Kapasitas Aluminium Inalum Naik Tiga Kali Lipat, Ditopang Smelter di Mempawah

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 22:57 WIB
INVESTASI: Fasilitas smelter alumina milik PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah pada malam hari. Keberadaan smelter ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat hilirisasi bauksit nasional.  (FOTO INALUM)
INVESTASI: Fasilitas smelter alumina milik PT Borneo Alumina Indonesia di Kabupaten Mempawah pada malam hari. Keberadaan smelter ini menjadi salah satu pendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat hilirisasi bauksit nasional.  (FOTO INALUM)

 

PONTIANAK POST — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum membidik peningkatan kapasitas produksi aluminium primer menjadi sekitar 875 ribu ton per tahun. Kapasitas tersebut lebih dari tiga kali lipat dibandingkan produksi saat ini yang mencapai sekitar 275 ribu ton per tahun.

Lompatan kapasitas aluminium Inalum akan ditopang pembangunan Smelter Aluminium 2 berkapasitas sekitar 600 ribu ton per tahun. Proyek ini menjadi bagian dari integrasi industri aluminium nasional yang dimulai dari pengolahan bauksit menjadi alumina di Mempawah, Kalimantan Barat.

Ekspansi tersebut diperkuat dengan rencana pembangunan Smelter-Grade Alumina Refinery 2 atau SGAR 2. Proyek itu akan menambah kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta ton per tahun.

Produksi Aluminium Tembus 875 Ribu Ton

Inalum saat ini mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas sekitar 275 ribu ton per tahun. Kehadiran Smelter 2 akan menambah kapasitas sebesar 600 ribu ton per tahun.

Dengan demikian, total kapasitas aluminium primer diproyeksikan mencapai sekitar 875 ribu ton per tahun. Jumlah tersebut setara 3,18 kali kapasitas saat ini atau bertambah sekitar 218 persen.

Smelter 2 menjadi bagian Proyek Strategis Nasional yang disiapkan untuk memperkuat rantai pasok aluminium domestik. Proyek tersebut juga diharapkan mengurangi ketergantungan Indonesia pada produk aluminium impor.

Mempawah Pasok Alumina

Ekspansi aluminium Inalum berkaitan langsung dengan pengembangan industri alumina di Kabupaten Mempawah. Melalui kepemilikan mayoritas di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Inalum mengoperasikan SGAR 1 berkapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.

Fasilitas tersebut mengolah bauksit domestik menjadi alumina, bahan baku utama untuk memproduksi aluminium. Kehadiran SGAR 1 membuat rantai produksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada alumina impor.

Inalum selanjutnya mengembangkan SGAR 2 dengan kapasitas sekitar 1 juta ton per tahun. Apabila proyek itu beroperasi, kapasitas produksi alumina di Mempawah akan berlipat menjadi sekitar 2 juta ton per tahun.

Hilirisasi Harus Dirasakan Warga

Ekspansi SGAR di Mempawah membuka peluang penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan usaha lokal, dan peningkatan aktivitas ekonomi daerah. Namun, manfaat tersebut perlu diukur melalui jumlah pekerja lokal, belanja kepada pemasok daerah, serta kontribusi terhadap pendapatan pemerintah.

Proyek berskala besar juga membawa konsekuensi lingkungan dan sosial. Pengelolaan limbah, kebutuhan energi, penggunaan air, serta dampak terhadap masyarakat sekitar harus disampaikan secara terbuka.

[Masukkan jumlah tenaga kerja Kalimantan Barat yang terserap di SGAR 1 dan proyeksi kebutuhan pekerja SGAR 2.]

Inalum Raih Peringkat BBB

Rencana ekspansi itu berlangsung ketika Inalum memperoleh peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings. Laporan pemeringkatan tersebut diterbitkan pada 7 September 2026.

S&P menilai Inalum memiliki posisi strategis dalam Grup MIND ID dan memperoleh dukungan kuat pemerintah melalui induk holding pertambangan tersebut. Perusahaan juga dipandang berperan penting dalam hilirisasi bauksit dan pengembangan rantai nilai aluminium nasional.

Peringkat BBB- merupakan tingkat terendah dalam kategori layak investasi atau investment grade. Peringkat itu menunjukkan kemampuan memenuhi kewajiban keuangan, tetapi perusahaan tetap menghadapi risiko akibat perubahan kondisi ekonomi.

Ekspansi Butuh Disiplin Keuangan

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan peringkat tersebut menjadi pengakuan sekaligus tanggung jawab bagi perusahaan. Inalum berjanji menjaga fundamental bisnis di tengah kebutuhan pendanaan proyek hilirisasi pada 2026–2029.

“Di tengah agenda ekspansi dan hilirisasi, kami akan memastikan pertumbuhan tidak hanya mengejar skala, tetapi tetap dibangun di atas fundamental operasional yang kuat, disiplin finansial, dan tata kelola yang baik,” kata Melati dalam keterangan resmi, Jumat (11/9).

Peringkat internasional itu melengkapi penguatan profil kredit Inalum di dalam negeri. Pada Agustus 2026, Pefindo menaikkan peringkat perusahaan dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable.

Energi Hidro Tekan Biaya

Inalum mengandalkan pasokan pembangkit listrik tenaga air untuk mendukung operasi smelter. Energi hidro dinilai membantu perusahaan menekan biaya produksi sekaligus mengurangi intensitas emisi karbon.

Integrasi bahan baku domestik dan pasokan energi yang stabil menjadi kekuatan kredit Inalum. Faktor tersebut memberikan daya tahan ketika harga aluminium global berfluktuasi.

Meski demikian, klaim pengurangan emisi memerlukan ukuran yang transparan. Inalum perlu memublikasikan intensitas emisi per ton aluminium dan membandingkannya dengan smelter berbasis energi fosil.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Smelter Aluminium 2 alumina Kalimantan Barat peringkat kredit Inalum Hilirisasi Bauksit SGAR Mempawah