Cara Mengatur Belanja Nonprioritas agar Tidak Mengganggu Tujuan Keuangan

Chairunnisya • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 17:26 WIB

 

Konsumen mengakses aplikasi belanja daring (lokapasar) di Cimahi, Jawa Barat, Kamis (6/8/2026). Kementerian Keuangan menyatakan menunda implementasi pemungutan pajak melalui aplikasi belanja daring yang sebelumnya direncanakan berlaku efektif pada Agustus 2026 karena menanti terlebih dahulu kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat membaik. (ANTARA FOTO/Abdan Syakura/wsj)
Konsumen mengakses aplikasi belanja daring (lokapasar) di Cimahi, Jawa Barat, Kamis (6/8/2026). Kementerian Keuangan menyatakan menunda implementasi pemungutan pajak melalui aplikasi belanja daring yang sebelumnya direncanakan berlaku efektif pada Agustus 2026 karena menanti terlebih dahulu kondisi perekonomian dan daya beli masyarakat membaik. (ANTARA FOTO/Abdan Syakura/wsj)

PONTIANAK POST - Mengatur keuangan bukan hanya soal mencari barang dengan harga murah. Cara mengalokasikan anggaran juga menentukan apakah kebiasaan belanja tetap berada dalam kondisi aman atau justru mengganggu keuangan dalam jangka panjang.

Financial planner, Ode Kustriani Atmaja menyarankan agar pengeluaran untuk kebutuhan konsumtif non-esensial tetap berada dalam batas aman.

Menurutnya, alokasi belanja non-prioritas idealnya sekitar 10–20 persen dari pendapatan bulanan setelah kebutuhan pokok, cicilan, dana darurat, dan investasi terpenuhi.

Baca Juga: Mau Hemat Belanja? Gunakan Rumus Cost Per Use untuk Membandingkan

’’Yang terpenting, pembelian barang konsumsi tidak menggunakan utang konsumtif atau mengorbankan tujuan keuangan jangka panjang,’’ tegasnya, dilansir dari Jawapos.

Jangan Belanja karena Tergoda Diskon

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah membeli barang bukan karena benar-benar dibutuhkan, melainkan karena tergoda harga diskon.

Baca Juga: Horoskop Cinta 14 Agustus 2026: Saatnya 12 Zodiak Belajar Memahami Pasangan dan Diri Sendiri

Ode menilai kebiasaan tersebut dapat membuat pengeluaran membesar, terlebih jika barang yang dibeli sebenarnya jarang digunakan.

Penggunaan cicilan atau paylater untuk membeli barang konsumsi juga berpotensi membebani kondisi keuangan.

Selain itu, konsumen perlu memperhitungkan biaya yang muncul setelah pembelian. Barang yang jarang digunakan, tetapi membutuhkan biaya perawatan dan penyimpanan, dapat membuat pengeluaran semakin besar.

Baca Juga: Jangan Terjebak Harga Murah, Begini Cara Memilih Barang yang Hemat

Bedakan Kebutuhan dan Keinginan

Sebelum berbelanja, konsumen perlu membiasakan diri memastikan apakah barang yang hendak dibeli benar-benar dibutuhkan.

’’Membiasakan diri membedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum berbelanja,’’ ucapnya.

Langkah tersebut dapat membantu konsumen menahan diri dari pembelian impulsif sekaligus menjaga agar anggaran tetap digunakan sesuai prioritas.

Konsumen juga perlu membandingkan harga barang baru dan second, menghitung biaya penggunaan, melakukan riset, serta menerapkan prinsip menunda pembelian sebelum mengambil keputusan.

Baca Juga: Menjelajahi Paris, Ibukota Belanja Dunia dari Galeries Lafayette hingga Pasar Loak

Jangan Memaksakan Kondisi Keuangan

Menentukan pilihan barang juga sebaiknya tidak membuat konsumen mengorbankan tujuan keuangan yang lebih penting.

Ode mengingatkan konsumen untuk melihat manfaat barang dalam jangka panjang, bukan sekadar mengejar merek atau mengikuti keinginan sesaat.

’’Fokus pada kualitas dan manfaat, bukan hanya merek. Prioritaskan barang yang memberikan manfaat jangka panjang dan jangan memaksakan kondisi keuangan demi mendapatkan barang tertentu,’’ lanjutnya.

Baca Juga: Naik Speedboat hingga Belanja Kuliner, Cara Unik BI Kalbar Kenalkan QRIS Lewat Kreator Konten

Dengan membatasi belanja non-prioritas dan memastikan pembelian tidak mengganggu kebutuhan utama, konsumen dapat lebih leluasa menentukan barang yang benar-benar memberikan manfaat.

Prinsipnya bukan sekadar mengeluarkan uang lebih sedikit, melainkan memastikan setiap pengeluaran tetap sejalan dengan kondisi dan tujuan keuangan. (*) 

Editor : Chairunnisya
keuangan sehat Financial Planner belanja konsumtif anggaran bulanan kebutuhan keinginan