PONTIANAK POST - Potensi logam tanah jarang (LTJ) di Kalimantan Barat menjadi salah satu peluang pengembangan mineral strategis yang membutuhkan penguatan teknologi eksplorasi, pemrosesan, dan pemisahan di dalam negeri.
Peneliti sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti mengatakan Badan Industri Mineral (BIM) memiliki peran penting dalam menyiapkan kemampuan Indonesia mengolah mineral strategis, termasuk LTJ.
"Tugas BIM bersifat sebagai otak dan tata kelola," kata Yayan kepada ANTARA di Jakarta, Senin (7/9).
Potensi LTJ Kalimantan Barat
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat LTJ di Indonesia antara lain terdapat pada endapan sekunder yang berasosiasi dengan timah plaser, termasuk di sebagian wilayah Kalimantan Barat.
Potensi tersebut membuat Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah yang relevan dalam pengembangan rantai pasok LTJ nasional.
Baca Juga: Residu Bauksit 10 Juta Ton per Tahun Bisa Diolah Jadi Logam Tanah Jarang Bernilai Tinggi
Kajian LTJ di Sejumlah Wilayah Kalbar
Badan Geologi telah melakukan evaluasi batuan pembawa LTJ di Kabupaten Melawi dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, untuk mengetahui kandungan LTJ pada batuan dan lapukannya serta menentukan target dan metode penyelidikan untuk eksplorasi selanjutnya.
Badan Geologi juga memiliki laporan prospeksi LTJ di Kabupaten Sambas yang dilakukan dalam kerja sama bidang geologi dan sumber daya mineral di wilayah perbatasan Kalimantan.
Potensi logam tanah jarang di Kalimantan Barat bukan sekadar wacana riset. Badan Geologi mengatakan potensi tersebut berkaitan dengan keberadaan mineral ikutan yang selama ini ditemukan bersama komoditas tambang utama.
Kementerian ESDM menjelaskan bahwa LTJ di Indonesia umumnya tidak berdiri sebagai komoditas tunggal, tetapi muncul sebagai mineral ikutan pada sejumlah bahan tambang, termasuk bauksit di Kalimantan Barat. Mineral pembawa LTJ yang banyak ditemukan antara lain monasit, xenotim, zirkon, dan ilmenit.
Namun, keterdapatan LTJ dan hasil kajian awal tersebut perlu dibedakan dari status cadangan ekonomis. Pengembangan lebih lanjut tetap membutuhkan eksplorasi dan kajian sumber daya yang lebih rinci.
BIM Dinilai Penting Siapkan Hilirisasi LTJ
Yayan mengatakan BIM dapat berperan dalam mempercepat penelitian dan pengembangan, meningkatkan efisiensi pengolahan mineral strategis, serta menjembatani hasil riset dengan kebutuhan industri.
Menurut dia, pengembangan LTJ tidak cukup berhenti pada tahap menemukan sumber daya. Indonesia perlu menguasai teknologi pemisahan karena mineral pembawa LTJ memiliki komposisi yang kompleks.
"Untuk LTJ, kita harus menguasai teknologi separasi yang kita belum punya," ujarnya.
Baca Juga: MIND ID Perluas Hilirisasi Bauksit Kalbar ke Pengolahan Logam Tanah Jarang
Tantangan Teknologi Pemisahan
Yayan menjelaskan salah satu tantangan utama Indonesia adalah belum tersedianya fasilitas pemisahan yang mampu menghasilkan unsur LTJ bernilai tinggi secara terintegrasi.
Ia menyebut empat unsur logam magnetik, yakni neodimium, praseodimium, disprosium, dan terbium, memiliki nilai strategis tinggi.
Menurut Yayan, nilai LTJ terkonsentrasi pada empat unsur tersebut meskipun proporsinya terhadap massa keseluruhan relatif kecil.
Karena itu, kemampuan memisahkan dan memurnikan setiap unsur menjadi faktor penting agar potensi mineral dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Aspek Radioaktif Perlu Diperhatikan
Pengembangan LTJ juga menghadapi tantangan terkait mineral ikutan yang dapat membawa material radioaktif.
Yayan mengatakan keberadaan material seperti torium dan uranium yang dapat menyertai monasit perlu diantisipasi melalui standar pengolahan, pengujian, dan sertifikasi yang memadai.
Pengujian kandungan LTJ juga diperlukan untuk mengetahui karakter mineral serta jenis dan kadar unsur yang terkandung sebelum masuk ke tahap pengolahan lebih lanjut.
Kerja Sama Teknologi Bisa Percepat Hilirisasi
Yayan mendorong Indonesia membangun kerja sama dengan pemilik teknologi dari negara lain untuk mempercepat penguasaan teknologi pemisahan LTJ.
Ia mencontohkan kerja sama dengan perusahaan seperti Lynas Malaysia dan mitra dari India sebagai salah satu pilihan untuk memperpendek proses pembelajaran teknologi.
Menurut dia, kerja sama semacam itu dapat menjadi salah satu cara untuk mempercepat pembangunan kemampuan nasional tanpa harus memulai seluruh proses pengembangan teknologi dari tahap awal.
Hilirisasi Mineral Jadi Agenda Pemerintah
Pengembangan kemampuan pengolahan LTJ menjadi semakin relevan seiring dorongan pemerintah mempercepat hilirisasi mineral strategis.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mendorong percepatan hilirisasi dan restrukturisasi badan usaha milik negara dalam pertemuan di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/9).
Pertemuan tersebut dihadiri antara lain Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Menteri BUMN Rosan Roeslani, serta jajaran Danantara.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya pada Sabtu (5/9) menyampaikan bahwa percepatan hilirisasi menjadi salah satu agenda utama pemerintah.
Kalbar Membutuhkan Eksplorasi Lanjutan
Dalam konteks Kalimantan Barat, pengembangan LTJ masih membutuhkan pendalaman data geologi dan eksplorasi sebelum potensi sumber dayanya dapat diterjemahkan menjadi basis industri.
Tahapan tersebut penting untuk memastikan karakteristik mineral, kandungan unsur, serta kelayakan pengolahan sebelum pembangunan industri hilir dilakukan.
Dengan demikian, potensi LTJ Kalimantan Barat tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku, tetapi juga kesiapan teknologi untuk mengolah mineral tersebut menjadi produk bernilai tambah.
BIM, menurut Yayan, dapat mengambil posisi strategis untuk menghubungkan riset, penguasaan teknologi, tata kelola mineral, dan kebutuhan industri sehingga potensi LTJ di daerah seperti Kalimantan Barat dapat dikembangkan lebih lanjut.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara