Indonesia Harus Cari Mitra untuk Olah Logam Tanah Jarang

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 23:02 WIB
Ilustrasi Skandium. Logam langka ini disebut memiliki potensi besar untuk merevolusi industri energi bersih. (GEMINI AI)
Ilustrasi Skandium. Logam tanah jarang dari limbah bauksit ini disebut memiliki potensi besar untuk merevolusi industri energi bersih. (GEMINI AI)

 

PONTIANAK POST — Indonesia harus mencari mitra teknologi logam tanah jarang untuk mempercepat pembangunan industri mineral strategis. Kemitraan diperlukan karena Indonesia belum sepenuhnya menguasai teknologi pemisahan 17 unsur logam tanah jarang hingga menjadi unsur tunggal atau single element.

Badan Industri Mineral (BIM) menilai kerja sama dengan penyedia teknologi menjadi jalur cepat untuk mengejar ketertinggalan. Tanpa teknologi pemisahan, potensi mineral Indonesia sulit diolah menjadi bahan bernilai tinggi bagi industri kendaraan listrik, energi bersih, elektronik, dan pertahanan.

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi mengatakan pengembangan teknologi secara mandiri tetap dilakukan. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu panjang sehingga harus berjalan bersamaan dengan pencarian mitra.

Cari Jalur Cepat

“Yang harus kita lakukan adalah percepatan melalui jalur fast track dengan bermitra dengan sejumlah technology provider,” kata Yogi dalam acara Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) di Jakarta, Kamis (10/9).

Pada saat yang sama, BIM dan Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) akan membangun industri logam tanah jarang di dalam negeri. Strategi ganda tersebut diharapkan mempercepat transfer teknologi tanpa menghentikan pengembangan kemampuan nasional.

Pemisahan 17 Unsur Rumit

Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur dengan sifat kimia yang hampir serupa. Kemiripan karakter tersebut membuat proses pemisahan dan pemurnian menjadi unsur tunggal sangat rumit.

Setiap unsur memiliki kegunaan berbeda. Beberapa di antaranya dibutuhkan untuk membuat magnet permanen berkekuatan tinggi yang digunakan pada kendaraan listrik, turbin angin, perangkat elektronik, dan peralatan pertahanan.

Karena itu, kepemilikan bahan baku saja tidak cukup. Negara yang menguasai ekstraksi, pemisahan, pemurnian, dan manufaktur produk akhir akan memperoleh nilai ekonomi serta posisi strategis lebih besar.

Indonesia Belum Masuk Peta Cadangan

Indonesia memiliki sejumlah sumber potensial logam tanah jarang, baik dari endapan primer, material sekunder, maupun limbah elektronik. Namun, potensi tersebut masih dalam tahap survei dan eksplorasi.

Yogi mengatakan Indonesia belum tercantum dalam peta global sumber daya dan cadangan logam tanah jarang. Pemerintah masih menyiapkan tenaga ahli kompeten atau competent person untuk memverifikasi jumlah sumber daya dan cadangan.

Ketiadaan data terverifikasi membuat pembangunan industri belum dapat disusun hanya berdasarkan perkiraan potensi. Kepastian volume, kadar, persebaran, dan kelayakan ekonominya dibutuhkan sebelum investasi berskala besar dilakukan.

Mitra Harus Membawa Teknologi

Kemitraan dengan perusahaan asing atau penyedia teknologi perlu dirancang untuk meningkatkan kemampuan tenaga ahli Indonesia. Kerja sama tidak cukup hanya menghadirkan fasilitas produksi dan modal.

Alih teknologi, pelatihan pekerja, pelibatan lembaga riset, serta penggunaan pemasok domestik perlu menjadi bagian perjanjian. Langkah itu penting agar Indonesia mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologinya sendiri.

Penguasaan teknologi juga menentukan seberapa besar manfaat hilirisasi dirasakan masyarakat. Industri baru diharapkan membuka pekerjaan berketerampilan tinggi, bukan sekadar menjadikan Indonesia pemasok bahan baku.

Bangun Ekosistem dari Hulu

Yogi mengatakan industri logam tanah jarang membutuhkan ekosistem terintegrasi. Ekosistem tersebut meliputi kepastian bahan baku dan cadangan, kesiapan teknologi, fasilitas pemisahan, serta industri pengguna di hilir.

Produk antara juga harus memiliki pembeli yang jelas. Tanpa industri hilir seperti pabrik magnet permanen, material hasil pemisahan berisiko kembali diekspor sebelum menghasilkan nilai tambah maksimal.

Menurut Yogi, persaingan global mineral strategis tidak lagi ditentukan oleh banyaknya sumber daya. Persaingan bergeser pada kemampuan negara mengamankan rantai pasok dan menguasai teknologi pengolahan.

Jaga Lingkungan dan Masyarakat

Pengolahan logam tanah jarang dapat menghasilkan residu yang memerlukan penanganan ketat. Pembangunan industri karena itu harus disertai teknologi pengelolaan limbah dan sistem pemantauan lingkungan yang transparan.

Masyarakat di sekitar wilayah tambang dan fasilitas pengolahan perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan. Informasi mengenai dampak lingkungan, kebutuhan lahan, penggunaan air, serta manfaat ekonomi harus disampaikan secara terbuka.

Hilirisasi logam tanah jarang diharapkan mendukung industri kendaraan listrik, turbin angin, energi bersih, elektronik, dan pertahanan. Namun, target itu baru dapat dicapai apabila Indonesia memiliki cadangan terverifikasi, mitra yang tepat, dan kemampuan teknologi yang terus tumbuh di dalam negeri.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Hilirisasi logam tanah jarang teknologi pemisahan REE cadangan mineral Indonesia pabrik magnet permanen industri mineral strategis