PONTIANAK POST – Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan akselerasi pada kuartal II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan (YoY), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,12 persen. Penguatan konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah menjadi mesin utama pertumbuhan.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menjelaskan, penguatan ekonomi ditopang membaiknya konsumsi masyarakat. Konsumsi per kapita pada kelompok restoran dan hotel melonjak 11,97 persen. Nilai impor barang konsumsi meningkat 27,15 persen. Penjualan sepeda motor naik 6,62 persen, sedangkan mobil penumpang melonjak 25,50 persen.
”Aktivitas ekonomi digital juga terus bergairah. Nilai transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit meningkat, sementara transaksi e-commerce yang dipantau BPS tumbuh 35,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujarnya di Jakarta.
Baca Juga: Ekonomi Kalimantan Utara Tumbuh, Sektor Listrik dan Gas Melonjak Tertinggi Berkat I
Sementara itu, penjualan mobil secara wholesale maupun ritel masing-masing meningkat 32,94 persen dan 21,94 persen. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang juga naik menjadi 51,29 persen, dari 48,42 persen pada periode yang sama tahun lalu.
”Realisasi investasi turut menguat. Penanaman modal dalam negeri maupun asing tumbuh 7,14 persen. Investasi sektor hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun atau naik 5,72 persen,” paparnya.
Konsumsi pemerintah juga menjadi komponen yang tumbuh paling tinggi, yakni 15,97 persen.
”Pertumbuhan tersebut didorong pembayaran gaji ke-13, percepatan tunjangan tenaga pendidik non-PNS, peningkatan belanja barang dan jasa, serta pelaksanaan program MBG. Pada konsumsi rumah tangga, kelompok restoran dan hotel tumbuh 6,47 persen, sedangkan transportasi dan komunikasi meningkat 5,71 persen,” tutur Edy.
Industri Pengolahan Masih Dominan
Hampir seluruh lapangan usaha mencatat pertumbuhan positif. Pengecualian hanya terjadi pada sektor pertambangan yang terkontraksi 1,64 persen akibat penurunan produksi bijih logam, batu bara, dan migas.
Industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi dengan sumber pertumbuhan 0,9 persen. Berikutnya perdagangan sebesar 0,83 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi 0,48 persen. ”Pertumbuhan industri pengolahan ditopang meningkatnya permintaan domestik maupun ekspor. Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51 persen. Industri logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik naik 8,04 persen. Sementara industri kimia, farmasi, dan obat tradisional meningkat 4,99 persen,” jelasnya.
Jatim Lampaui Nasional
Sementara itu, Plt Kepala BPS Jatim Herum Fajarwati menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim berhasil konsisten berada di atas angka nasional. Pada kuartal II, ekonomi Jawa Timur berhasil tumbuh 5,72 persen. ’’Hampir semua lapangan usaha mengalami pertumbuhan ekonomi positif. Kecuali lapangan usaha pertambangan dan penggalian,’’ jelasnya.
Tulang punggung ekonomi Jatim masih konsisten dipegang oleh tiga sektor . Yakni industri pengolahan dengan kontribusi 31,11 persen, perdagangan sebesar 18,22 persen, serta pertanian 11,2 persen. (mim/bil/dio)
Editor : Rafael B. Junior