Bauksit Tembus 17,76 Juta Ton: Kalbar Jadi Tumpuan Hilirisasi Alumina dan Aluminium Nasional

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 00:54 WIB
INVESTASI: Fasilitas smelter alumina milik PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah pada malam hari. Keberadaan smelter ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat hilirisasi bauksit nasional.  (FOTO INALUM)
INVESTASI: Fasilitas smelter alumina milik PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah pada malam hari. Keberadaan smelter ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat hilirisasi bauksit nasional.  (FOTO INALUM)

 

PONTIANAK POST — Produksi bauksit Indonesia mencapai 17,76 juta ton hingga 1 September 2026. Angka tersebut menempatkan komoditas yang banyak ditambang di Kalimantan Barat itu sebagai bagian penting dalam agenda hilirisasi mineral nasional.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan pengelolaan bauksit dan komoditas tambang lainnya tidak lagi hanya mengejar volume produksi. Pemerintah ingin bijih mineral diolah menjadi produk bernilai tambah sebelum masuk ke rantai industri.

“Orientasinya bukan hanya berapa banyak yang kita produksi, tetapi berapa besar nilai tambah yang kita dapatkan atau kita ciptakan dari industri pertambangan,” kata Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno.

Ia menyampaikan data tersebut dalam acara Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia di Jakarta, Kamis (10/9) dilansir dari ANTARA.

Kalbar Menjadi Mata Rantai Utama

Kalimantan Barat memegang posisi penting dalam hilirisasi bauksit karena memiliki sumber bahan baku sekaligus fasilitas pengolahan di Mempawah.

Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah mempunyai kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun. Untuk mencapai kapasitas tersebut, fasilitas itu membutuhkan sekitar 3,3 juta ton bauksit tercuci setiap tahun.

Alumina merupakan hasil pengolahan bauksit yang selanjutnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan aluminium. Kehadiran SGAR membuat mineral dari Kalbar tidak berhenti sebagai bijih tambang.

Pasokan bauksit untuk fasilitas tersebut berasal dari wilayah pertambangan PT Aneka Tambang Tbk di Kabupaten Mempawah dan Landak. Pabrik dikelola PT Borneo Alumina Indonesia, perusahaan patungan PT Indonesia Asahan Aluminium dan Antam.

Kapasitas Alumina Akan Digandakan

Pengembangan SGAR Fase II dirancang menambah kapasitas produksi sebesar satu juta ton alumina per tahun. Jika kedua fase beroperasi sesuai kapasitas, produksi alumina domestik dari Mempawah dapat mencapai dua juta ton per tahun.

Fasilitas tersebut diproyeksikan menyerap sekitar enam juta ton bijih bauksit per tahun. Seluruh bahan baku direncanakan berasal dari wilayah izin pertambangan Antam di Mempawah dan Landak.

Di kawasan yang sama juga akan dibangun pabrik peleburan aluminium dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun. Produksinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Jika digabungkan dengan fasilitas Inalum di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, kapasitas produksi aluminium perusahaan itu diproyeksikan mencapai sekitar 900 ribu ton per tahun.

Pengembangan fasilitas bauksit, alumina, dan aluminium terintegrasi di Mempawah membutuhkan investasi sekitar Rp104,55 triliun atau setara 6,23 miliar dolar AS. Proyek tersebut diperkirakan berpotensi meningkatkan penerimaan negara hingga Rp6,6 triliun per tahun, menurut perhitungan Inalum.

PNBP Minerba Naik Rp21 Triliun

Peningkatan nilai tambah komoditas tambang menjadi penting ketika penerimaan negara dari subsektor mineral dan batu bara terus meningkat.

Kementerian ESDM mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) minerba mencapai Rp108 triliun hingga 31 Agustus 2026. Jumlah tersebut naik Rp21 triliun atau sekitar 24 persen dibandingkan Rp87 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Porsi terbesar masih berasal dari batu bara. Komoditas tersebut menyumbang PNBP Rp66 triliun, naik dari Rp59 triliun pada periode yang sama 2025.

PNBP nikel juga meningkat dari Rp10 triliun menjadi Rp21 triliun. Namun, ESDM belum memerinci nilai khusus yang disumbangkan komoditas bauksit terhadap total PNBP minerba.

Produksi Tidak Harus Digenjot

Kenaikan PNBP terjadi ketika rata-rata produksi batu bara justru lebih rendah. Sepanjang 2025, produksi batu bara mencapai 817,48 juta ton atau rata-rata 68,1 juta ton per bulan.

Hingga Juli 2026, produksinya tercatat 423,71 juta ton. Rata-ratanya sekitar 60,5 juta ton per bulan.

Menurut Tri, kondisi itu memperlihatkan bahwa peningkatan penerimaan tidak selalu harus ditempuh dengan memperbesar produksi. Harga komoditas, permintaan pasar, kebutuhan domestik, logistik, dan keberlanjutan cadangan juga perlu diperhitungkan.

“Pendekatan kita adalah optimum production, di mana produksi ini harus diseimbangkan dengan pasar, kebutuhan pasar, DMO atau domestic market obligation, kondisi harga, logistik, serta keberlanjutan cadangan,” ujarnya.

Tantangan Hilirisasi di Kalbar

Produksi bauksit nasional sebesar 17,76 juta ton membuka pasokan bagi industri pengolahan. Namun, besarnya produksi belum otomatis memberikan dampak maksimal bagi daerah penghasil.

Manfaat bagi Kalbar bergantung pada kemampuan proyek hilirisasi menyerap tenaga kerja lokal, melibatkan usaha daerah, menjaga lingkungan, serta menghasilkan penerimaan yang kembali dirasakan masyarakat sekitar tambang dan pabrik.

Rantai industri di Mempawah dirancang menghubungkan bauksit, alumina, dan aluminium dalam satu kawasan. Jika berjalan sesuai target, Kalbar tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi menjadi salah satu pusat industri aluminium nasional.

Di tengah besarnya investasi, pengawasan lingkungan dan pemulihan kawasan tambang tetap harus berjalan. Nilai tambah bauksit tidak hanya diukur dari jumlah alumina dan aluminium yang diproduksi, tetapi juga dari manfaat ekonomi serta jejak lingkungan yang ditinggalkan di Kalimantan Barat. 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
PNBP sektor minerba Hilirisasi bauksit Kalbar produksi alumina Indonesia industri aluminium nasional SGAR Mempawah