Ekspor Alumina Kalbar Kembali Dibuka, DPRD Harap Dongkrak PAD dan Serap Tenaga Kerja Lokal

Deny Hamdani • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 17:48 WIB
Zulfydar Zaidar Mochtar, Ketua Umum PB Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) periode 2026-2030. (ISTIMEWA)
Zulfydar Zaidar Mochtar

 

PONTIANAK POST – Dibukanya kembali ekspor alumina dari Kalimantan Barat mendapat apresiasi dari DPRD Kalbar. Ketua Fraksi PAN DPRD Kalbar, Zulfydar Zaidar Mochtar, menilai kelancaran ekspor tersebut dapat meningkatkan penerimaan negara sekaligus memperbesar manfaat ekonomi bagi daerah.

Ekspor komoditas mineral Indonesia yang sebelumnya tersendat akibat perbedaan penafsiran aturan terkait kandungan Logam Tanah Jarang (LTJ) kini kembali berjalan. Dari Pelabuhan Dwikora Pontianak, Jumat (7/8/2026), Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman melepas pengiriman sekitar 800 ton aluminium hidroksida dan aluminium oksida (alumina) ke Korea Selatan dan Jepang.

Zulfydar mengatakan kembali berjalannya ekspor menjadi kabar positif bagi dunia usaha dan perekonomian Kalimantan Barat.

"Pak Jenderal Dudung dalam rangka melancarkan ekspor ini tentu sangat baik. Langkah ini akan memberikan dampak positif bagi pendapatan negara maupun daerah," ujarnya.

Menurutnya, kelancaran ekspor juga memberikan kepastian bagi industri pengolahan mineral di Kalbar yang sebelumnya menghadapi kendala administrasi dan regulasi.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, nilai ekspor yang telah dilepas mencapai sekitar Rp2,2 triliun. Sementara itu, masih terdapat puluhan ribu ton komoditas yang menjalani proses pengujian oleh Sucofindo sebelum diekspor.

"Ini merupakan langkah yang baik dalam meningkatkan pendapatan negara. Yang juga harus menjadi perhatian adalah berapa besar porsi dana bagi hasil yang nantinya diterima Kalimantan Barat," katanya.

Zulfydar berharap peningkatan aktivitas ekspor tidak hanya memberikan manfaat bagi pemerintah pusat, tetapi juga berdampak langsung terhadap pembangunan Kalimantan Barat melalui peningkatan dana bagi hasil, investasi, dan penciptaan lapangan kerja.

Ia juga meminta perusahaan yang beroperasi di Kalbar memperbesar penyerapan tenaga kerja lokal serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

"Kita berharap perusahaan juga mampu memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Kalimantan Barat, baik dari sisi kesempatan kerja maupun pengembangan SDM," ujarnya.

Menurutnya, jika ekspor berjalan berkelanjutan, aktivitas ekonomi di kawasan industri dan daerah sekitarnya akan semakin berkembang.

Zulfydar mengatakan Kalimantan Barat memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, mulai dari sawit, bauksit, alumina, emas, hingga mineral tanah jarang. Potensi tersebut, kata dia, harus dikelola secara optimal agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat dan daerah.

"Kalimantan Barat memiliki hasil bumi yang luar biasa. Ada sawit, bauksit, alumina, emas, hingga tanah jarang yang memiliki nilai ekonomi besar. Potensi ini harus benar-benar memberikan manfaat bagi daerah," katanya.

Ia menilai dibukanya kembali ekspor alumina harus menjadi momentum untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam Kalbar secara berkelanjutan.

Selain itu, DPRD Kalbar terus mendorong kebijakan yang dapat memperkuat penerimaan daerah, termasuk melalui pengaturan izin pertambangan rakyat agar aktivitas tersebut memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus melibatkan masyarakat lokal.

"Kami berharap pengelolaan sumber daya alam ini benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat Kalimantan Barat. Jangan hanya menghasilkan pendapatan negara, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk ikut terlibat dan merasakan manfaatnya," tegas Zulfydar.

Menurutnya, di tengah keterbatasan fiskal daerah dan kebijakan efisiensi anggaran, optimalisasi sektor sumber daya alam menjadi salah satu peluang strategis untuk memperkuat pendapatan daerah dan mempercepat pembangunan Kalimantan Barat. (den)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Logam tanah jarang ekspor alumina DPRD Kalbar NILAI EKONOMI bauksit