Makin Serius, Pemerintah Dorong Ekosistem Hidrogen Nasional

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 22:59 WIB
Tangki penyimpanan hidrogen hasil produksi Green Hydrogen Plant di PLTGU Muara Tawar, Jawa Barat. Hidrogen diproyeksikan menjadi sumber energi baru untuk menopang kebutuhan listrik industri hilirisasi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta menekan biaya pembangkitan listrik hingga 75 persen. (Dok PLN)
Tangki penyimpanan hidrogen hasil produksi Green Hydrogen Plant di PLTGU Muara Tawar, Jawa Barat. Hidrogen diproyeksikan menjadi sumber energi baru untuk menopang kebutuhan listrik industri hilirisasi, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta menekan biaya pembangkitan listrik hingga 75 persen. (Dok PLN)

 

PONTIANAK POST — Pemerintah tengah mendorong terbentuknya ekosistem hidrogen nasional sebagai bagian dari pengembangan energi bersih Indonesia. Langkah tersebut salah satunya diperkuat PLN Nusantara Power (PLN NP) melalui Hydrogen Refueling Station (HRS) Merah Putih 3.0 di Unit Pembangkitan Muara Tawar, Bekasi, Jawa Barat.

Fasilitas pengisian hidrogen tersebut memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 70 persen. Pengembangan HRS menjadi salah satu bagian penting dalam menyiapkan infrastruktur hidrogen, terutama untuk pemanfaatan di sektor transportasi.

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan HRS Merah Putih 3.0 dikembangkan secara internal oleh PLN NP. Kandungan lokal mencakup peralatan, instalasi, hingga jasa.

“Tingginya kandungan dalam negeri tersebut menjadi bagian dari upaya PLN NP memperkuat penguasaan teknologi sekaligus kompetensi nasional di bidang hidrogen,” terangnya.

HRS Dikembangkan Bertahap

HRS Merah Putih 3.0 merupakan bagian dari pengembangan teknologi hidrogen PLN NP yang dilakukan secara bertahap. Sebelumnya, perusahaan membangun HRS Merah Putih 1.0 di Muara Karang pada 2024.

Setahun kemudian, PLN NP mengembangkan HRS Merah Putih 2.0 di Rembang. Perseroan juga mengembangkan Mobile HRS yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.

Pengembangan secara bertahap tersebut menunjukkan upaya membangun kemampuan nasional dari sisi teknologi dan infrastruktur. 

Masuk Green Hydrogen Corridor Jakarta–Patimban

Pengembangan HRS Muara Tawar tidak berdiri sendiri. Fasilitas tersebut menjadi bagian dari rencana pembangunan Green Hydrogen Corridor di jalur Jakarta–Karawang–Patimban sepanjang 194 kilometer.

Direktur Energi Baru Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Senda Hurmuzan Kanam mengatakan keberadaan stasiun pengisian hidrogen menjadi salah satu fondasi dalam membangun ekosistem tersebut.

“HRS Muara Tawar menjadi bagian dari pembangunan Green Hydrogen Corridor di jalur Jakarta–Karawang–Patimban sepanjang 194 kilometer. Koridor ini diharapkan dapat mendukung pengembangan ekosistem hidrogen, khususnya untuk transportasi,” jelasnya.

Koridor tersebut diarahkan untuk menghubungkan infrastruktur hidrogen dengan kawasan yang memiliki aktivitas transportasi dan industri. Dengan begitu, fasilitas pengisian tidak hanya dibangun sebagai proyek tunggal, tetapi menjadi bagian dari jaringan pemanfaatan hidrogen.

Ekosistem Tak Cukup dengan Stasiun Pengisian

Pembangunan HRS menjadi salah satu bagian dari rantai hidrogen. Agar hidrogen dapat digunakan secara luas, kesiapan infrastruktur harus berjalan bersama dengan ketersediaan pasokan dan pengguna.

Rantai tersebut mencakup teknologi produksi, industri pendukung, infrastruktur distribusi dan pengisian, pemanfaatan hingga pembentukan pasar. Tanpa keseimbangan antarkomponen tersebut, pertumbuhan hidrogen berisiko berjalan lebih lambat.

Karena itu, pengembangan HRS Muara Tawar perlu dilihat sebagai bagian dari proses membangun ekosistem, bukan sekadar menambah fasilitas pengisian kendaraan.

Hidrogen Dikaitkan dengan Target NZE 2060

Pemerintah menempatkan hidrogen sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung transisi energi dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Potensi tersebut terutama berkaitan dengan sektor yang membutuhkan energi dengan karakteristik berbeda dari listrik berbasis baterai. Pengembangan hidrogen juga membuka peluang bagi industri nasional untuk menguasai teknologi dan membangun rantai pasok baru.

Namun, tantangannya tidak kecil. Harga produksi, ketersediaan energi rendah emisi, infrastruktur distribusi, standar keselamatan, serta kepastian pasar menjadi sejumlah faktor yang menentukan apakah ekosistem hidrogen dapat berkembang secara komersial.

Tantangan dari Hulu hingga Hilir

Pengembangan hidrogen nasional pada akhirnya membutuhkan keterhubungan antara produsen, penyedia infrastruktur dan pengguna. Pemerintah, BUMN, industri, dan konsumen perlu memiliki peran yang jelas dalam membangun rantai tersebut.

HRS Merah Putih 3.0 di Muara Tawar menjadi salah satu contoh pengembangan infrastruktur yang diarahkan untuk memperkuat kemampuan dalam negeri. Dengan TKDN lebih dari 70 persen, proyek tersebut juga membawa agenda penguasaan teknologi nasional.

Tahap berikutnya adalah memastikan hidrogen yang diproduksi memiliki pasokan berkelanjutan, tersedia dengan biaya kompetitif, serta memiliki pasar yang cukup untuk membuat ekosistem tersebut tumbuh.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
hidrogen hijau HRS Merah Putih 3.0 Green Hydrogen Corridor energi bersih PLN Nusantara Power