BKPM Dorong Hilirisasi Logam Tanah Jarang, Investasi Mineral Strategis Tembus Rp4,7 Triliun di Kwartal II

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 23:31 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan capaian investasi nasional di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Rosan mengungkapkan investasi hilirisasi bauksit untuk pertama kalinya melampaui nikel pada kuartal II 2026, membuka peluang Kalimantan Barat sebagai pusat industri aluminium nasional.(ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani memaparkan perkembangan investasi nasional di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/7/2026). BKPM mendorong hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) agar mineral strategis tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri. (ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)

 

PONTIANAK POST – Pemerintah semakin serius mendorong hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) sebagai bagian dari strategi membangun industri mineral bernilai tambah tinggi. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meminta perusahaan tambang tidak lagi mengekspor mineral yang mengandung LTJ dalam bentuk mentah, melainkan mengolahnya di dalam negeri.

Dorongan tersebut muncul di tengah meningkatnya investasi pada kelompok mineral strategis yang mencakup logam tanah jarang, timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, hingga aspal Buton. Pada kuartal II 2026, realisasi investasi sektor tersebut mencapai Rp4,7 triliun, menandai mulai berkembangnya industri mineral strategis di luar komoditas utama seperti nikel dan bauksit.

"Harapannya seperti itu. Jangan sampai hanya dalam bentuk mentah itu diekspor," kata Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara BKPM, Rizwan Aryadi Ramadhan, di Jakarta, Rabu (29/7).

LTJ Dinilai Strategis untuk Industri Masa Depan

Rizwan mengatakan logam tanah jarang memiliki nilai strategis karena menjadi bahan baku berbagai industri berteknologi tinggi, mulai dari sektor energi bersih hingga pertahanan.

Menurutnya, seluruh komoditas mineral semestinya diproses lebih lanjut di Indonesia agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

"Semua komoditas yang ada, baik mineral, batu bara, dan yang lainnya bisa diolah atau peningkatan nilai tambahnya dilakukan di Indonesia dari tahap awal sampai tahap akhir. LTJ cukup strategis dalam konteks industri pertahanan atau mungkin industri lainnya," ujarnya.

Pernyataan itu juga sejalan dengan langkah pemerintah yang tengah menyusun tata kelola ekspor mineral yang mengandung LTJ agar tidak lagi hanya menjadi komoditas ekspor bahan mentah.

Investasi Hilirisasi Bergeser, Bauksit Salip Nikel

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengungkapkan realisasi investasi hilirisasi nasional pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, meningkat 5,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Nilai tersebut menyumbang 29,8 persen dari total realisasi investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun.

Menariknya, untuk pertama kalinya investasi hilirisasi bauksit menjadi yang terbesar, menggeser dominasi nikel.

"Kalau kita lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah ini ada shifting, bauksit menjadi nomor satu karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri," kata Rosan.

Realisasi Investasi Hilirisasi Mineral Kuartal II 2026

Peringkat Komoditas Nilai Investasi
1 Bauksit Rp40,1 triliun
2 Nikel Rp29,4 triliun
3 Tembaga Rp16,7 triliun
4 Besi Baja Rp13,2 triliun
5 Mineral Strategis (termasuk LTJ) Rp4,7 triliun
6 Pasir Silika Rp4,0 triliun

Kalimantan Barat Berpeluang Besar

Perkembangan investasi bauksit dinilai menjadi kabar penting bagi Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu daerah dengan cadangan bauksit terbesar di Indonesia.

Selain sebagai komoditas utama, endapan bauksit juga diketahui mengandung mineral ikutan logam tanah jarang yang berpotensi dikembangkan melalui teknologi pemisahan dan pemurnian.

Bagi Kalimantan Barat, hilirisasi LTJ membuka peluang baru, bukan hanya meningkatkan nilai tambah bauksit, tetapi juga membangun rantai industri mineral kritis yang dibutuhkan dalam pengembangan kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri elektronik.

LTJ Jadi Komponen Kunci Teknologi Tinggi

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur kimia yang memiliki karakteristik khusus dan menjadi bahan baku berbagai produk teknologi tinggi.

Di Indonesia, LTJ ditemukan sebagai mineral ikutan pada endapan timah, bauksit, nikel laterit, serta batuan granit di sejumlah wilayah.

Mineral tersebut digunakan dalam pembuatan:

Karena nilai strategisnya, pemerintah mendorong agar LTJ tidak lagi diekspor sebagai bahan mentah, tetapi diproses hingga menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

Penelitian Pusat Survei Geologi Badan Geologi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan pelapukan granit tropis yang membentuk endapan bauksit juga menyebabkan redistribusi unsur tanah jarang pada profil laterit.

Karakteristik tersebut membuka peluang eksplorasi mineral kritis sebagai produk ikutan bauksit. Menurut Badan Geologi, pengembangan LTJ menjadi penting karena mineral ini dibutuhkan sebagai bahan baku magnet permanen, kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, hingga industri pertahanan. Bagi Kalimantan Barat yang menjadi salah satu penghasil bauksit terbesar di Indonesia, hilirisasi mineral ikutan tersebut berpotensi memperluas rantai industri bernilai tambah sekaligus meningkatkan daya saing investasi sektor mineral strategis.

Momentum Memperkuat Hilirisasi Nasional

Meningkatnya investasi pada kelompok mineral strategis menunjukkan arah hilirisasi Indonesia mulai meluas.

Jika selama ini investasi didominasi nikel, kini bauksit mulai mengambil peran utama, sementara logam tanah jarang mulai masuk dalam peta investasi nasional.

Dengan meningkatnya kebutuhan dunia terhadap kendaraan listrik, energi terbarukan, semikonduktor, dan teknologi pertahanan, permintaan LTJ diperkirakan terus meningkat. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia, khususnya Kalimantan Barat sebagai salah satu daerah penghasil bauksit, untuk menjadi bagian penting dalam rantai pasok industri mineral strategis global. *


Fakta Penting

Indikator Nilai
Investasi hilirisasi nasional Rp152,7 triliun
Total investasi nasional Rp511,8 triliun
Investasi bauksit Rp40,1 triliun
Investasi nikel Rp29,4 triliun
Investasi mineral strategis (termasuk LTJ) Rp4,7 triliun
Kontribusi investasi hilirisasi 29,8%

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Logam tanah jarang mineral strategis Bauksit Kalimantan Barat Hilirisasi logam tanah jarang bkpm