NTP Kalbar Naik Lagi, Tapi Kenapa Banyak Petani Masih Mengeluh? Begini Penjelasannya

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 13:26 WIB
BONGKAR MUAT: Sejumlah pekerja sedang bongkar muat hasil sawit di Desa Miau Merah, Simpang Silat, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sawit menjadi salah satu komoditi unggulan selain karet di Kalimantan Barat. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST
BONGKAR MUAT: Sejumlah pekerja sedang bongkar muat hasil sawit di Desa Miau Merah, Simpang Silat, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sawit menjadi salah satu komoditi unggulan selain karet di Kalimantan Barat. MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST

PONTIANAK POST - Kabar baik datang dari sektor pertanian Kalimantan Barat. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juli 2026 kembali meningkat dan menandakan daya beli petani secara umum membaik.

Namun, di balik angka yang terlihat positif itu, tidak semua petani ikut merasakan manfaatnya. Saat harga sawit dan karet mengangkat pendapatan sebagian petani, petani hortikultura justru harus menghadapi anjloknya harga cabai, jeruk, durian, hingga nanas.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat memperlihatkan bahwa kenaikan indikator makro belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Baca Juga: Sawit Kalbar Masuk Babak Baru, Pemprov Fokus Tingkatkan Produktivitas dan SDM Pekebun Rakyat Berkelanjutan

Ada kelompok petani yang menikmati peningkatan pendapatan, tetapi ada pula yang masih berjuang mempertahankan keuntungan di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

NTP KalBar Naik, Daya Beli Petani Membaik

BPS Kalimantan Barat mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2026 mencapai 177,56 poin, naik 0,39 persen dibandingkan Juni 2026 yang berada di angka 176,87 poin.

Kenaikan ini menunjukkan harga hasil pertanian yang diterima petani meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya yang harus mereka keluarkan untuk kebutuhan rumah tangga maupun produksi. Kondisi tersebut membuat posisi tawar petani secara umum menjadi lebih baik.

Peningkatan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 0,65 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya meningkat 0,26 persen.

Baca Juga: Pertamina Optimalkan Sawit dan Limbahnya untuk Kurangi Impor BBM, Dukung Ketahanan Energi Nasional

Sawit dan Karet Jadi Motor Penggerak Kenaikan

Pendorong utama kenaikan NTP berasal dari membaiknya harga sejumlah komoditas unggulan Kalimantan Barat.

BPS mencatat komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan harga yang diterima petani meliputi kelapa sawit, karet, lada atau merica, gabah, dan jagung.

Kondisi ini terutama menguntungkan petani yang menggantungkan penghasilan pada sektor perkebunan rakyat. Membaiknya harga komoditas tersebut menjadi penopang utama peningkatan pendapatan petani selama Juli 2026.

Di Balik Angka Positif, Petani Hortikultura Justru Tertekan

Meski indikator NTP menunjukkan tren positif, kenyataannya tidak semua subsektor mengalami kondisi yang sama.

Subsektor hortikultura justru mencatat penurunan NTP paling dalam, yakni 9,08 persen. Penyebab utamanya adalah turunnya harga berbagai komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, jeruk, durian, dan nanas.

Di saat harga jual hasil panen melemah, biaya yang harus ditanggung petani tetap meningkat. Kondisi tersebut membuat margin usaha semakin menipis dan berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga petani hortikultura.

Baca Juga: Daftar Perusahaan dengan Hotspot Terbanyak di Kalimantan Diungkap WALHI, Didominasi Sawit dan Tambang

Fenomena ini menunjukkan bahwa kenaikan indikator kesejahteraan secara makro belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh petani.

Perkebunan Rakyat Menjadi Penopang Utama

Jika dilihat berdasarkan subsektor, kenaikan NTP terutama ditopang oleh tanaman pangan yang naik 0,39 persen dan tanaman perkebunan rakyat yang meningkat 0,74 persen.

Sebaliknya, subsektor peternakan mengalami penurunan sebesar 0,33 persen, sedangkan perikanan turun 0,24 persen.

Khusus pada tanaman perkebunan rakyat, kenaikan didorong oleh membaiknya harga karet, kelapa sawit, dan lada, tiga komoditas yang selama ini menjadi andalan petani Kalimantan Barat.

Baca Juga: GAPKI: Industri Sawit 2026 Tertekan B50 dan Biaya Produksi, Volume Ekspor Diperkirakan Berkurang

Biaya Hidup Petani Tetap Naik

Di tengah kenaikan pendapatan, petani juga harus menghadapi peningkatan biaya hidup.

BPS mencatat Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani pada Juli 2026 naik 0,27 persen.

Kenaikan terjadi pada hampir seluruh kelompok pengeluaran, mulai dari makanan dan minuman, perumahan, transportasi, hingga pendidikan.

Artinya, peningkatan pendapatan petani masih harus diimbangi dengan pengeluaran rumah tangga yang ikut bertambah sehingga daya beli belum meningkat secara signifikan bagi semua keluarga petani.

NTUP Ikut Menguat

Selain NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Kalimantan Barat juga menunjukkan tren positif.

Pada Juli 2026, NTUP tercatat mencapai 182,08 poin, naik 0,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga: Sawit Dongkrak Kinerja Pajak Kalbar, Realisasi Penerimaan Capai Rp5,87 Triliun Hingga Juni 2026

Kenaikan NTUP mengindikasikan bahwa secara umum usaha pertanian masih memberikan keuntungan yang lebih baik, terutama pada subsektor tanaman pangan dan perkebunan rakyat.

Meski demikian, tantangan berupa fluktuasi harga komoditas dan kenaikan biaya hidup masih menjadi pekerjaan rumah agar peningkatan kesejahteraan petani dapat dirasakan lebih merata di seluruh subsektor pertanian Kalimantan Barat.

Editor : Miftahul Khair
kesejahteraan petani petani sawit hortikultura badan pusat statistik nilai tukar petani