PONTIANAK POST - Pemanfaatan cangkang kelapa sawit sebagai bahan baku biokokas menjadi salah satu riset yang dibahas BRIN dalam pengembangan teknologi pengolahan mineral.
Hasil pengujian menunjukkan biokokas dari cangkang sawit dapat digunakan sebagai reduktor dalam pengolahan nikel dan besi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) membahas inovasi tersebut dalam webinar Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-10, Kamis (13/8).
Baca Juga: BRIN Kembangkan Grafit Termodifikasi untuk Percepat Pengisian Baterai Mobil Listrik
Dosen Program Studi Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan, Asful Hariyadi, memaparkan riset berjudul Dekarbonisasi Metalurgi: Eksplorasi Turunan Biokarbon Cangkang Kelapa Sawit sebagai Reduktor Ramah Lingkungan pada Pengolahan Nikel dan Besi.
Cangkang Sawit Jadi Biokokas
Asful menjelaskan riset tersebut berkaitan dengan penggunaan kokas berbahan baku batu bara dalam proses peleburan nikel dan besi. Menurutnya, cangkang kelapa sawit dapat dikembangkan menjadi biokokas terbarukan.
“Limbah cangkang kelapa sawit (CKS) yang melimpah ternyata dapat dikembangkan menjadi biokokas terbarukan yang ramah lingkungan,” jelas Asful dikutip dari laman BRIN (15/8).
Briket biokokas berbasis cangkang sawit memiliki kadar karbon terikat di atas 80 persen. Material tersebut juga memiliki kekuatan tekan mekanis yang memenuhi kriteria untuk penggunaannya dalam blast furnace.
Baca Juga: Replanting Kelapa Sawit di Ketapang Didorong Tak Sekadar Kejar Produksi, Ini Pesan Penting Pemkab 97
Perolehan Nikel Capai 92 Persen
Pengujian peleburan feronikel menggunakan biokokas CKS mencatat tingkat perolehan hingga 92 persen untuk nikel dan 88 persen untuk besi.
Asful juga menyampaikan hasil studi Life Cycle Assessment mengenai penggunaan biokokas tersebut. Berdasarkan studi itu, integrasi biokokas mampu menekan potensi pemanasan global hingga di bawah 0,5 kg CO2-eq/kg produk.
Red Mud Bauksit Jadi Perhatian
Selain biokokas, BRIN membahas pemanfaatan residu bauksit atau red mud. Purna Bakti Periset PRTM BRIN Sariman mengatakan residu bauksit memiliki pH tinggi dengan volume mencapai 6 hingga 10 juta ton per tahun.
Residu tersebut mengandung besi sekitar 20–60 persen, serta unsur Logam Tanah Jarang (LTJ), termasuk neodymium, scandium, dan lanthanum.
Baca Juga: Bukannya Dilarang, Ini Alasan Mengapa Ekspor Alumina Kalbar Sempat Tersendat Gegara Aturan LTJ
Melalui kombinasi proses hidrometalurgi dan pirometalurgi dengan pelindian asam sulfat pada kondisi optimum, ekstraksi neodymium disebut mencapai 99,6 persen, sedangkan scandium mencapai 80,3 persen secara selektif.
Riset Tak Lagi Hanya Soal Hilirisasi
Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman mengatakan fokus riset pengolahan mineral di Indonesia mengalami perubahan.
Selain hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit, penelitian kini mencakup pemanfaatan sisa atau limbah hasil tambang untuk menghasilkan produk baru.
“Sekarang peneliti dituntut untuk memanfaatkan sisa atau limbah hasil tambang agar bisa diolah menjadi produk baru yang berdaya jual tinggi,” jelas Fajar.
Baca Juga: Dari Limbah Menjadi Nilai: Jalan Kalimantan Barat Menuju Industri Hijau
Pengembangan biokokas dari cangkang kelapa sawit dan pemanfaatan red mud menjadi bagian dari riset yang diarahkan pada pengolahan limbah serta pengembangan teknologi metalurgi hijau.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob