PONTIANAK POST - Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Dinas Perhubungan Kalimantan Timur, Heru Sentosa, menjelaskan jaringan rel sepanjang 1.579,54 kilometer yang tertuang dalam Pergub Nomor 60 Tahun 2025 telah dirancang untuk mendukung konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menurut Heru, jalur kereta api yang menghubungkan Bandara APT Pranoto Samarinda dengan IKN sudah masuk dalam rencana. Selain itu, jaringan perkeretaapian di dalam kawasan IKN juga akan terintegrasi dengan jalur utama Trans Kalimantan.
"Jalur dari Bandara APT Pranoto menuju IKN sudah masuk dalam rencana. Selain itu, jaringan kereta api di dalam kawasan IKN juga sudah direncanakan dan nantinya akan disambungkan dengan jaringan Trans Kalimantan," ujarnya, dikutip dari Kaltim Post.
Konsep yang disiapkan Pemprov Kaltim tidak hanya menghubungkan IKN, tetapi juga mengintegrasikan berbagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur sebagai jalur pengumpan (feeder) menuju jaringan utama Trans Kalimantan. Dengan pola tersebut, distribusi penumpang maupun logistik diharapkan menjadi lebih efisien sekaligus mendukung perkembangan kawasan industri, pelabuhan, dan pusat-pusat ekonomi baru di provinsi tersebut.
Koridor Strategis Sudah Dipetakan
Pergub Nomor 60 Tahun 2025 mencantumkan sejumlah koridor prioritas. Di antaranya jalur Tabang–Pelabuhan Santan Bontang sepanjang 216,50 kilometer, jalur Bandara APT Pranoto–Tenggarong sepanjang 31,34 kilometer, hingga koneksi menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, Sangatta, Tanjung Redeb, Mahakam Ulu, serta perbatasan Kalimantan Barat.
Menurut Heru, seluruh jaringan tersebut dirancang untuk memperkuat konektivitas antarkabupaten dan kota sekaligus menjadi penghubung menuju IKN. Jalur rel juga diproyeksikan mendukung distribusi komoditas unggulan, seperti batu bara, hasil perkebunan, hasil hutan, hingga angkutan peti kemas dari dan menuju pelabuhan.
Apabila terealisasi, jaringan tersebut akan menjadi tulang punggung transportasi darat Kalimantan Timur yang selama ini masih didominasi angkutan jalan raya dan sungai. Integrasi antarmoda juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing kawasan industri sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini menjadi tantangan di Pulau Kalimantan.
Dirancang Berkecepatan Hingga 160 Kilometer per Jam
Pergub tersebut juga mengatur spesifikasi teknis jaringan rel. Jalur dirancang menggunakan lebar rel standar internasional 1.435 milimeter dengan kecepatan operasi hingga 160 kilometer per jam untuk kereta penumpang dan 100 kilometer per jam untuk kereta barang.
Standar tersebut dipilih agar jaringan memiliki kompatibilitas dengan teknologi perkeretaapian modern serta mampu melayani angkutan penumpang dan logistik secara bersamaan. Penggunaan rel standar internasional juga membuka peluang pengembangan layanan kereta berkecepatan lebih tinggi pada masa mendatang.
Untuk pembiayaan, jaringan yang menjadi bagian dari proyek nasional direncanakan menggunakan skema APBN maupun investasi pemerintah dan badan usaha. Adapun jaringan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah dapat didanai melalui APBD sesuai pembagian kewenangan.
Kaltim Siapkan Transportasi Masa Depan Berbasis Energi Bersih
Pemprov Kalimantan Timur juga memasukkan konsep transportasi ramah lingkungan dalam Rencana Induk Perkeretaapian. Moda yang dipertimbangkan meliputi kereta listrik (Electric Multiple Unit/EMU), Autonomous Rapid Transit (ART), kereta gantung (cable car), kereta maglev, hingga kereta berbahan bakar hidrogen.
Pemilihan teknologi tersebut disesuaikan dengan karakteristik geografis Kalimantan yang beragam, mulai dari wilayah dataran hingga kawasan berbukit. Dengan demikian, sistem transportasi yang dibangun diharapkan mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Pengamat transportasi dari Universitas Tanjungpura, Said, menilai pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan tetap realistis mengingat kebutuhan angkutan logistik diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya Ibu Kota Nusantara, pelabuhan internasional, dan kawasan industri di berbagai provinsi di Pulau Kalimantan. Menurutnya, kereta api merupakan moda paling efisien untuk mengangkut komoditas dalam volume besar dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan angkutan jalan.
Namun, ia menilai tantangan terbesar proyek ini bukan hanya pendanaan. Kepastian kebijakan, konsistensi perencanaan, penyelesaian pembebasan lahan, serta kemampuan pemerintah menarik investor juga menjadi faktor penentu. Apabila seluruh tahapan tersebut dapat diselesaikan, Kereta Api Trans Kalimantan diyakini tidak hanya meningkatkan konektivitas menuju IKN, tetapi juga mempercepat pemerataan pembangunan dan memperkuat daya saing ekonomi Pulau Kalimantan dalam jangka panjang. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro