PONTIANAK POST - Mengatur keuangan bukan hanya soal mencari barang dengan harga murah. Cara mengalokasikan anggaran juga menentukan apakah kebiasaan belanja tetap berada dalam kondisi aman atau justru mengganggu keuangan dalam jangka panjang.
Financial planner, Ode Kustriani Atmaja menyarankan agar pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif non-esensial tetap berada dalam batas aman.
Menurutnya, alokasi belanja non-prioritas idealnya sekitar 10–20 persen dari pendapatan bulanan setelah kebutuhan pokok, cicilan, dana darurat, dan investasi terpenuhi.
Baca Juga: Mau Hemat Belanja? Gunakan Rumus Cost Per Use untuk Membandingkan
’’Yang terpenting, pembelian barang konsumsi tidak menggunakan utang konsumtif atau mengorbankan tujuan keuangan jangka panjang,’’ tegasnya, dilansir dari Jawapos.
Jangan Belanja karena Tergoda Diskon
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah membeli barang bukan karena benar-benar dibutuhkan, melainkan karena tergoda harga diskon.
Baca Juga: Horoskop Cinta 14 Agustus 2026: Saatnya 12 Zodiak Belajar Memahami Pasangan dan Diri Sendiri
Ode menilai kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran membesar, terlebih jika barang yang dibeli sebenarnya jarang digunakan.
Penggunaan cicilan atau paylater untuk membeli barang konsumsi juga berpotensi membebani kondisi keuangan.
Selain itu, konsumen perlu memperhitungkan biaya yang muncul setelah pembelian. Barang yang jarang digunakan, tetapi membutuhkan biaya perawatan dan penyimpanan, dapat membuat pengeluaran semakin besar.
Baca Juga: Jangan Terjebak Harga Murah, Begini Cara Memilih Barang yang Hemat
Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Sebelum berbelanja, konsumen perlu membiasakan diri memastikan apakah barang yang hendak dibeli benar-benar dibutuhkan.
’’Membiasakan diri membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum berbelanja,’’ ucapnya.
Langkah tersebut dapat membantu konsumen menahan diri dari pembelian impulsif sekaligus menjaga agar anggaran tetap digunakan sesuai prioritas.
Konsumen juga perlu membandingkan harga barang baru dan second, menghitung biaya penggunaan, melakukan riset, serta menerapkan prinsip menunda pembelian sebelum mengambil keputusan.
Baca Juga: Menjelajahi Paris, Ibukota Belanja Dunia dari Galeries Lafayette hingga Pasar Loak
Jangan Memaksakan Kondisi Keuangan
Menentukan pilihan barang juga sebaiknya tidak membuat konsumen mengorbankan tujuan keuangan yang lebih penting.
Ode mengingatkan konsumen untuk melihat manfaat barang dalam jangka panjang, bukan sekadar mengejar merek atau mengikuti keinginan sesaat.
’’Fokus pada kualitas dan manfaat, bukan hanya merek. Prioritaskan barang yang memberikan manfaat jangka panjang dan jangan memaksakan kondisi keuangan demi mendapatkan barang tertentu,’’ lanjutnya.
Baca Juga: Naik Speedboat hingga Belanja Kuliner, Cara Unik BI Kalbar Kenalkan QRIS Lewat Kreator Konten
Dengan membatasi belanja non-prioritas dan memastikan pembelian tidak mengganggu kebutuhan utama, konsumen dapat lebih leluasa menentukan barang yang benar-benar memberikan manfaat.
Prinsipnya bukan sekadar mengeluarkan uang lebih sedikit, melainkan memastikan setiap pengeluaran tetap sejalan dengan kondisi dan tujuan keuangan. (*)
Editor : Chairunnisya