PONTIANAK POST - Memilih barang saat kondisi ekonomi sedang menantang membutuhkan pertimbangan lebih dari sekadar melihat angka pada label harga.
Konsumen bisa saja dihadapkan pada pilihan barang baru tanpa merek dengan harga terjangkau atau barang bekas dari merek ternama.
Keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Namun, pilihan yang paling ekonomis sangat bergantung pada kebutuhan, kualitas, daya tahan, serta cara barang tersebut digunakan.
Baca Juga: Menjelajahi Paris, Ibukota Belanja Dunia dari Galeries Lafayette hingga Pasar Loak
Menurut financial planner Ode Kustriani Atmaja, keputusan membeli sebaiknya tidak hanya didasarkan pada harga. Konsumen juga perlu melihat manfaat barang hingga biaya yang mungkin muncul dalam jangka panjang.
’’Barang baru murah bisa menjadi pilihan tepat untuk kebutuhan sederhana, sementara barang second dari merek ternama lebih menguntungkan jika kualitasnya masih baik dan umur pakainya panjang,’’ ujarnya, dilansir dari Jawapos.
Ode menjelaskan, barang dengan harga murah belum tentu menjadi pilihan paling hemat. Jika kualitasnya rendah sehingga cepat rusak dan harus sering diganti, total biaya yang dikeluarkan justru bisa lebih besar.
Baca Juga: Naik Speedboat hingga Belanja Kuliner, Cara Unik BI Kalbar Kenalkan QRIS Lewat Kreator Konten
’’Prinsip hemat bukan membeli dengan harga termurah, tetapi mendapatkan nilai terbaik dari uang yang dikeluarkan,’’ katanya.
Kapan Second Branded Layak Dipilih?
Menurut Ode, barang second bermerek layak dipertimbangkan apabila kondisinya masih prima, memiliki daya tahan panjang, serta nilai jual kembali yang tetap tinggi.
Pilihan tersebut cocok untuk barang yang digunakan setiap hari, seperti tas kerja, gawai, kendaraan, maupun peralatan rumah tangga berkualitas.
Baca Juga: Gen Z Susah Menabung? Ini Fakta Gaya Hidup Konsumtif yang Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Bolong
Meski demikian, konsumen tetap harus melakukan pengecekan secara menyeluruh sebelum membeli. Kondisi barang bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
’’Pastikan kondisi fisik dan fungsi barang, keaslian produk, biaya perawatan atau perbaikan, harga pasar barang baru dan second, serta reputasi merek,’’ jelasnya.
Pertimbangan tersebut penting agar keputusan membeli barang second tidak justru menimbulkan pengeluaran baru setelah transaksi.
Jangan Membeli Hanya karena Tren
Selain kondisi barang, kebutuhan nyata juga harus menjadi pertimbangan utama. Konsumen sebaiknya tidak membeli barang second branded hanya karena mengikuti tren.
Baca Juga: Super Shopping Day bersama Brand Ambassador Terbaru, Joe Taslim
Barang yang jarang digunakan atau membutuhkan biaya perawatan tinggi bisa membuat pembelian tersebut kurang menguntungkan, meskipun berasal dari merek ternama.
Sebaliknya, barang baru tanpa merek tetap bisa menjadi pilihan ketika kebutuhan tidak menuntut kualitas dan daya tahan tinggi.
Dengan demikian, pilihan antara barang baru murah dan second branded sebaiknya dikembalikan pada kebutuhan serta nilai manfaat yang diperoleh.
Harga awal memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah sebuah barang benar-benar hemat. (*)
Editor : Chairunnisya