Ekspor Kalbar Turun Tajam pada Juli 2026, Neraca Perdagangan Berbalik Defisit

Novantar Ramses Negara • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 12:27 WIB
Muhammad Saichudin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat.
Muhammad Saichudin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat.

PONTIANAK POST - Kinerja perdagangan luar negeri Kalimantan Barat mengalami tekanan pada Juli 2026. Nilai ekspor turun 42,76 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sementara impor justru meningkat 20,29 persen. Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan Kalbar berbalik menjadi defisit USD15,10 juta.

Tercatat nilai ekspor Kalbar pada Juli 2026 tercatat US$118,78 juta, turun dari USD207,53 juta pada Juni 2026. Di sisi lain, nilai impor meningkat dari USD111,30 juta pada Juni menjadi USD133,88 juta pada Juli 2026.

Kepala Badan Pusat Statistk Kalimantan Barat Muh Saichudin mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan perubahan posisi perdagangan Kalbar pada Juli 2026, setelah pada bulan sebelumnya masih mencatat surplus USD96,23 juta.

Baca Juga: Indonesia-Mesir Perkuat Perdagangan dan Investasi, Budi Santoso Dorong JTC Kedua Digelar Tahun 2026

“Pada Juli 2026, selisih antara nilai ekspor dan impor menghasilkan defisit perdagangan sebesar USD15,10 juta,” kata Saichudin, di Pontianak, kemarin.

Meski demikian, secara kumulatif Januari–Juli 2026, neraca perdagangan Kalbar masih mencatat surplus USD536,27 juta. Nilai tersebut berasal dari ekspor sebesar USD1,15 miliar dan impor USD616,72 juta.

Penurunan ekspor pada Juli 2026 terutama terjadi pada sejumlah komoditas utama. Lemak dan minyak hewan/nabati menjadi penyumbang terbesar dengan nilai USD58,82 juta atau 49,52 persen dari total ekspor.

Selanjutnya, bahan kimia anorganik menyumbang USD36,31 juta atau 30,57 persen, serta karet dan barang dari karet sebesar USD8,24 juta atau 6,94 persen.

Baca Juga: Kalbar Perkuat Kerja Sama Dagang dengan Jatim Lewat Investasi dan Hilirisasi Produk

“Ketiga golongan barang tersebut menyumbang 87,03 persen terhadap total ekspor Kalbar pada Juli,” sebut Saichudin.

Dibandingkan Juni, ekspor bahan kimia anorganik mengalami penurunan 65,91 persen, dari USD106,52 juta menjadi USD36,31 juta. Ekspor lemak dan minyak hewan/nabati juga turun 21,42 persen. Sebaliknya, ekspor karet dan barang dari karet meningkat 34,20 persen.

Meski mengalami penurunan secara bulanan, nilai ekspor secara kumulatif Januari–Juli 2026 mencapai USD1,15 miliar atau naik tipis 0,10 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Baca Juga: Tembaga Dominasi Ekspor NTB Juli 2026, Capai 93,55 Persen dari Total Ekspor

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok menjadi pasar ekspor terbesar Kalimantan Barat pada Juli 2026 dengan nilai USD34,23 juta atau 28,82 persen dari total ekspor. India berada di posisi kedua dengan USD23,30 juta atau 19,62 persen, disusul Mesir sebesar USD15,78 juta atau 13,29 persen. Total ekspor ke tiga negara tersebut mencapai USD73,31 juta atau 61,73 persen dari keseluruhan ekspor Kalbar pada Juli.

Ekspor ke Tiongkok meningkat 119,14 persen dibandingkan Juni, sedangkan ekspor ke Mesir naik 60,20 persen. Sebaliknya, ekspor ke India turun 12,73 persen. Secara kawasan, negara-negara Asia masih mendominasi tujuan ekspor Kalbar dengan kontribusi 84,77 persen.

Sementara itu, impor Kalimantan Barat pada Juli 2026 mencapai USD133,88 juta atau naik 20,29 persen dibandingkan Juni. Secara kumulatif, nilai impor Januari–Juli 2026 mencapai USD616,72 juta. Angka ini meningkat 155,36 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Impor terbesar berasal dari mesin-mesin atau pesawat mekanik dengan nilai USD82,28 juta atau 61,46 persen dari total impor. Berikutnya bahan bakar mineral sebesar USD18,42 juta atau 13,76 persen dan mesin/peralatan listrik sebesar USD8,12 juta atau 6,07 persen.

“Ketiga kelompok barang tersebut menyumbang US$108,82 juta atau 81,29 persen dari total impor Kalbar pada Juli,” ujar Saichudin.

Dari sisi negara asal, Tiongkok menjadi pemasok terbesar dengan nilai USD98,86 juta atau 73,84 persen. Malaysia menyusul sebesar USD19,20 juta atau 14,34 persen, dan Singapura USD7,40 juta atau 5,53 persen.

“Ketiga negara tersebut memasok 93,71 persen dari total impor Kalbar pada Juli 2026,” tambah Saichudin.

Saichudin mengatakan, meskipun neraca perdagangan pada Juli mengalami defisit, posisi perdagangan Kalbar secara kumulatif Januari–Juli 2026 masih mencatat surplus.

“Secara kumulatif Januari–Juli 2026, neraca perdagangan Kalimantan Barat masih surplus US$536,27 juta,” pungkas Saichudin. (mse)

Editor : Hanif
impor Kalbar neraca perdagangan Kalbar Perdagangan Luar Negeri bps kalbar EKSPOR KALBAR