Pemerintah memperkirakan pengembangan kawasan tersebut dapat memperkuat posisi Kalimantan Tengah sebagai salah satu pusat produksi pangan nasional.

Pengembangan Dadahup diarahkan untuk mendukung program swasembada pangan melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 300, yakni mendorong lahan pertanian agar mampu ditanami hingga tiga kali dalam setahun dengan dukungan tata kelola air dan teknologi pertanian modern.

Australia Dorong Kelanjutan Kerja Sama Pertanian

Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier mengatakan pemerintah Australia siap menindaklanjuti hasil pembahasan bersama Kementerian Pertanian.

Menurut dia, laporan akhir kajian ahli Australia mengenai Dadahup dapat menjadi dasar untuk menyusun langkah lanjutan pengembangan kawasan tersebut.

“Kami berharap laporan ini dapat membantu Indonesia meningkatkan produktivitas kawasan Dadahup dan menjadikannya contoh pengembangan pertanian rawa modern,” ujar Brazier.

Selain pengembangan pertanian, kedua negara juga sepakat memperkuat kerja sama perdagangan, investasi, riset, inovasi, pengembangan sumber daya manusia, serta sektor pupuk.

Nilai Perdagangan Pertanian RI-Australia Capai 3,2 Miliar Dolar AS

Kerja sama pertanian Indonesia dan Australia juga memiliki nilai ekonomi yang besar.

Berdasarkan data 2025, total perdagangan sektor pertanian kedua negara mencapai sekitar 3,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai ekspor pertanian Indonesia ke Australia tercatat sekitar 203 juta dolar AS, sementara impor pertanian dari Australia mencapai sekitar 3 miliar dolar AS.

Angka tersebut menunjukkan hubungan kedua negara tidak hanya berkaitan dengan perdagangan, tetapi juga penguatan kapasitas produksi pangan melalui kerja sama teknologi dan inovasi. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
swasembada pangan Indonesia pertanian rawa Kalimantan Tengah cetak sawah Dadahup irigasi lahan rawa teknologi pertanian modern