Produksi Bauksit ANTAM Tembus 1,3 Juta Ton Basah, Hilirisasi di Mempawah Perbesar Nilai Tambah

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 00:58 WIB
Investasi hilirisasi bauksit melonjak 193 persen. Hilirisasi bauksit memperkuat posisi Kalbar sebagai pusat smelter dan membuka peluang kerja. (MIND ID)
Investasi hilirisasi bauksit melonjak 193 persen. Hilirisasi bauksit memperkuat posisi Kalbar sebagai pusat smelter dan membuka peluang kerja. (MIND ID)

 

PONTIANAK POST — PT Aneka Tambang Tbk memproduksi sekitar 1,3 juta wet metric ton (wmt) bauksit sepanjang semester pertama 2026. Volume penjualannya juga mencapai sekitar 1,3 juta wmt dengan pendapatan Rp870 miliar.

Kontribusi bauksit tersebut baru sekitar 1,4 persen dari total pendapatan Antam yang mencapai Rp62,71 triliun. Emas masih mendominasi pendapatan perseroan dengan kontribusi sekitar Rp50,1 triliun.

Posisi bauksit yang relatif kecil memperlihatkan pentingnya hilirisasi komoditas tersebut. Antam memiliki tambang bauksit di Kabupaten Mempawah dan Landak, Kalimantan Barat, yang menjadi sumber bahan baku industri alumina.

Pengolahan bauksit menjadi alumina di Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah diharapkan membuat nilai ekonominya tidak berhenti pada penjualan bijih tambang.

Laba Antam Tembus Rp6,91 Triliun

Secara keseluruhan, Antam membukukan laba bersih Rp6,91 triliun pada semester pertama 2026. Laba tersebut meningkat 34,4 persen dibandingkan Rp5,14 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan laba jauh melampaui kenaikan pendapatan. Pendapatan Antam naik 6,3 persen dari Rp59,02 triliun menjadi Rp62,71 triliun.

“Pada semester I-2026, kami membukukan sekitar Rp63 triliun dengan laba bersih sekitar Rp6,9 triliun,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira.

Ia menyampaikan kinerja tersebut dalam Public Expose Live 2026 yang berlangsung secara daring, Kamis (10/9).

Kenaikan laba membuat margin laba bersih Antam meningkat dari sekitar 8,7 persen menjadi 11 persen. Namun, perseroan menyatakan penguatan profitabilitas terutama ditopang efisiensi serta penjualan emas dan nikel, bukan bauksit.

“Ini sebetulnya merupakan buah dari komitmen perusahaan atas fokus kita di eksekusi efisiensi operasional dan juga menjaga kualitas produksi dan volume penjualan, utamanya di emas dan nikel,” ujar Arini.

Emas Masih Mendominasi

Segmen emas menyumbang sekitar Rp50,1 triliun atau hampir 80 persen dari total pendapatan Antam. Perseroan memproduksi 430 kilogram emas dan membukukan penjualan 18,1 ton selama enam bulan pertama 2026.

Perbedaan besar antara produksi dan penjualan menunjukkan sebagian emas yang dipasarkan Antam berasal dari sumber eksternal. Perseroan tidak hanya menjual emas hasil tambangnya sendiri.

Segmen bijih nikel dan feronikel menyumbang pendapatan sekitar Rp10,4 triliun atau 16,6 persen dari total pendapatan. Sementara itu, bauksit menyumbang sekitar Rp870 miliar.

Komposisi tersebut menunjukkan bisnis Antam masih sangat bergantung pada emas. Bauksit belum menjadi sumber pendapatan utama meskipun produksinya mencapai jutaan ton.

Nilai Bauksit Ada di Hilir

Bauksit merupakan bahan baku pembuatan alumina. Alumina selanjutnya dilebur menjadi aluminium yang digunakan pada industri transportasi, konstruksi, kelistrikan, kemasan, dan berbagai produk manufaktur.

Karena itu, peningkatan nilai tambah tidak cukup hanya mengandalkan penjualan bauksit dalam satuan ton basah. Nilai ekonomi yang lebih besar berada pada tahap pengolahan menjadi alumina dan aluminium.

SGAR Fase I di Mempawah memiliki kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun. Fasilitas tersebut membutuhkan sekitar 3,3 juta ton bauksit tercuci untuk mencapai kapasitas penuh.

Antam akan memasok bauksit dari wilayah pertambangannya di Mempawah dan Landak. SGAR dikelola PT Borneo Alumina Indonesia, perusahaan patungan Antam dan PT Indonesia Asahan Aluminium.

Pengembangan SGAR Fase II dirancang menambah kapasitas satu juta ton alumina per tahun. Jika terealisasi, total kapasitas pengolahan di Mempawah akan mencapai dua juta ton alumina dengan kebutuhan sekitar enam juta ton bauksit per tahun.

Produksi dan Penjualan Seimbang

Antam mencatat produksi dan penjualan bauksit masing-masing sekitar 1,3 juta wmt pada semester pertama. Kesetaraan volume tersebut menunjukkan hasil produksi dapat terserap selama periode pelaporan.

Namun, perseroan tidak memerinci dalam paparan tersebut berapa banyak bauksit yang dijual kepada pihak luar dan berapa volume yang diserap fasilitas pengolahan.

Data itu penting untuk mengukur perubahan model bisnis Antam dari penjual bijih menuju pemasok bahan baku industri alumina terintegrasi.

Hilirisasi juga akan menentukan seberapa besar kekayaan bauksit Kalbar menghasilkan kegiatan ekonomi lanjutan. Dampaknya dapat berbentuk lapangan kerja, jasa penunjang, penerimaan negara, dan aktivitas industri pengolahan di daerah.

Efisiensi Tekan Biaya

Head of Investor Relations Antam Ihsan Rahman mengatakan perusahaan terus berupaya meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi. Sinergi antarunit bisnis digunakan untuk menekan biaya operasional.

“Tentu kita akan memaksimalkan utilisasi kapasitas kita untuk mencapai target produksi,” ujarnya.

Efisiensi antara lain dilakukan melalui optimalisasi energi pada smelter feronikel Pomalaa. Perusahaan juga menerapkan pemeliharaan prediktif untuk mengurangi waktu berhentinya operasi.

“Dari sisi operasional dan keuangan, sinergi yang terus dilakukan antara unit-unit bisnis ini sangat membantu untuk menekan biaya,” kata Ihsan.

Kas Antam Rp9,23 Triliun

Antam mencatat kas dan setara kas Rp9,23 triliun pada akhir semester pertama 2026. Total aset mencapai Rp61,27 triliun dengan ekuitas Rp38,53 triliun.

Utang berbunga tercatat sekitar Rp5,74 triliun. Sementara arus kas bersih dari kegiatan operasi mencapai sekitar Rp4,2 triliun.

Posisi keuangan tersebut dinilai memberi ruang bagi perseroan untuk membiayai kebutuhan operasi dan proyek pengembangan, termasuk penguatan rantai hilirisasi mineral.

“Ke depannya perseroan akan terus berkomitmen menjaga profil keuangan yang sehat dan memberikan nilai tambah optimal bagi seluruh pemegang saham,” ujar Arini.

Bagi Kalimantan Barat, ukuran keberhasilan bisnis bauksit tidak hanya terletak pada jutaan ton batuan yang dikeluarkan dari tambang. Nilai sesungguhnya ditentukan oleh seberapa jauh bauksit tersebut diolah, menciptakan pekerjaan, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat di daerah penghasil.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Hilirisasi bauksit Kalbar industri alumina Indonesia produksi bauksit Antam laba bersih Antam SGAR Mempawah