Kalimantan Tawarkan 15 Proyek Strategis Senilai Rp62,13 Triliun, Dari Air Minum hingga PLTA

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 16:32 WIB
Peta ilustrasi investasi Kalimantan yang menggambarkan sebaran proyek strategis dan peluang investasi di berbagai wilayah Pulau Kalimantan.
Peta ilustrasi investasi Kalimantan yang menggambarkan sebaran proyek strategis dan peluang investasi di berbagai wilayah Pulau Kalimantan.

 

PONTIANAK POST - Sebanyak 15 proyek strategis senilai Rp62,13 triliun ditawarkan kepada investor domestik dan mancanegara dalam Investment Forum Pamor Borneo 2026 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dari penjajakan tersebut, baru terbentuk 12 Letter of Intent (LoI) yang menjadi langkah awal menuju realisasi investasi.

Forum yang digelar Bank Indonesia tersebut mempertemukan 20 calon investor dengan pemilik proyek dari berbagai provinsi di Kalimantan. Selain menawarkan peluang investasi, forum juga diarahkan untuk membahas hambatan yang selama ini dapat menghambat realisasi penanaman modal.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Selatan Haris Munandar mengatakan 12 LoI yang dihasilkan menjadi tindak lanjut awal dari pertemuan bisnis tersebut. Namun, tantangan selanjutnya adalah memastikan kesepakatan awal itu benar-benar berkembang menjadi proyek yang terealisasi.

"Salah satu tujuan utama forum ini adalah mempertemukan pemilik proyek dengan investor potensial sekaligus mencari solusi atas berbagai hambatan realisasi investasi," kata Haris di Banjarmasin, Jumat (7/8).

Salah satu proyek dengan nilai terbesar yang ditawarkan adalah pembangunan pabrik hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, dengan nilai investasi sekitar Rp46,17 triliun. Nilai proyek tersebut mencapai sebagian besar dari total investasi yang ditawarkan dalam forum.

Selain proyek hilirisasi batu bara, terdapat pembangunan PLTA Kusan di Kabupaten Tanah Bumbu senilai Rp2,6 triliun dan pengembangan Pelabuhan Margasari Baru di Kabupaten Tapin senilai Rp1,69 triliun.

Kalimantan Timur juga menawarkan proyek industri oleokimia di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan, Kabupaten Kutai Timur, dengan nilai sekitar Rp8,6 triliun. Sementara itu, pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum Sepaku Semoi di Balikpapan ditawarkan dengan nilai Rp2,15 triliun.

Dari Kalimantan Tengah, proyek yang ditawarkan antara lain pengolahan sampah menjadi energi di Palangka Raya senilai Rp780 miliar serta budidaya udang vaname di Kabupaten Sukamara senilai Rp140 miliar.

Besarnya nilai proyek yang ditawarkan menunjukkan potensi investasi Kalimantan cukup besar, terutama pada sektor hilirisasi, energi, infrastruktur, utilitas, dan pengolahan sumber daya. Namun, keberhasilan forum investasi tidak semata-mata diukur dari besarnya nilai proyek yang dipromosikan atau jumlah LoI yang ditandatangani.

Realisasi investasi akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah dan pemilik proyek menyelesaikan berbagai persoalan, mulai dari kepastian regulasi, perizinan, kesiapan lahan dan infrastruktur, skema pembiayaan, hingga kepastian pasar.

BI menilai penyelesaian hambatan tersebut penting karena investasi diharapkan memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian Kalimantan. Investasi tidak hanya mendatangkan modal, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat hilirisasi, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta menciptakan nilai tambah di daerah.

"Kami berharap 12 LoI yang terbentuk melalui Investment Forum Pamor Borneo 2026 dapat segera ditindaklanjuti menjadi realisasi proyek," ujar Haris. 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
proyek strategis investasi kalimantan bi hambatan