PONTIANAK POST - Kabar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia soal perusahaan aluminium Rusia, United Company Rusal (UC Rusal), yang bakal bangun pabrik hilirisasi bauksit menjadi alumina di Kalimantan sebenarnya bukan cerita baru.
Ini janji lama yang sempat menghilang lebih dari satu dekade sebelum akhirnya kembali mencuat pekan ini.
2014: Janji Pertama yang Menguap
Rekam jejak Rusal di Kalimantan sudah tercatat sejak Februari 2014.
Baca Juga: Produksi Bauksit ANTAM Tembus 1,3 Juta Ton Basah, Hilirisasi di Mempawah Perbesar Nilai Tambah
Merujuk laporan Antara (26/2/2014) saat itu, Rusal (produsen aluminium berskala global asal Rusia) menandatangani nota kesepahaman dengan PT Arbaya Energi.
Ia bagian dari Satmarindo Group, untuk mendorong eksplorasi dan penambangan bauksit serta produksi alumina di Kalimantan Barat.
Penandatanganan dilakukan langsung oleh CEO UC Rusal saat itu, Oleg Deripaska, bersama Direktur Utama PT Arbaya Energi, Suryo Bambang Sulisto, dalam kerangka kerja sama Pemerintah Rusia dan Indonesia di bidang perdagangan, ekonomi, dan teknik.
Setelah penandatanganan itu, proyek tak kunjung berlanjut ke tahap konstruksi.
Baca Juga: Bauksit Tembus 17,76 Juta Ton: Kalbar Jadi Tumpuan Hilirisasi Alumina dan Aluminium Nasional
Februari 2026: Sinyal Muncul Kembali
Belasan tahun kemudian, minat Rusal terhadap Kalimantan kembali muncul ke permukaan.
Pada laporan Antara (27/2/2026), dalam kunjungan delegasi Rusia ke Kalimantan Barat awal 2026, perwakilan Rusal, Aleksey Mirskiy, menawarkan investasi pembangunan pabrik pengolahan aluminium di provinsi Kalimantan Barat.
Tawaran ini datang bersamaan dengan minat investor Rusia lain di sektor energi nuklir yang turut hadir dalam kunjungan itu.
September 2026: Izin Hampir Final
Momentum itu akhirnya berlanjut. Bahlil mengonfirmasi di Jakarta, Jumat (11/9/2026), bahwa proses perizinan proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina oleh Rusal di Kalimantan kini sudah mendekati tahap final.
“Mereka akan membangun hilirisasi dari bauksit untuk menjadi alumina. Dan itu di daerah Kalimantan,” kata Bahlil, sebagaimana dikutip Antara (11/9).
Ia menegaskan pemerintah berkolaborasi dalam pengembangan proyek, sementara Rusal akan bekerja sama dengan pelaku usaha dalam negeri, meski nama mitra lokalnya belum diungkap.
Baca Juga: Dari Tanah Merah ke Industri Aluminium: Masa Depan Hilirisasi Bauksit di Kalimantan Barat
Rencana investasi ini sebelumnya juga disinggung Presiden Prabowo Subianto dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026.
Prabowo menyebut Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan fasilitas pengolahan bersama kelompok usaha dalam negeri.
Bagian dari Ambisi Hilirisasi Rp618 Triliun
Proyek ini sejalan dengan program pemerintah memperkuat hilirisasi mineral nasional.
Kementerian ESDM mencatat pemerintah menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional pada 2026, dengan total nilai investasi sekitar Rp618 triliun, mencakup komoditas strategis termasuk bauksit dan nikel.
Baca Juga: Terbaru, Kejagung Sita Aset Rp338 Miliar Milik Aseng, Jejak Bauksit PT QSS Makin Terbuka
Bahlil belum bersedia membeberkan besaran investasi khusus untuk proyek Rusal ini karena studi kelayakan (feasibility study) masih perlu dirampungkan terlebih dahulu.
Sebagai gambaran kesiapan ekosistem hilirisasi bauksit nasional, Indonesia saat ini sudah mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas produksi satu juta ton alumina per tahun.
Editor : Khoiril Arif Ya'qob