Akhirnya Harga Emas Rebound, Tekanan Membayangi

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 22:42 WIB
ILUSTRASI Pegawai menunjukkan emas Antam yang dijual di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (Antam), Jakarta.
ILUSTRASI Pegawai menunjukkan emas Antam yang dijual di Butik Emas Logam Mulia PT. Aneka Tambang (Antam), Jakarta.

 

PONTIANAK POST — Harga emas pekan depan masih berpotensi tertekan meski XAU/USD rebound lebih dari 2 persen dalam beberapa hari terakhir. Secara teknikal, tren harian logam mulia tersebut dinilai belum keluar dari kecenderungan bearish.

Pergerakan dolar Amerika Serikat, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan arah kebijakan Federal Reserve akan menjadi penentu. Di pasar domestik, harga emas Antam justru menguat menjadi Rp2.623.000 per gram pada Jumat (18/9).

Resistance USD4.357 Jadi Penentu

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, harga emas dunia tertahan di sekitar resistance pertama pada USD4.357 per troy ounce. Level tersebut menjadi batas penting untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.

“Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas zona resistance kuat USD4.357–USD4.403, tekanan bearish masih berpotensi berlanjut,” kata Geraldo, Jumat (18/9).

Jika gagal menembus zona itu, XAU/USD berpeluang kembali melemah. Support terdekat berada di USD4.282 per troy ounce.

Level teknikal Harga
Resistance pertama USD4.357
Resistance berikutnya USD4.403
Support terdekat USD4.282

Dolar Melemah, Emas Rebound

Harga emas sempat pulih lebih dari 2 persen ketika dolar AS, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun, dan harga minyak melemah. Kondisi itu mengurangi tekanan terhadap logam mulia.

Emas umumnya mendapat ruang menguat ketika dolar dan imbal hasil obligasi turun. Namun, pemulihan beberapa hari belum cukup untuk mengubah tren harian yang lebih besar.

“Penurunan dolar, yield US Treasury, dan harga minyak membantu mengurangi tekanan terhadap emas,” jelas Geraldo.

Kebijakan The Fed Membatasi Penguatan

Dari sisi fundamental, Federal Reserve baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Sinyal kebijakannya juga masih ketat karena 16 dari 18 pembuat kebijakan memproyeksikan sedikitnya satu kenaikan tambahan hingga akhir 2026.

Kenaikan suku bunga dapat memperkuat dolar dan mendorong imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut biasanya mengurangi daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan bunga.

“Fokus pasar pekan depan akan tertuju pada keseimbangan antara sentimen hawkish The Fed, perkembangan dolar AS, serta yield US Treasury. Jika dolar dan yield kembali meningkat, tekanan bearish terhadap emas dapat semakin besar,” ujar Geraldo.

Emas Antam Naik Rp31 Ribu

Pergerakan emas Antam menunjukkan arah berbeda dalam jangka pendek. Berdasarkan laman resmi Logam Mulia, harga emas batangan ukuran satu gram berada di Rp2.602.000 pada awal pekan.

Harga turun menjadi Rp2.592.000 pada 16 September. Namun, pada Jumat (18/9), harganya melonjak menjadi Rp2.623.000 per gram.

Dengan demikian, emas Antam naik Rp31.000 atau sekitar 1,2 persen dari posisi terendah pekan tersebut. Dibandingkan awal pekan, kenaikannya mencapai Rp21.000 per gram.

Periode Harga emas Antam 1 gram
Awal pekan Rp2.602.000
16 September Rp2.592.000
18 September Rp2.623.000

Perubahan harga jual belum langsung mencerminkan keuntungan pemilik emas. Masyarakat perlu memperhitungkan harga pembelian kembali atau buyback, pajak, dan selisih harga transaksi.

Investor Perlu Mencermati Volatilitas

Perbedaan arah antara emas dunia dan Antam dapat dipengaruhi nilai tukar rupiah serta kebijakan harga di pasar domestik. Karena itu, kenaikan harga Antam tidak selalu bergerak sama besar atau searah dengan XAU/USD.

Analisis teknikal tersebut merupakan proyeksi, bukan kepastian. Investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan kemampuan menanggung risiko.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
harga emas pekan depan harga emas dunia XAU/USD suku bunga The Fed emas antam