Prometindo Kawal Logam Tanah Jarang Indonesia, Siapkan Insinyur untuk Hilirisasi

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 00:45 WIB
MINERAL KRITIS: Ketua Umum Prometindo terpilih Muhammad Hanafi menyampaikan arah kepengurusan dalam Kongres Nasional Prometindo 2026 di Jakarta, Sabtu (12/9). Prometindo siap membantu pemerintah merumuskan kebijakan logam tanah jarang dan memperkuat kompetensi tenaga metalurgi. FOTO: ISTIMEWA
MINERAL KRITIS: Ketua Umum Prometindo terpilih Muhammad Hanafi menyampaikan arah kepengurusan dalam Kongres Nasional Prometindo 2026 di Jakarta, Sabtu (12/9). Prometindo siap membantu pemerintah merumuskan kebijakan logam tanah jarang dan memperkuat kompetensi tenaga metalurgi. FOTO: ISTIMEWA

 

PONTIANAK POST – Asosiasi Profesi Metalurgi Indonesia (Prometindo) akan memperkuat keterlibatannya dalam pengembangan logam tanah jarang dan mineral kritis. Organisasi tersebut siap membantu pemerintah merumuskan kebijakan, memperkuat teknologi pengolahan, dan menyiapkan tenaga metalurgi yang dibutuhkan industri.

Komitmen itu disampaikan Ketua Umum Prometindo terpilih periode 2026–2029, Muhammad Hanafi, dalam Kongres Nasional Prometindo 2026 di Jakarta, Sabtu (12/9).

“Nanti, sebagai akhirnya, kami juga akan tetap membantu pemerintah dalam merumuskan pembicaraan-pembicaraan, terutama sekarang sangat banyak di logam tanah jarang, mineral kritis, dan seterusnya,” ujar Hanafi.

Butuh Teknologi dan Tenaga Ahli

Logam tanah jarang menjadi bahan penting bagi berbagai industri teknologi tinggi. Penggunaannya mencakup kendaraan listrik, turbin angin, perangkat elektronik, teknologi digital, hingga industri pertahanan.

Namun, pengembangan komoditas tersebut tidak berhenti pada penemuan cadangan. Indonesia membutuhkan teknologi pemisahan, pemurnian, pengolahan limbah, serta tenaga ahli yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Data resmi terbaru Badan Geologi menunjukkan Indonesia memiliki sumber daya bijih logam tanah jarang (LTJ) sekitar 136,21 juta ton. Kandungan logamnya diperkirakan mencapai 118.650 ton yang tersebar di empat lokasi.

Sebarannya tercatat di Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, dan Sulawesi Barat. Sulawesi Barat menyimpan kandungan logam terbesar, yakni sekitar 85.441 ton, disusul Bangka Belitung 33.206 ton dan Sumatera Utara sekitar 2,39 ton.

Namun, seluruh angka tersebut masih berstatus sumber daya. Badan Geologi belum mencatatnya sebagai cadangan yang telah dinilai layak ditambang secara teknis dan ekonomis.

Wilayah Sumber daya bijih LTJ Kandungan logam LTJ
Sumatera Utara 1.502 ton 2,39 ton
Kepulauan Bangka Belitung 67,13 juta ton 33.206 ton
Sulawesi Barat 67,58 juta ton 85.441 ton
Indonesia 136,21 juta ton 118.650 ton

Tersimpan sebagai Mineral Ikutan

Potensi LTJ Indonesia tidak hanya ditemukan sebagai endapan utama. Sebagian tersimpan sebagai mineral ikutan dalam kegiatan pertambangan timah, bauksit, dan nikel.

Pada pertambangan timah, LTJ terutama terkandung dalam monasit dan xenotim yang ikut terangkat bersama kasiterit. Mineral tersebut banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung dan wilayah jalur timah Indonesia.

Neraca Badan Geologi mencatat sumber daya konsentrat monasit sekitar 6,93 miliar meter kubik dengan kandungan mineral 186.663 ton pada 48 lokasi. Sumber daya konsentrat xenotim tercatat sekitar 6,47 miliar meter kubik dengan kandungan 20.734 ton pada lima lokasi.

Komoditas pembawa LTJ Jumlah lokasi Volume sumber daya Kandungan mineral
Monasit 48 lokasi 6,93 miliar m³ 186.663 ton
Xenotim 5 lokasi 6,47 miliar m³ 20.734 ton

Monasit dan xenotim selama ini dapat berada dalam sisa pengolahan maupun konsentrat timah. Pemanfaatannya membutuhkan pengelolaan khusus karena sebagian material juga mengandung unsur radioaktif seperti torium dan uranium.

Pada pertambangan bauksit dan nikel, unsur tanah jarang dapat ditemukan dalam endapan laterit maupun residu pengolahannya. Potensinya antara lain berada di kawasan bauksit Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau serta wilayah nikel laterit di Sulawesi dan Maluku Utara.

Meski demikian, Badan Geologi belum mencantumkan angka nasional tersendiri mengenai kandungan LTJ sebagai mineral ikutan bauksit dan nikel. Karena itu, besarnya potensi tersebut belum dapat disamakan dengan cadangan yang siap ditambang.

Data itu memperlihatkan tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar menemukan LTJ. Pemerintah masih harus meningkatkan eksplorasi, memastikan keekonomian endapan, mengembangkan teknologi pemisahan, serta mengendalikan limbah dan unsur radioaktif sebelum mineral tersebut dapat diolah dalam skala industri.

Hanafi mengatakan, Prometindo memiliki anggota dari kalangan profesional, peneliti, akademisi, dan mahasiswa. Keberagaman tersebut menjadi modal untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan penelitian serta pendidikan.

“Prometindo harus muncul kembali. Kongres ini adalah momentumnya untuk kami lebih berkiprah kepada kemajuan industri, khususnya industri metalurgi,” katanya.

Jangan Hanya Menjual Bahan Mentah

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menilai profesi metalurgi berperan penting dalam penguatan teknologi dan hilirisasi mineral.

Kemampuan mengolah mineral di dalam negeri dibutuhkan agar Indonesia tidak hanya menjual bahan mentah. Hilirisasi juga diharapkan menghasilkan produk industri, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai ekonomi sumber daya alam.

“Melalui Kongres Nasional 2026 ini, saya berharap Prometindo melahirkan kepemimpinan baru yang visioner serta rekomendasi strategis yang aplikatif bagi negara,” ujar Tri.

Praktisi pertambangan dan alumnus Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Achmad Ardianto, menilai kekayaan bahan baku saja belum cukup untuk membangun industri logam tanah jarang. Indonesia masih membutuhkan teknologi pemisahan yang mampu bekerja secara efisien dan menghasilkan produk dengan tingkat kemurnian sesuai kebutuhan industri.

“Pengembangan potensi logam tanah jarang di Indonesia harus diiringi dengan teknologi terkini,” kata Achmad dalam forum MetConnex 2026 belum lama ini.

Kesulitan muncul karena 17 unsur LTJ mempunyai sifat kimia yang sangat berdekatan. Bijih harus melalui penghancuran, pelindian, pemisahan berulang, pemurnian, hingga pembentukan oksida atau logam dengan kemurnian tinggi.

Proses tersebut dapat menggunakan ekstraksi pelarut dalam puluhan sampai ratusan tahap. Setiap jenis bahan baku juga memerlukan rancangan pengolahan berbeda karena kadar, komposisi, dan mineral pengotornya tidak sama.

Siapkan Insinyur untuk Hilirisasi

Hanafi menempatkan peningkatan kompetensi sumber daya manusia sebagai salah satu agenda utama kepengurusannya. Insinyur metalurgi dinilai tidak cukup hanya menguasai aspek teknis.

Mereka juga membutuhkan kemampuan manajerial dan kepemimpinan agar dapat menempati posisi strategis dalam industri. Kompetensi tersebut semakin penting ketika pengolahan mineral berkembang menuju teknologi yang lebih rumit.

“Kompetensi para insinyur metalurgi bagaimana mencapai tidak hanya kompetensi teknis, tetapi sampai kompetensi untuk memegang top management di suatu industri,” jelas Hanafi.

Prometindo juga akan memperluas hubungan antara perguruan tinggi dan industri. Langkah tersebut diharapkan membuat keahlian lulusan sesuai dengan kebutuhan pembangunan fasilitas pengolahan mineral.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan pentingnya keterkaitan pendidikan tinggi, penelitian, teknologi, dan kebutuhan industri. Keterhubungan tersebut diperlukan agar pengembangan sumber daya manusia dapat mengikuti transformasi industri nasional.

Buka Akses Kerja Lulusan Baru

Selain kompetensi, Prometindo akan mendorong pembukaan lapangan kerja bagi lulusan metalurgi. Organisasi tersebut ingin membantu lulusan baru memperoleh akses lebih luas menuju industri.

“Kami akan berupaya bagaimana membuka lapangan kerja dan mendukung supaya lapangan kerja tersebut bisa dirasakan oleh para insinyur yang baru lulus,” kata Hanafi.

Kongres bertema “Refined Under Pressure: Elevating the Metallurgical Profession for the Next Decade” itu juga menetapkan Helminton sebagai Sekretaris Jenderal Prometindo periode 2026–2029.

Kongres menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penyusunan agenda profesi metalurgi untuk satu dekade mendatang. Selain logam tanah jarang dan mineral kritis, Prometindo akan mengembangkan kompetensi anggota serta mendukung penerapan teknologi baru di industri.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
hilirisasi mineral logam tanah jarang Indonesia mineral kritis Prometindo industri metalurgi