BMKG Wanti-wanti Risiko Gagal Panen Akibat El Nino

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 00:43 WIB
Ilustrasi Kekeringan
Ilustrasi Kekeringan

 

PONTIANAK POST – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan petani untuk segera menyesuaikan pola tanam menyusul menguatnya fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang dan kering. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah risiko gagal panen dan menjaga ketahanan pangan nasional.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan daerah yang perlu mendapat perhatian serius berada di wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan. Wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan merasakan dampak El Nino lebih besar dibanding daerah lainnya.

"Di sana memang kita harus menyesuaikan untuk memulai periode tanam. Apakah akan dipercepat supaya pada saat mendekati panen itu ketika masuk kemarau tidak mempengaruhi hasil panennya," kata Teuku usai Dialog Nasional Dampak El Nino di Jakarta, Selasa (4/8).

Menurutnya, penyesuaian waktu tanam menjadi langkah penting karena berkurangnya curah hujan selama musim kemarau dapat menghambat pertumbuhan tanaman hingga menurunkan hasil produksi.

"Yang kita takutkan adalah ketika terjadi gagal panen atau masyarakat enggan menanam karena menghadapi El Nino ini," ujarnya.

Selain mengatur waktu tanam, BMKG juga mendorong petani menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering agar produktivitas pertanian tetap terjaga.

Sebagai bentuk pendampingan, BMKG terus memperluas program Sekolah Lapang Iklim yang melibatkan dinas pertanian, penyuluh pertanian lapangan, dan petani. Program tersebut bertujuan meningkatkan kemampuan petani dalam menyesuaikan pola budidaya dengan perkembangan cuaca dan iklim.

Teuku menegaskan dampak El Nino tidak akan dirasakan sama di seluruh Indonesia. Meski saat ini El Nino telah memasuki kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, besarnya pengaruh di setiap daerah tetap dipengaruhi dinamika atmosfer dan suhu muka laut di sekitar Indonesia.

Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan berkurangnya curah hujan juga berpotensi menurunkan pasokan air ke waduk yang dimanfaatkan untuk irigasi pertanian, penyediaan air baku, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, BMKG bersama sejumlah pemangku kepentingan melakukan operasi modifikasi cuaca guna meningkatkan cadangan air di waduk-waduk strategis. Teknologi tersebut juga dimanfaatkan untuk menjaga kelembapan lahan gambut sebagai upaya mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

BMKG mencatat El Nino yang mulai aktif sejak Juni 2026 kini telah memasuki fase kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Curah hujan pada Agustus hingga September diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah sehingga meningkatkan risiko kekeringan di berbagai daerah.

Meski demikian, BMKG memperkirakan musim hujan mulai datang pada pertengahan Oktober 2026 sehingga dampak El Nino terhadap pola hujan di Indonesia secara bertahap akan berkurang.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
El Nino 2026 Pola tanam musim kemarau gagal panen bmkg