Hilirisasi Logam Tanah Jarang Kunci Industri Motor Listrik Indonesia

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 23:37 WIB
Charged Ndara menjadi motor listrik naked bike buatan Indonesia dengan tenaga 11 kW dan desain bergaya roadster modern. (CHARGED)
Charged Ndara menjadi motor listrik naked bike buatan Indonesia dengan tenaga 11 kW dan desain bergaya roadster modern. (CHARGED)

 

PONTIANAK POST – Pemerintah mempercepat hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) sebagai fondasi pengembangan industri motor listrik dan teknologi tinggi di Indonesia. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menegaskan perusahaan tambang tidak lagi cukup mengekspor mineral mentah, tetapi harus mengolahnya di dalam negeri agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Langkah tersebut dinilai semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap motor listrik, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri pertahanan yang bergantung pada pasokan logam tanah jarang. Pada saat yang sama, investasi pada kelompok mineral strategis yang mencakup LTJ mulai menunjukkan tren positif.

"Harapannya seperti itu (perusahaan lakukan hilirisasi). Jangan sampai hanya dalam bentuk mentah itu diekspor," ujar Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara BKPM Rizwan Aryadi Ramadhan di Jakarta, Rabu (30/7).

PLN UIP KLB memberikan pelatihan teknis penggunaan motor listrik untuk perahu nelayan di Sungai Kakap.
PLN UIP KLB memberikan pelatihan teknis penggunaan motor listrik untuk perahu nelayan di Sungai Kakap.

 

 

Komponen Penting Motor Listrik

Di balik berkembangnya industri kendaraan listrik, terdapat peran penting logam tanah jarang yang selama ini jarang diketahui masyarakat.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan LTJ merupakan kelompok 17 unsur kimia yang menjadi bahan baku magnet permanen berkinerja tinggi. Magnet tersebut digunakan pada motor penggerak kendaraan listrik, turbin angin, telepon pintar, semikonduktor, peralatan medis, hingga sistem pertahanan.

Tanpa pasokan LTJ, industri motor listrik akan menghadapi tantangan besar karena efisiensi dan performa motor listrik modern sangat bergantung pada magnet permanen berbasis unsur tanah jarang.

"Semua komoditas yang ada, baik mineral, batu bara, dan yang lainnya bisa diolah atau peningkatan nilai tambahnya dilakukan di Indonesia dari tahap awal sampai tahap akhir. LTJ cukup strategis dalam konteks industri pertahanan atau mungkin industri lainnya," kata Rizwan.

Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan bahwa empat unsur logam tanah jarang, yakni neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), dan terbium (Tb), merupakan komponen utama magnet permanen berbasis neodymium-iron-boron (NdFeB) yang banyak digunakan pada motor listrik kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Neodymium dan praseodymium berfungsi menghasilkan kekuatan magnet yang tinggi, sedangkan dysprosium dan terbium ditambahkan untuk meningkatkan ketahanan magnet terhadap suhu tinggi sehingga tetap stabil saat motor listrik bekerja pada beban berat. Karena karakteristik tersebut, magnet permanen berbasis LTJ menjadi komponen penting dalam kendaraan listrik, turbin angin, robot industri, hingga sistem pertahanan modern.

Tabel fakta pendukung

Unsur LTJ Fungsi pada motor listrik
Neodymium (Nd) Memberikan kekuatan magnet utama pada motor listrik.
Praseodymium (Pr) Dipadukan dengan neodymium untuk meningkatkan performa magnet permanen.
Dysprosium (Dy) Meningkatkan ketahanan magnet terhadap suhu tinggi sehingga efisiensi motor tetap terjaga.
Terbium (Tb) Digunakan dalam jumlah kecil untuk memperkuat stabilitas magnet pada kondisi operasi ekstrem.

Investasi Mineral Strategis Mulai Tumbuh

Perhatian pemerintah terhadap LTJ tercermin dari meningkatnya investasi pada kelompok mineral strategis.

BKPM mencatat realisasi investasi kelompok mineral strategis—yang meliputi logam tanah jarang, timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, dan aspal Buton—mencapai Rp4,7 triliun pada kuartal II 2026.

Meski masih berada di bawah investasi hilirisasi bauksit sebesar Rp40,1 triliun dan nikel Rp29,4 triliun, masuknya LTJ dalam peta investasi nasional dipandang sebagai sinyal awal berkembangnya industri mineral bernilai tambah tinggi.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan total investasi hilirisasi nasional pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun, naik 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Nilai tersebut berkontribusi 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional sebesar Rp511,8 triliun.

"Kalau kita lihat, biasanya itu nikel selalu di nomor satu. Nah, ini ada shifting. Bauksit menjadi nomor satu karena memang ada beberapa pembangunan proyek bauksit, baik oleh investor dalam negeri maupun luar negeri," ujar Rosan.

Realisasi Investasi Hilirisasi Mineral Kuartal II 2026

Peringkat Komoditas Nilai Investasi
1 Bauksit Rp40,1 triliun
2 Nikel Rp29,4 triliun
3 Tembaga Rp16,7 triliun
4 Besi baja Rp13,2 triliun
5 Mineral strategis (termasuk LTJ) Rp4,7 triliun
6 Pasir silika Rp4,0 triliun

Kalimantan Barat Berpeluang Masuk Rantai Pasok Industri EV

Pengembangan hilirisasi LTJ juga membuka peluang baru bagi Kalimantan Barat, salah satu sentra bauksit terbesar di Indonesia.

Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM, endapan bauksit di Indonesia berpotensi mengandung mineral ikutan, termasuk unsur tanah jarang. Apabila teknologi pemisahan dan pemurnian terus berkembang, LTJ dapat menjadi sumber bahan baku industri motor listrik, kendaraan listrik, elektronik, hingga energi terbarukan.

Bagi Kalimantan Barat, peluang tersebut tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit, tetapi juga memperluas investasi pada industri mineral kritis yang menjadi kebutuhan global.

 

Ekspor Mentah Dinilai Mengurangi Nilai Tambah

Dorongan hilirisasi juga muncul setelah pemerintah menemukan sejumlah persoalan ekspor mineral yang mengandung LTJ.

Pemerintah saat ini tengah menyusun pengaturan yang lebih jelas mengenai kandungan logam tanah jarang dalam komoditas ekspor agar kegiatan perdagangan tetap berjalan tanpa menghambat pengembangan industri hilir di dalam negeri.

BKPM menilai hilirisasi menjadi solusi agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu memproduksi komponen strategis yang dibutuhkan industri motor listrik dunia.

Motor Listrik Jadi Penggerak Permintaan LTJ

Seiring meningkatnya penjualan kendaraan listrik secara global, kebutuhan terhadap logam tanah jarang diperkirakan terus bertambah dalam beberapa tahun mendatang.

Magnet permanen berbasis LTJ menjadi komponen utama motor listrik karena mampu menghasilkan tenaga besar dengan ukuran yang ringkas dan efisiensi tinggi. Kondisi tersebut menjadikan LTJ sebagai salah satu mineral paling strategis dalam transisi energi dunia.

Bagi Indonesia, percepatan hilirisasi LTJ bukan hanya peluang meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga langkah memperkuat posisi nasional dalam rantai pasok industri motor listrik, kendaraan listrik, dan teknologi masa depan. *

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Logam tanah jarang mineral kritis motor listrik Indonesia hilirisasi BKPM Kendaraan listrik