PONTIANAK POST – Pemerintah Kota Pontianak terus membangun budaya menabung sejak usia dini melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR). Program yang dijalankan melalui TPAKD Kota Pontianak itu menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya jumlah rekening pelajar dan semakin aktifnya siswa menabung.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan pembiasaan menabung sejak di bangku sekolah menjadi investasi penting dalam membentuk generasi yang cerdas mengelola keuangan. Menurutnya, literasi keuangan harus dimulai sejak dini agar pelajar memiliki kebiasaan finansial yang sehat ketika dewasa.
Program KEJAR Catat Pertumbuhan Rekening dan Tabungan Pelajar
Data TPAKD Kota Pontianak menunjukkan jumlah rekening pelajar meningkat dari 107.121 rekening pada 2023 menjadi 167.210 rekening pada akhir 2025. Angka tersebut mencerminkan rata-rata pertumbuhan 25,99 persen.
Tidak hanya jumlah rekening yang bertambah, nilai tabungan pelajar juga meningkat dari Rp20,18 miliar menjadi Rp31,74 miliar pada periode yang sama.
Edi menilai capaian tersebut menunjukkan semakin banyak pelajar yang tidak hanya memiliki rekening, tetapi juga mulai membiasakan diri menyisihkan uang untuk ditabung.
"Capaian tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu mendorong perluasan akses keuangan secara lebih nyata dan terukur," ujarnya.
Baca Juga: 56 Persen Balita di Pontianak Belum Rutin Dipantau, Pemkot Perkuat Gerakan Cegah Stunting
Rekening Tidak Aktif Menurun, Pelajar Semakin Aktif Menabung
Perubahan perilaku pelajar juga terlihat dari menurunnya jumlah rekening yang tidak aktif (dormant).
Pada 2023, persentase rekening tidak aktif tercatat 27,56 persen, kemudian turun menjadi 19,74 persen pada akhir 2025.
Penurunan tersebut menunjukkan semakin banyak pelajar yang rutin memanfaatkan rekening tabungan sebagai bagian dari kebiasaan mengelola keuangan sejak usia sekolah.
Pendekatan Kreatif Dekatkan Literasi Keuangan kepada Pelajar
Untuk meningkatkan minat menabung, Pemerintah Kota Pontianak mengembangkan berbagai pendekatan kreatif.
Salah satunya melalui TABUNGKU (Tabungan dari Barang Bekas) yang mengajarkan pelajar menabung sekaligus peduli terhadap lingkungan.
Selain itu, edukasi keuangan juga disampaikan melalui Tundang, tradisi budaya Melayu yang memadukan pantun dan gendang sehingga materi literasi keuangan lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan pelajar.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjadikan edukasi keuangan tidak hanya sebagai materi pembelajaran, tetapi juga kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Edi: Pelajar Cerdas Finansial Menjadi Investasi Masa Depan
Edi berharap budaya menabung yang terus tumbuh di kalangan pelajar mampu melahirkan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan ekonomi pada masa depan.
Menurutnya, keberhasilan program literasi keuangan tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah rekening, tetapi juga dari terbentuknya kebiasaan mengelola keuangan secara bijak sejak usia dini.
"Tujuan akhirnya adalah masyarakat lebih berdaya. Pelajar cerdas finansial, UMKM naik kelas, pekerja rentan terlindungi, dan ekonomi kota semakin kuat," pungkasnya.*
Editor : Uray RonaldSumber : prokopim pontianak