BRIN Kembangkan Teknologi Ubah Red Mud Bauksit Jadi Mineral Bernilai Tinggi

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 23:55 WIB
Ilustrasi unsur Skandium yang terdapat pada limbah pengolahan bauksit kini jadi mineral bernilai tinggi. (WIKIPEDIA)
Ilustrasi unsur Skandium yang terdapat pada limbah pengolahan bauksit kini jadi mineral bernilai tinggi. (WIKIPEDIA)

 

PONTIANAK POST — Residu bauksit atau red mud yang selama ini menjadi persoalan lingkungan mulai dilirik sebagai sumber mineral bernilai ekonomi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi untuk mengolah limbah tersebut menjadi produk bernilai tinggi melalui pendekatan hidrometalurgi dan pirometalurgi.

Pengembangan itu dipaparkan dalam webinar Diskusi Seputar Mineral Strategis Indonesia seri ke-10 yang digelar Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN, Kamis (13/8). Peneliti BRIN menyebut volume residu bauksit di Indonesia mencapai sekitar 6–10 juta ton per tahun.

Red Mud Tak Sekadar Limbah

Purna Bakti Periset PRTM BRIN, Sariman, mengatakan pengelolaan residu bauksit mendesak dilakukan karena material tersebut memiliki karakteristik basa atau pH tinggi.

"Urgensi pengelolaan residu bauksit ber-pH tinggi volumenya mencapai 6 hingga 10 juta ton per tahun. Hal tersebut agar tidak mencemari lingkungan sekaligus dapat dimanfaatkan potensi ekonominya," kata Sariman.

Menurut Sariman, residu bauksit masih mengandung sejumlah mineral yang berpotensi dimanfaatkan. Kandungan besinya diperkirakan berada pada kisaran 20–60 persen, selain unsur logam tanah jarang seperti neodymium, scandium, dan lanthanum.

Kandungan tersebut membuat red mud tidak lagi semata dipandang sebagai limbah. Material sisa pengolahan bauksit itu berpotensi menjadi sumber daya sekunder untuk mendukung hilirisasi mineral.

Teknologi Ekstraksi Dikembangkan

Sariman memaparkan penelitian bertajuk Transformasi Residu Bauksit Menjadi Produk Bernilai Tinggi Melalui Pendekatan Pirometalurgi dan Hidrometalurgi untuk Hilirisasi Mineral Strategis Indonesia.

Melalui kombinasi teknologi hidrometalurgi dan pirometalurgi, peneliti menggunakan proses pelindian asam sulfat pada kondisi tertentu untuk mengekstraksi mineral secara selektif.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat perolehan neodymium mencapai 99,6 persen, sedangkan scandium mencapai 80,3 persen.

Teknologi tersebut dinilai berpotensi dikembangkan lebih lanjut karena dapat mengurangi volume limbah sekaligus menghasilkan bahan bernilai tambah.

Pendekatan itu juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni mengubah material sisa dari proses industri menjadi sumber daya baru.

Tantangan Industri Bukan Hanya Produksi

Kepala PRTM BRIN Fajar Nurjaman mengatakan arah riset pengolahan mineral di Indonesia mulai bergeser. Jika sebelumnya perhatian banyak diarahkan pada hilirisasi mineral seperti nikel dan bauksit, kini pemanfaatan sisa proses produksi menjadi bagian penting dari penelitian.

"Peneliti dituntut untuk memanfaatkan sisa atau limbah hasil tambang agar bisa diolah menjadi produk baru yang berdaya jual tinggi," ujar Fajar.

Menurut dia, pengembangan teknologi pengolahan mineral juga perlu memperhatikan aspek lingkungan. Teknologi metalurgi hijau dinilai penting agar peningkatan nilai tambah mineral tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru.

Peluang Hilirisasi Bauksit

Indonesia memiliki sumber daya bauksit yang besar. Namun, manfaat ekonomi komoditas tersebut tidak hanya ditentukan oleh kegiatan penambangan dan pengolahan bijih menjadi produk antara.

Pemanfaatan residu pengolahan juga menjadi bagian dari tantangan hilirisasi. Jika teknologi ekstraksi dapat diterapkan secara ekonomis pada skala industri, red mud berpotensi menjadi sumber bahan baku sekunder untuk berbagai kebutuhan industri.

Hal ini sekaligus membuka peluang mengurangi beban lingkungan dari timbunan residu bauksit.

Dari Limbah Menjadi Sumber Daya

Forum BRIN tersebut menunjukkan bahwa masa depan hilirisasi mineral tidak hanya berbicara tentang menghasilkan lebih banyak produk dari bahan tambang.

Persoalan limbah juga menjadi bagian dari rantai industri. Residu bauksit yang sebelumnya harus dikelola sebagai material sisa kini diteliti untuk mendapatkan kembali kandungan mineral yang masih bernilai.

Jika riset tersebut dapat ditingkatkan dari skala penelitian menuju penerapan industri, red mud berpotensi berubah dari persoalan lingkungan menjadi bagian dari solusi hilirisasi mineral yang lebih berkelanjutan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
mineral tanah jarang red mud residu bauksit mineral Hilirisasi Bauksit