PONTIANAK POST — Inovasi pertanian mulai menunjukkan hasil nyata di Kalimantan Timur. Penerapan sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) dan teknologi pertanian digital meningkatkan produktivitas padi hingga 44,8 persen.
Hasil itu diperoleh dari demonstrasi plot atau demplot milik Gapoktan Mandiri di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Produktivitas gabah meningkat dari 4,8 ton menjadi 6,95 ton per hektare.
Artinya, terdapat tambahan produksi sekitar 2,15 ton gabah dari setiap hektare sawah. Inovasi tersebut juga menghemat waktu kerja petani dalam pemupukan dan pengendalian hama.
Delapan Jam Menjadi 10 Menit
Penggunaan drone sprayer mampu memangkas waktu pemupukan dan penyemprotan pestisida secara drastis. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan enam hingga delapan jam per hektare kini dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 10 menit.
Jika dibandingkan dengan metode sebelumnya, waktu kerja berkurang sekitar 97–98 persen. Teknologi tersebut memungkinkan pekerjaan dilakukan lebih cepat dan merata, sekaligus mengurangi paparan langsung petani terhadap bahan semprot.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, inovasi tidak hanya menaikkan hasil panen, tetapi juga mempercepat proses budidaya dan menekan biaya.
“Penerapan teknologi pertanian tersebut tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga menekan biaya dan mempercepat proses budidaya,” kata Jajang saat panen di Anggana, Kamis (10/9).
Program tersebut merupakan kolaborasi BI Kaltim, pemerintah daerah, akademisi, dan kelompok tani. Teknologi diterapkan sejak pembibitan, pemupukan, pengendalian hama, hingga penyemprotan.
Kurangi Ketergantungan Pupuk Kimia
LEISA merupakan sistem pertanian yang mengoptimalkan sumber daya lokal. Pendekatan ini dirancang agar petani tidak terlalu bergantung pada pupuk, pestisida, dan input lain yang harus didatangkan dari luar.
Penggunaan pupuk organik menjadi salah satu bagian penting dalam demplot. Bahan organik dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Teknologi digital kemudian membantu menentukan waktu dan cara penerapan input secara lebih presisi. Dengan begitu, penggunaan pupuk dan pestisida dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
Jajang menilai produktivitas 6,95 ton per hektare menunjukkan metode tersebut berpotensi diterapkan di sentra pertanian lain di Kaltim. Capaian demplot juga jauh di atas produktivitas rata-rata padi Kaltim pada 2023 yang sebesar 3,9 ton gabah kering giling per hektare.
Air Masih Menjadi Tantangan
Meski memberikan hasil tinggi, penerapan teknologi belum menyelesaikan seluruh persoalan pertanian. Ketersediaan air masih menjadi tantangan utama, terutama ketika kemarau mengganggu pengairan sawah.
Teknologi penyemprotan dan pemupukan dapat meningkatkan efisiensi. Namun, produktivitas tetap bergantung pada kecukupan air, kondisi jaringan irigasi, kualitas benih, dan kemampuan petani mengoperasikan peralatan.
Karena itu, replikasi sistem LEISA dan pertanian digital perlu disertai penguatan irigasi serta pendampingan bagi kelompok tani. Ketersediaan operator drone dan biaya pemeliharaan alat juga perlu diperhitungkan.
Penerapan LEISA dan drone sprayer disebut mampu menekan biaya budidaya, tetapi BI Kaltim belum memublikasikan perbandingan biaya produksi per hektare sebelum dan setelah teknologi digunakan. Efisiensi yang telah terukur baru pada waktu kerja. Pemupukan dan penyemprotan yang sebelumnya membutuhkan enam hingga delapan jam per hektare dapat diselesaikan sekitar 10 menit atau lebih cepat 97–98 persen. Penghitungan penghematan nominal masih memerlukan data upah tenaga kerja, biaya sewa drone, pupuk, pestisida, bahan bakar, dan frekuensi penyemprotan dalam satu musim tanam.
Sebagai gambaran pasar, biaya jasa penyemprotan menggunakan drone di sejumlah daerah berkisar Rp150 ribu–Rp250 ribu per hektare, sedangkan penyemprotan manual sekitar Rp300 ribu–Rp500 ribu. Namun, kisaran tersebut bukan data demplot Anggana sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan besaran penghematan petani Gapoktan Mandiri tanpa verifikasi lapangan.
Didorong Keluar dari Lahan Percontohan
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji meminta hasil inovasi tersebut tidak berhenti pada proyek percontohan. Metode yang terbukti meningkatkan produktivitas perlu diperluas ke sentra-sentra produksi padi.
“Peningkatannya sangat luar biasa. Ketika produksi sekarang minimal empat ton per hektare, kalau bisa nanti minimal tujuh ton per hektare,” katanya.
Seno mengatakan, Kaltim memiliki sekitar 28.000 hektare sawah aktif. Hingga Agustus 2026, produksi gabah kering panen disebut telah melampaui 200 ribu ton.
Pemerintah provinsi menargetkan penambahan sekitar 12.000 hektare sawah baru. Jika target tercapai, luas sawah aktif Kaltim diproyeksikan menjadi sekitar 40.000 hektare pada 2027.
Penambahan lahan perlu berjalan bersama peningkatan produktivitas. Tanpa teknologi, irigasi, dan pendampingan, perluasan sawah belum tentu menghasilkan kenaikan produksi yang sebanding.
Sebaliknya, apabila produktivitas demplot dapat dijaga mendekati tujuh ton per hektare, inovasi tersebut berpotensi memperkuat pasokan beras sekaligus meningkatkan hasil yang diterima petani.
Keberhasilan di Anggana menjadi bukti awal bahwa digitalisasi pertanian bukan sekadar penggunaan alat modern. Teknologi baru memberi manfaat ketika mampu memperpendek waktu kerja, menekan ketergantungan input, dan menghasilkan lebih banyak gabah dari lahan yang sama.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro