PONTIANAK POST — Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur mencatatkan lonjakan drastis dalam pergerakan wisatawan. Kunjungan wisata IKN telah menembus angka lebih dari 700 ribu orang sepanjang tiga periode libur besar terakhir, menegaskan daya pikat ibu kota baru ini di mata publik.
Direktur Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Otorita IKN (OIKN), Muhsin Palinrungi, membeberkan bahwa lonjakan tertinggi terjadi saat libur Idulfitri. Rasa penasaran publik untuk menyaksikan langsung transformasi pembangunan Nusantara menjadi pemantik utama antusiasme pengunjung dari berbagai belahan daerah.
Para wisatawan mendatangi kawasan Nusantara dengan beragam motivasi personal dan emosional. Sebagian besar pengunjung ingin menjadi saksi sejarah berdiri Indonesia baru, sementara lainnya ingin membuktikan secara langsung bahwa pembangunan IKN terus berjalan dengan masif.
Arsitektur bernuansa forest city serta kegiatan penelitian lingkungan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong. Berdasarkan survei internal OIKN, sebanyak 71 persen pengunjung merupakan warga lokal Kalimantan Timur, sedangkan sisanya berasal dari DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga mancanegara seperti Australia dan Jerman.
Melihat potensi kunjungan yang melonjak tajam, para pelaku industri kreatif dan usaha wisata di Kaltim diminta tidak hanya menjual keindahan pemandangan visual semata. Ketua Umum DPP Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Hans Manansang, menekankan pentingnya beralih ke konsep experience tourism yang mengedepankan kesan mendalam.
"Yang dijual pariwisata itu adalah pengalaman. Mulai dari perjalanan, makanannya, budayanya, sampai ketika pulang harus meninggalkan kesan," ungkap Hans saat melakukan kunjungan kerja di Samarinda, dikutip dari Kaltim Post (grup Jawa Pos).
Hans menyarankan agar destinasi wisata di Kalimantan Timur mengangkat narasi sejarah kuat, seperti kebudayaan Kerajaan Kutai Kartanegara dan keanggungan hutan tropis. Menurutnya, mengoneksikan cerita lokal dengan sajian kuliner khas akan membuat wisatawan merasa masuk ke dalam dunia budaya yang autentik.
Dampak ekonomi dari gelombang kunjungan ini diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kelas bawah dan UMKM setempat. Kehadiran ribuan wisatawan harian menjadi nafas baru bagi para pengemudi transportasi lokal, pemilik warung makan, hingga perajin suvenir khas Dayak dan Paser.
Hans mengingatkan bahwa pengalaman wisatawan harus terintegrasi secara utuh dari hilir ke hulu. Kolaborasi yang erat antara pemilik penginapan, penyedia transportasi, hingga pemandu wisata lokal menjadi kunci agar keramahan Kalimantan Timur terus membekas di hati para pengunjung. *
Editor : Aristono Edi Kiswantoro