PONTIANAK POST- Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Jumat pagi meski pasar global masih dibayangi memanasnya konflik di Timur Tengah. Penguatan mata uang Garuda terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke Iran.
Rupiah tercatat menguat 37 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp18.074 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp18.111 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko, termasuk di negara berkembang.
“Lonjakan harga minyak dipicu oleh serangan militer AS terhadap Iran yang meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memicu sentimen risk-off di pasar negara berkembang,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Mengutip Anadolu, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran pada Rabu malam (29/7). Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan itu sebagai balasan atas dugaan percobaan serangan Iran terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Aksi militer tersebut dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjanjikan respons yang sangat keras menyusul serangan drone terhadap kapal tanker LNG milik AS di Mesir.
Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Produk Domestik Bruto (PDB) Negeri Paman Sam pada kuartal II 2026 tumbuh 1,5 persen dibanding kuartal sebelumnya. Angka itu lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 2 persen.
Di sisi lain, belanja masyarakat Amerika Serikat pada Juni 2026 hanya naik 0,3 persen dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan pertumbuhan 0,4 persen.
Josua menambahkan, indikator inflasi yang menjadi acuan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve juga menunjukkan perlambatan.
“Di sisi inflasi, indikator inflasi pilihan Fed, yaitu PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing melandai menjadi 3,7 persen year on year (yoy) dan 3,3 persen yoy pada Juni 2026, sejalan dengan ekspektasi pasar.”
Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, ia memperkirakan pergerakan rupiah masih berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.125 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
“Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp18 ribu–18.125 per dolar AS pada hari ini,” ungkap dia. (ant)
Editor : Basilius Andreas GasSumber : Antara