PONTIANAK POST — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah akan mempertahankan larangan ekspor bijih bauksit dan konsentrat tembaga sebagai bagian dari strategi memperkuat hilirisasi di dalam negeri. Kebijakan tersebut ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Untuk ke depan, saya pikir beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan pelarangan ekspornya di antaranya bauksit, kemudian tembaga," ujar Bahlil usai menghadiri peluncuran dan bedah buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Jakarta, Jumat (7/8).
Baca Juga: Mentan Amran: B50 dan Hilirisasi Sawit Beri Nilai Tambah untuk Ekonomi Indonesia
Larangan Ekspor Dinilai Dorong Nilai Tambah Industri
Bahlil mengatakan pelarangan ekspor dilakukan agar pengolahan dan pemurnian mineral berlangsung di dalam negeri. Menurutnya, pembangunan industri hilirisasi merupakan langkah yang tidak dapat dihindari untuk memperkuat perekonomian nasional.
"Memang kita tidak ada cara lain, harus ada industri di dalam negeri," katanya.
Ia menambahkan program hilirisasi bertujuan menjadikan Indonesia sebagai tuan di negeri sendiri melalui pengelolaan sumber daya alam yang memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Bahlil Soroti Pentingnya Penguatan Kelembagaan
Dalam bukunya yang berjudul "Tuan di Negeri Sendiri", Bahlil menyoroti pelaksanaan hilirisasi di berbagai daerah yang menurutnya belum sepenuhnya memberikan manfaat optimal bagi daerah penghasil.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan dalam mendukung hilirisasi dengan mencontohkan praktik yang diterapkan di Korea Selatan, Jepang, dan China.
Menurut Bahlil, manfaat ekonomi dari hilirisasi selama ini lebih banyak dinikmati pihak luar karena sebagian besar investor berasal dari luar negeri.
"Ini karena bank kita enggak mau membiayai itu (hilirisasi). Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara," ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Wajibkan Hilirisasi Batu Bara, Minta Pemadaman Listrik di Kalimantan Segera Diatasi
Investasi Hilirisasi Bauksit Melonjak pada Kuartal II 2026
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan realisasi investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026. Nilai tersebut meningkat 193 persen dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar Rp13,7 triliun.
Menurut Rosan, kenaikan investasi didorong oleh pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) bauksit oleh investor dalam negeri maupun luar negeri.
Nilai investasi hilirisasi bauksit melampaui investasi hilirisasi nikel yang tercatat Rp29,4 triliun. Selanjutnya, investasi hilirisasi tembaga mencapai Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.
Hilirisasi Berkontribusi Hampir 30 Persen terhadap Investasi Nasional
Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai Rp152,7 triliun. Angka tersebut meningkat 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Rosan mengatakan capaian tersebut menyumbang 29,8 persen terhadap total realisasi investasi nasional yang mencapai Rp511,8 triliun pada kuartal II 2026.
Baca Juga: Ekspor Alumina Kalbar Kembali Dibuka, DPRD Harap Dongkrak PAD dan Serap Tenaga Kerja Lokal
Kebijakan Berpotensi Perkuat Hilirisasi Bauksit di Kalbar
Kebijakan mempertahankan larangan ekspor bijih bauksit dinilai memiliki keterkaitan dengan pengembangan industri pengolahan mineral di daerah penghasil, termasuk Kalbar yang merupakan salah satu sentra bauksit nasional.
Saat ini, Kalimantan Barat telah memiliki beberapa smelter alumina yang beroperasi, yakni SGAR PT BAI, PT Indonesia Chemical Alumina, dan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery. Di sisi lain, sejumlah proyek smelter baru masih dalam tahap pembangunan sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan bauksit di dalam negeri.
Bagi Kalbar, penguatan hilirisasi berpotensi meningkatkan aktivitas industri, memperluas penyerapan tenaga kerja, serta memperkuat rantai pasok ekspor produk olahan mineral.
Sejalan dengan itu, pemerintah daerah juga tengah mendorong optimalisasi infrastruktur logistik, termasuk pengoperasian Pelabuhan Kijing sebagai pintu utama ekspor komoditas unggulan dari Kalbar.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara