Investasi Awal USD 60 Juta, Pasir Silika Kalbar Bakal Menjadi Bahan Baku PLTS

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 23:13 WIB
Ilustrasi tambang pasir silika di Kalimantan Barat.
Ilustrasi tambang pasir silika di Kalimantan Barat.

 

PONTIANAK POST — Kalimantan Barat berpeluang masuk ke rantai pasok industri energi surya. Pasir silika berkualitas tinggi dari operasi pertambangan PT ESCO Mineral Indonesia di Kalbar dipertimbangkan menjadi bahan baku proyek panel surya hasil kerja sama perusahaan Indonesia dan China.

Kerja sama tersebut melibatkan PT Solarex Global Energi, anak perusahaan PT ESCO Mineral Indonesia, dan ABES Technology Group Co., Ltd. Nilai investasi tahap awal mencapai USD 60 juta atau Rp1,05 triliun, jika asumsi nilai tukar (kurs) Rp17.500 per dolar AS.

Namun, pemanfaatan silika Kalbar baru masuk dalam rencana tahap kedua. Lokasi fasilitas perakitan, volume bahan baku, daerah operasi tambang, dan potensi penyerapan tenaga kerja belum diumumkan secara terperinci.

Dari Tambang Kalbar ke Panel Surya

PT ESCO bergerak dalam pengembangan dan komersialisasi silika berkadar tinggi dari operasi pertambangannya di Kalbar. Produknya ditujukan untuk industri fotovoltaik, semikonduktor, kaca, dan manufaktur berteknologi tinggi.

Dalam kerja sama tahap kedua, ESCO dipertimbangkan memasok material berkualitas fotovoltaik atau photovoltaic grade yang diolah dari hasil pertambangan di Kalbar.

Tahap tersebut juga mencakup penyediaan teknologi, lahan, kapasitas listrik, dan peralatan untuk memproduksi material berkualitas fotovoltaik.

Jika terealisasi, mineral asal Kalbar tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah. Silika tersebut berpotensi masuk ke industri bernilai tambah tinggi yang mendukung produksi panel surya.

Meski demikian, perusahaan belum memublikasikan kadar kemurnian silika, kapasitas produksi, lokasi pengolahan, dan bentuk hilirisasi yang akan dilakukan di Kalbar.

Awali dengan Perakitan Modul

Tahap pertama kerja sama difokuskan pada pembangunan fasilitas perakitan modul panel surya di Indonesia. Fasilitas tersebut akan menggunakan teknologi panel surya generasi kedua yang telah tersedia secara komersial.

Direktur PT Solarex Global Energi Alexander Gevanno dan CEO ABES Technology Group Victor Cheung menandatangani perjanjian tersebut di Hong Kong pada Senin (31/8).

Penandatanganan disaksikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun serta Konsul Jenderal RI untuk Hong Kong dan Makau Andi Ardiansyah.

ABES akan menyediakan teknologi, keahlian teknis, mesin, peralatan, dan pendanaan. Sementara mitra Indonesia menangani perizinan, distribusi, pengembangan komersial, serta pasar domestik.

Pengembangan teknologi turut melibatkan HKTECH SOLAR, perusahaan yang bergerak dalam pengembangan teknologi panel surya generasi berikutnya.

Indonesia Dibidik Menjadi Basis Ekspor

Djauhari mengatakan, investasi tersebut diharapkan memperkuat pemanfaatan energi baru dan terbarukan sekaligus meningkatkan ekspor Indonesia.

“Kerja sama investasi ini diharapkan berkontribusi terhadap target pemanfaatan energi baru dan terbarukan, khususnya panel surya,” katanya.

Menurut dia, Indonesia juga diarahkan menjadi basis produksi panel surya untuk pasar ekspor. Keberadaan sumber bahan baku di dalam negeri dapat menjadi bagian penting dari pengembangan industri tersebut.

ABES Technology Group merupakan perusahaan yang didirikan di Hong Kong dan bergerak dalam desain serta manufaktur catu daya. Produknya digunakan pada sektor industri, medis, telekomunikasi, dan bidang lainnya. 

Peluang Hilirisasi bagi Kalbar

Masuknya silika Kalbar dalam rencana kerja sama membuka peluang hilirisasi mineral nonlogam. Nilai tambah berpotensi meningkat apabila proses pemurnian dan pengolahan dilakukan dekat dengan sumber bahan baku.

Peluang tersebut juga dapat menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja, jasa logistik, energi, laboratorium, dan industri pendukung. Namun, manfaat ekonomi bagi Kalbar bergantung pada lokasi fasilitas pengolahan dan struktur rantai pasok yang akhirnya dipilih investor.

Apabila silika hanya dikirim ke fasilitas di luar Kalbar, manfaat langsung bagi daerah dapat terbatas pada aktivitas pertambangan dan pengangkutan. Dampaknya akan berbeda jika pemurnian atau produksi material fotovoltaik dibangun di dalam provinsi.

Karena itu, kepastian lokasi proyek, kapasitas produksi, status perizinan tambang, serta komitmen pengolahan di daerah menjadi informasi penting yang harus dibuka kepada publik.

Lingkungan Tak Boleh Diabaikan

Pengembangan silika untuk energi bersih tetap memiliki dampak pada wilayah pertambangan. Pembukaan lahan, penggunaan air, debu, limbah pengolahan, dan reklamasi perlu diawasi sejak tahap awal.

Label energi hijau pada produk akhir tidak otomatis membuat proses pengambilan bahan bakunya bebas dari risiko lingkungan. Hilirisasi harus berjalan bersama transparansi izin, perlindungan masyarakat sekitar, dan pemulihan lahan.

PT ESCO Mineral Indonesia belum membuka lokasi dan luas izin pertambangan silikanya di Kalimantan Barat. Kapasitas cadangan, kadar kemurnian SiO₂, nomor IUP, dokumen lingkungan, serta rencana reklamasi juga belum tercantum dalam keterangan resmi mengenai kerja sama tersebut.

Informasi yang telah dikonfirmasi baru menyebut silika berkadar tinggi dari operasi perusahaan di Kalbar dipertimbangkan sebagai bahan baku berkualitas fotovoltaik pada tahap kedua proyek. Karena itu, potensi hilirisasi dan dampak lingkungannya belum dapat diukur sebelum perusahaan serta Dinas ESDM Kalbar membuka data perizinan dan rencana produksinya.

Sejalan dengan Target PLTS Nasional

KJRI Hong Kong menilai kerja sama tersebut sejalan dengan program pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya nasional sebesar 100 gigawatt peak atau GWp.

Tahap awal program disebut mencakup 14 proyek dengan kapasitas sekitar 5,3 GWp. Model pengembangannya meliputi PLTS darat, terapung, dan bentuk pemasangan lainnya.

Kebutuhan investasi program secara keseluruhan diperkirakan mencapai USD 73 miliar. Proyek awal disebut tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.

Kalbar belum masuk daftar lokasi 14 proyek awal tersebut. Posisi provinsi ini dalam kerja sama justru berada pada peluang penyediaan bahan baku silika untuk industri panel surya.

Peluang itu baru akan memberi nilai tambah besar apabila rencana tahap kedua diwujudkan secara transparan, melibatkan pengolahan di dalam negeri, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Kalbar.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
silika Kalimantan Barat investasi panel surya PT ESCO Mineral Indonesia energi surya Indonesia pasir silika