PONTIANAK POST — Ancaman El Nino super di Asia mendorong sejumlah negara memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, gelombang panas, dan gangguan produksi pangan. Tiongkok menjalankan kampanye perlindungan hasil panen, sedangkan Taiwan menggelar simulasi menghadapi suhu hingga 40 derajat Celsius.
Dampak terbesar diperkirakan dirasakan masyarakat berpenghasilan rendah. Produksi beras di Asia Tenggara diproyeksikan turun 8–10 persen sehingga berisiko mengurangi pasokan dan mendorong kenaikan harga pangan.
Tiongkok Gelar Kampanye 100 Hari
Dilansir The Guardian, Jumat (18/9), Pemerintah Tiongkok meluncurkan kampanye 100 hari untuk menghadapi cuaca ekstrem dan melindungi hasil pertanian. Sistem pemantauan dan peringatan dini turut diperkuat.
Sejumlah kota diminta menyusun peta risiko iklim. Pemetaan itu digunakan untuk mengidentifikasi daerah yang rentan terhadap banjir, kekeringan, dan gelombang panas.
Informasi risiko diharapkan membantu pemerintah menentukan lokasi yang membutuhkan perlindungan tanaman, pasokan air, maupun penanganan darurat lebih cepat.
Taiwan Simulasikan Suhu 40 Derajat
Taiwan mengambil langkah berbeda dengan menggelar simulasi selama tiga hari pada awal September. Latihan itu menggunakan skenario suhu ekstrem yang mencapai 40 derajat Celsius.
Simulasi mencakup gangguan pasokan listrik dan air, kendala transportasi kereta, kerusakan sistem pendingin udara, serta penanganan korban sengatan panas.
Latihan tersebut menguji kesiapan layanan publik ketika kebutuhan listrik dan air meningkat bersamaan. Kondisi itu dapat membahayakan kelompok rentan, terutama lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan warga dengan penyakit kronis.
Produksi Beras Terancam Turun
Di Asia Tenggara, ancaman El Nino super berpusat pada ketahanan pangan. Produksi beras kawasan diproyeksikan turun 8–10 persen akibat berkurangnya curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan.
Penurunan produksi dapat memperketat pasokan dan menaikkan harga beras. Negara yang mengandalkan beras sebagai makanan pokok akan menghadapi tekanan lebih besar apabila produksi domestik dan pasokan regional turun bersamaan.
Rumah Tangga Miskin Paling Tertekan
Pakar iklim dan ketahanan pangan Singapura Elyssa Kaur Ludher mengatakan, Indonesia dan Filipina sangat rentan terhadap perubahan harga pangan. Beras memiliki peran penting dalam konsumsi masyarakat kedua negara.
“Indonesia dan Filipina negara yang rentan terhadap perubahan harga pangan. Beras adalah urat nadi kawasan ini,” ujarnya.
Tekanan akan terasa lebih berat bagi rumah tangga yang menghabiskan sedikitnya separuh pendapatannya untuk pangan. Kenaikan harga beras akan mengurangi kemampuan mereka memenuhi kebutuhan lain, termasuk kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal.
Kesiapan Indonesia Dinanti
Ancaman penurunan produksi menuntut langkah antisipasi sebelum kekeringan mencapai puncaknya. Perlindungan sumber air, penyesuaian kalender tanam, bantuan untuk petani, dan pengamanan stok beras menjadi bagian penting dari mitigasi.
Transparansi data stok dan distribusi juga diperlukan untuk mencegah kepanikan pasar. Kebijakan impor, jika diperlukan, harus dihitung tanpa menekan harga gabah petani saat panen.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro