PONTIANAK POST — Hilirisasi bauksit Kalimantan Barat (Kalbar) memasuki arah pengembangan baru. Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID memperluas pengolahan bauksit dengan mengembangkan logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) untuk menciptakan nilai ekonomi baru.
Keterkaitan Kalimantan Barat terlihat dari pengiriman produk hasil hilirisasi bauksit melalui Pelabuhan Dwikora, Pontianak. MIND ID telah melepas 3.013,5 ton Alumina Hydroxide dan 1.740 ton Alumina Oxide atau Chemical Grade Alumina (CGA) menuju Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Tiongkok, Jumat (7/8/2026).
Baca Juga: KSP Kawal Ekspor Alumina, Polemik Aturan LTJ Diselesaikan
Dari Pontianak, Produk Hilirisasi Bauksit Menembus Pasar Global
Pengiriman dari Pelabuhan Dwikora menunjukkan posisi Pontianak dalam jalur distribusi produk bernilai tambah dari hilirisasi bauksit Indonesia.
Produk tersebut dikirim ke sejumlah negara, yakni Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Tiongkok.
Momentum tersebut diyakini menunjukkan produk bernilai tambah dari hilirisasi bauksit Indonesia mampu menjangkau pasar global.
Baca Juga: Bukannya Dilarang, Ini Alasan Mengapa Ekspor Alumina Kalbar Sempat Tersendat Gegara Aturan LTJ
MIND ID Melihat Peluang LTJ dari Residu Bauksit
Wakil Direktur Utama MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan pengembangan LTJ menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok mineral.
“Jika Indonesia mampu memisahkan LTJ dari mineral ikutannya secara ekonomis dan efisien, sesungguhnya Indonesia sudah menjadi negara pengolah LTJ,” kata Dany Amrul Ichdan, Senin (10/8).
LTJ menjadi sasaran perusahaan karena potensinya dapat ditemukan pada mineral alami maupun sumber non-konvensional. Salah satunya adalah residu bauksit.
Di Kalbar, salah satu sumber yang telah diteliti adalah red mud atau residu bauksit dari proses pengolahan di PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) di Kalbar. Studi karakterisasi terhadap residu tersebut menunjukkan bahwa material itu merupakan residu dari proses pemurnian bauksit menjadi alumina.
Di sisi lain, fasilitas SGAR di Mempawah yang dijalankan PT Borneo Alumina Indonesia juga memiliki kapasitas pengolahan hingga 3 juta ton bauksit menjadi 1 juta ton alumina per tahun.
Data tersebut memperlihatkan bahwa Kalbar tidak hanya memiliki aktivitas pertambangan bauksit, tetapi juga menghasilkan material sisa dari proses pengolahan yang dapat menjadi objek pemanfaatan mineral bernilai tambah (LTJ).
Kadar LTJ masih Menjadi Tantangan
Dany mengatakan pengembangan LTJ membutuhkan kepastian regulasi. Sejumlah unsur LTJ hadir sebagai unsur ikutan dalam kadar yang sangat rendah.
Ia berharap terdapat ambang batas kandungan yang jelas dan proporsional untuk membedakan LTJ sebagai mineral utama dan unsur ikutan dalam komoditas ekspor.
“Kepastian tersebut penting karena keberadaan LTJ dalam kadar rendah tidak serta-merta menjadikan suatu komoditas layak diekstraksi sebagai produk LTJ. Unsur seperti serium dan lantanum, misalnya, dapat ditemukan hingga satuan part per million (ppm),” jelas Dany.
Baca Juga: KSP Kawal Ekspor Alumina, Polemik Aturan LTJ Diselesaikan
Kalbar dan Peluang Rantai Pasok Mineral LTJ
MIND ID bersama Badan Industri Mineral (BIM) dan didukung BRIN tengah menyusun peta jalan teknologi pengolahan dan pemurnian LTJ nasional.
Peta jalan tersebut mencakup pemetaan sumber bahan baku dan teknologi yang dibutuhkan.
Jika pengembangan LTJ dari sumber non-konvensional dapat dilakukan secara ekonomis dan efisien, residu dari proses pengolahan mineral berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok baru.
Untuk Kalimantan Barat, perkembangan tersebut menjadi relevan karena Pontianak telah menjadi titik pengiriman produk hilirisasi bauksit MIND ID ke pasar internasional.
LTJ Dibutuhkan Industri Masa Depan
Pengembangan LTJ dianggap strategis karena dibutuhkan berbagai industri masa depan. Di antaranya kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, hingga manufaktur berteknologi tinggi.
Dany mengatakan MIND ID terus membuka ruang kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kemandirian industri nasional sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia.
Bagi Kalbar, perkembangan ini menempatkan hilirisasi bauksit dan pemanfaatan produk samping pengolahan mineral sebagai isu yang perlu terus dipantau, terutama terkait teknologi, regulasi, dan manfaat ekonomi yang benar-benar dapat terukur di daerah.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara