PONTIANAK POST - Kalimantan Selatan menjadi daerah dengan nilai proyek investasi terbesar dalam Investment Forum Pamor Borneo 2026.
Dari total 15 proyek senilai Rp62,13 triliun yang ditawarkan kepada investor, sebagian besar berasal dari proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Tapin dengan nilai sekitar Rp46,17 triliun.
Proyek Metanol Jadi Penopang Nilai Investasi
Proyek pembangunan pabrik hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kabupaten Tapin menjadi proyek dengan nilai investasi terbesar dalam forum yang digelar Bank Indonesia di Banjarmasin.
Baca Juga: Prabowo Wajibkan Hilirisasi Batu Bara, Minta Pemadaman Listrik di Kalimantan Segera Diatasi
Nilai investasi proyek tersebut mencapai sekitar Rp46,17 triliun atau menjadi kontributor terbesar dari total nilai proyek yang dipromosikan kepada investor domestik maupun mancanegara.
Selain proyek metanol, Kalimantan Selatan juga menawarkan pembangunan PLTA Kusan di Kabupaten Tanah Bumbu senilai Rp2,6 triliun serta pengembangan Pelabuhan Margasari Baru di Kabupaten Tapin dengan nilai sekitar Rp1,69 triliun.
Hilirisasi dan Infrastruktur Jadi Fokus
Rangkaian proyek yang ditawarkan menunjukkan fokus Kalimantan Selatan pada pengembangan industri hilir serta penguatan infrastruktur pendukung.
Melalui Investment Forum Pamor Borneo 2026, Bank Indonesia mempertemukan 20 calon investor dengan pemilik proyek dari berbagai provinsi di Kalimantan. Dari forum tersebut terbentuk 12 Letter of Intent (LoI) sebagai tindak lanjut awal penjajakan investasi.
Baca Juga: Bahlil Tegaskan Larangan Ekspor Bauksit Tetap Berlaku, Buka Peluang Penguatan Hilirisasi di Kalbar
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan Haris Munandar mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan LoI tersebut berkembang menjadi realisasi investasi.
“Salah satu tujuan utama forum ini adalah mempertemukan pemilik proyek dengan investor potensial sekaligus mencari solusi atas berbagai hambatan realisasi investasi,” kata Haris di Banjarmasin, Jumat (7/8).
Lebih lanjut, ia menjelaskan realisasi investasi tidak semata ditentukan oleh besarnya peluang, tetapi oleh kemampuan pemerintah daerah dan pemilik proyek mengurai berbagai hambatan di lapangan.
Kepastian regulasi dan perizinan, kesiapan lahan serta infrastruktur, dukungan pembiayaan, hingga jaminan pasar menjadi rangkaian faktor yang akan menentukan apakah rencana investasi benar-benar berujung pada proyek yang terealisasi.
Editor : Miftahul Khair