NTP Kalbar Naik: Petani Sawit Untung, Hortikultura Tertekan

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 23:40 WIB
Ilustrasi - Petani melakukan aktivitas bongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hasil panen miliknya. (ANTARA/Syifa Yulinnas/bar)
Ilustrasi - Petani melakukan aktivitas bongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hasil panen miliknya. (ANTARA/Syifa Yulinnas/bar)

 

PONTIANAK POST – NTP Kalimantan Barat Juli 2026 kembali meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 177,56 poin, naik 0,39 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 176,87 poin. Kenaikan ini menunjukkan daya beli petani secara umum membaik karena kenaikan harga hasil pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan biaya konsumsi dan produksi.

Namun, kenaikan tersebut belum dirasakan merata. Di balik membaiknya indikator kesejahteraan petani, sebagian petani hortikultura justru masih menghadapi tekanan akibat turunnya harga sejumlah komoditas seperti cabai, jeruk, durian, dan nanas.

Harga Sawit dan Karet Menjadi Penopang

Kenaikan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 0,65 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya meningkat 0,26 persen. Kondisi tersebut membuat posisi tawar petani membaik selama Juli 2026.

BPS mencatat komoditas yang paling besar mendorong kenaikan harga yang diterima petani adalah karet, kelapa sawit, lada atau merica, gabah, dan jagung. Komoditas-komoditas tersebut menjadi penyangga utama kenaikan pendapatan petani di Kalimantan Barat.

Petani Hortikultura Masih Menghadapi Tekanan

Meski NTP secara umum meningkat, tidak semua subsektor menikmati kondisi serupa. Subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP paling besar, yakni 9,08 persen.

Penurunan tersebut dipicu merosotnya harga berbagai komoditas hortikultura, terutama cabai merah, cabai rawit, jeruk, durian, dan nanas. Sementara biaya yang harus dikeluarkan petani tetap mengalami kenaikan sehingga margin usaha mereka semakin tertekan.

Dari sisi kemanusiaan, kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan indikator makro belum sepenuhnya mencerminkan kesejahteraan seluruh petani. Petani hortikultura masih menghadapi risiko fluktuasi harga yang dapat memengaruhi pendapatan keluarga dan keberlanjutan usaha tani.

Tanaman Perkebunan Rakyat Menjadi Penyumbang Utama

BPS mencatat kenaikan NTP terutama berasal dari dua subsektor, yakni tanaman pangan yang naik 0,39 persen dan tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,74 persen. Sebaliknya, subsektor peternakan turun 0,33 persen, sedangkan subsektor perikanan turun 0,24 persen.

Khusus tanaman perkebunan rakyat, kenaikan didorong oleh membaiknya harga karet, kelapa sawit, dan lada yang selama ini menjadi komoditas andalan petani Kalimantan Barat.

Biaya Hidup Petani Ikut Naik

Di sisi lain, BPS juga mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani meningkat 0,27 persen selama Juli 2026. Kenaikan terjadi hampir di seluruh kelompok pengeluaran, mulai dari makanan dan minuman, perumahan, transportasi, hingga pendidikan.

Artinya, meskipun pendapatan petani meningkat, biaya hidup yang ikut naik tetap menjadi tantangan dalam menjaga daya beli rumah tangga petani.

NTUP Ikut Menguat

Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Kalimantan Barat juga meningkat menjadi 182,08 poin, atau naik 0,44 persen dibandingkan Juni 2026.

Peningkatan ini menunjukkan usaha pertanian secara umum masih memberikan keuntungan yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya, terutama pada subsektor tanaman pangan dan perkebunan rakyat.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
petani hortikultura harga sawit bps kalbar harga karet nilai tukar petani