Residu Bauksit 10 Juta Ton per Tahun Bisa Diolah Jadi Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:51 WIB
Ilustrasi mineral tanah jarang Skandium dari limbah bauksit yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak di Kalimantan Barat. (Gemini AI)
Ilustrasi mineral tanah jarang Skandium dari limbah bauksit yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak di Kalimantan Barat. (Gemini AI)

 

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat sebagai penghasil bauksit terbesar di Indonesia memiliki peluang dari limbah pengolahan mineral. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia menghasilkan residu bauksit atau red mud dalam jumlah besar setiap tahun, diperkirakan mencapai 6 hingga 10 juta ton, yang kini berpotensi diolah menjadi sumber mineral bernilai tinggi.

Purna Bakti Periset Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN Sariman mengatakan residu tersebut tidak hanya menjadi persoalan lingkungan. Kandungan besi serta sejumlah logam tanah jarang (LTJ) membuat residu bauksit memiliki peluang ekonomi apabila diolah dengan teknologi yang tepat melalui konsep metalurgi hijau.

Residu Bauksit Capai 10 Juta Ton per Tahun

Sariman memaparkan potensi tersebut dalam webinar Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-10 yang digelar BRIN melalui PRTM, Kamis (13/8). Ia membahas transformasi residu bauksit menjadi produk bernilai tinggi melalui pendekatan pirometalurgi dan hidrometalurgi.

Menurut Sariman, residu bauksit memiliki pH tinggi sehingga membutuhkan pengelolaan serius agar tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Volume yang mencapai jutaan ton setiap tahun membuat pengelolaan residu menjadi bagian penting dalam hilirisasi bauksit nasional.

"Urgensi pengelolaan residu bauksit ber-pH tinggi volumenya mencapai 6 hingga 10 juta ton per tahun. Hal tersebut agar tidak mencemari lingkungan sekaligus dapat dimanfaatkan potensi ekonominya," terang Sariman.

Red Mud Mengandung Besi dan Logam Tanah Jarang

Residu bauksit atau red mud ternyata masih menyimpan berbagai unsur mineral. Sariman menyebut kandungan besinya berada pada kisaran 20 hingga 60 persen.

Selain besi, residu tersebut mengandung sejumlah unsur Logam Tanah Jarang seperti Neodymium, Scandium, dan Lanthanum. Kandungan tersebut membuka peluang pemanfaatan residu sebagai sumber daya sekunder.

"Residu bauksit memiliki potensi ekonomi yang sangat besar karena mengandung besi berkisar 20–60 persen serta unsur Logam Tanah Jarang (LTJ) seperti Neodymium, Scandium, dan Lanthanum," ujarnya.

Ekstraksi Neodymium Capai 99,6 Persen

BRIN mengembangkan pendekatan kombinasi hidrometalurgi dan pirometalurgi untuk mengolah residu bauksit. Salah satu proses yang dipaparkan menggunakan pelindian asam sulfat pada kondisi optimum. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi ekstraksi yang signifikan:

Menurut Sariman, karakteristik metode tersebut menunjukkan peluang penerapan dalam skala lebih besar. Teknologi itu juga diarahkan untuk mendukung prinsip ekonomi sirkular dengan mengubah limbah industri menjadi sumber daya sekunder bernilai tambah.

Dari Limbah Menjadi Bahan Baku Strategis

Pengolahan residu bauksit memiliki arti penting bagi industri mineral Indonesia. Selama ini, perhatian hilirisasi bauksit lebih banyak diarahkan pada produk utama, sementara sisa proses pengolahan masih menjadi persoalan yang harus ditangani.

Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman mengatakan arah riset mineral kini mulai bergeser. Peneliti tidak hanya dituntut menghasilkan produk dari mineral utama, tetapi juga mencari cara memanfaatkan sisa atau limbah hasil tambang.

"Fokus riset pengolahan mineral di Indonesia saat ini telah mengalami perubahan besar. Jika beberapa tahun lalu Indonesia fokus terhadap hilirisasi dari mineral nikel dan bauksit dengan orientasi produk, sekarang peneliti dituntut untuk memanfaatkan sisa atau limbah hasil tambang agar bisa diolah menjadi produk baru yang berdaya jual tinggi," jelas Fajar.

Metalurgi Hijau Jadi Arah Baru Hilirisasi

Fajar menilai pengembangan teknologi pengolahan mineral ke depan harus berjalan beriringan dengan prinsip ramah lingkungan. Pengelolaan limbah dan penggunaan teknologi metalurgi hijau menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan industri.

"Dengan sinergi yang kuat, pengembangan teknologi pengolahan limbah dan metalurgi hijau dapat menguatkan hilirisasi mineral strategis. Di samping itu juga mendukung keberlanjutan industri nasional di masa depan," ungkapnya.

Webinar tersebut juga memaparkan inovasi lain berupa pemanfaatan cangkang kelapa sawit sebagai bahan baku biokokas untuk proses pengolahan nikel dan besi. Teknologi ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kokas berbasis batu bara sekaligus menekan emisi.

Cangkang Sawit Diolah Jadi Biokokas

Dosen Teknik Kimia Institut Teknologi Kalimantan Asful Hariyadi mengatakan cangkang kelapa sawit yang selama ini menjadi limbah dapat dikembangkan menjadi biokokas terbarukan. Material tersebut digunakan sebagai reduktor dalam proses pengolahan logam.

Briket biokokas berbasis cangkang sawit yang diuji memiliki kadar karbon terikat di atas 80 persen. Kekuatan tekan mekanisnya juga disebut memenuhi kriteria standar untuk penggunaan dalam blast furnace.

"Limbah cangkang kelapa sawit (CKS) yang melimpah ternyata dapat dikembangkan menjadi biokokas terbarukan yang ramah lingkungan," jelas Asful.

Biokokas Cangkang Sawit Raup Nikel 92 Persen

Dalam uji coba peleburan feronikel, penggunaan biokokas berbasis cangkang kelapa sawit memberikan hasil efisiensi tinggi:

Asful juga menyebut hasil studi Life Cycle Assessment menunjukkan penggunaan biokokas tersebut berpotensi menekan dampak pemanasan global hingga di bawah 0,5 kg CO2-eq per kg produk, jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan kokas batu bara konvensional.

Limbah Industri Didorong Masuk Rantai Ekonomi

Riset BRIN bersama perguruan tinggi menunjukkan limbah industri mineral masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Residu bauksit dapat diarahkan menjadi sumber besi dan logam tanah jarang, sedangkan limbah cangkang sawit dapat digunakan sebagai bahan pendukung proses metalurgi.

Tantangan berikutnya adalah membawa inovasi tersebut dari tahap penelitian menuju penerapan industri. Kesiapan teknologi, keekonomian proses, kebutuhan investasi, serta standar lingkungan menjadi faktor penting sebelum pemanfaatan dapat dilakukan secara luas.

Jika berhasil diterapkan, pendekatan tersebut dapat mengubah cara industri melihat limbah. Material yang sebelumnya menjadi beban pengelolaan berpeluang menjadi sumber bahan baku baru sekaligus memperkuat hilirisasi mineral yang lebih ramah lingkungan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Logam tanah jarang red mud metalurgi hijau Hilirisasi Bauksit BRIN